Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Maret 2013

Hasil Karya Ponakan

Ada banyak hal menarik yang bisa muncul dari apapun dan siapapun. Salah satu hal menarik yang saya temukan adalah hasil karya tulis dan gambar ponakan saya yang masih sekarang berusia 8 tahun. Sekarang dia ada di kelas 2 SD. Mungkin ini masa dimana dia belajar menulis dan membaca. Setiap hari Selasa dan Kamis dia akan berkunjung ke rumah, biasanya sih dia menghabiskan waktunya dengan bermain, bermain dengan imajinasinya sendiri tentunya, atau dia melakukan kegiatan seperti menggambar atau apapun. Kali ini dia menulis, mungkin karena dia melihat saya sedang mengetik mengerjakan tugas di laptop, maka dia tertarik untuk menulis. Sebelum ini dia pernah, menggambar, gambar pensil yang sangat sederhana tentunya. Dia menggambar seekor kucing yang sedang berada di halaman, dan anehnya hari ini dia menulis tentang kucing. Apakah dia tertarik dengan kucing entahlah, tapi yang membuat saya tertarik adalah bahwa ruang imajinasi anak-anak kadang tak terduga. Saya melihatnya dari gambar yang dibuatnya dan tulisan yang dia hasilkan, tampaknya sederhana memang, namun sarat dengan "sesuatu". Berikut foto-foto gambar yang dia buat, dan tulisannya. 





Dia membuat tulisan itu tidak dalam bentuk paragraf, tetapi menjadi sebuah daftar dari 1-40. Saya akan menulis ulang ceritanya dengan format yang sama.

Pergi ke Toko Kucing

  1. ada seorang yang bernama nayo dan eki
  2. mereka pergi ketoko kucing
  3. membeli kucing eki beli ku
  4. cing bernama anggora nayo beli
  5. kucing bernama persia sama
  6. tempat makanannya sama
  7. beli makanannya sama kandang
  8. nya mereka pulang mereka
  9. langsung menaro makanan
  10. nya sama ada tempat pupnya
  11. kucingnya juga ditaro dikan
  12. dangnya mereka bermain
  13. dengan kucingnya kucingnya
  14. juga dimandikan mereka sangat
  15. senang mempunyai kucing
  16. hari saptunya mereka
  17. pergi ke toko kucing
  18. lagi kucing anak mere
  19. ka beli kucing anaknya 1000
  20. mere sangat senang 
  21. mempunyai kucing banyak
  22. hari minggunya beli kucing 
  23. lagi 200 rubu mereka
  24. sangat senang mereka ber
  25. main kucing lagi kucing
  26. nya terus dimandikan
  27. terus juga dimakaninnya
  28. terus semua kucing
  29. nya sudah besar
  30. mereka sangat
  31. senang kucing-kucingnya
  32. besar terus kucing
  33. yang dua puluh nya mati
  34. terus nayo dan eki sedih
  35. mereka terus mengu
  36. bur kucing itu
  37. mereka terus mengelus 
  38. kucing yang belum mati
  39. mereka bermain lagi dengan
  40. kucingnya

Demikian kisah Pergi ke Toko kucing . . . .

Minggu, 13 Januari 2013

Cehara Vivlio Maya, Sebuah Cerita Pendek

"Huh . . kok dia jadi rewel banget sih sekarang." gerutuku sambil terus memandanginya, dan memikirkan jawaban apa yang harus kuberikan padanya. 
"Oke, hari ini tidak ada kejadian apapun yang menarik. apa kamu sekarang puas ?". 
tidak ada respon apapun darinya, dia hanya bergeming dan beberapa saat kemudian dia pun bertanya kembali, "Bagaimana keadaannya, Putra?"
"Apa??!! dia bertanya lagi hal yang tidak penting, dan bahkan dia tidak merespon tanggapanku pada pertanyaannya sendiri sebelumnya." batinku, dengan terus menggerutu. aku pun mulai muak dan meninggalkan dirinya tanpa sepatah kata pun. kumatikan lampu kamarku, kurebahkan tubuhku di atas kasur dan beberapa saat kemudian aku pun terlelap. 

Awan mendung telah menggelayut di angkasa yang sesekali memendarkan cahaya kilat yang malu-malu bersembunyi di baliknya. rintik gerimis mulai jatuh menerpa dinding kaca perpustakaan. Aku hanya duduk termenung melihat dari balik dinding, menatap ke luar dengan sorot mata kosong. Dalam benakku masih terbayang sosok yang telah bersemayam dalam ruang imaji, dia telah menarik perhatianku, membuatku terus berpikir tentangnya. Sudah hampir satu bulan pikiranku tersita olehnya. Banyak pertanyaan yang muncul dalam benakku mengenai dirinya. aku tak pernah bisa menjagkau dan menyentuhnya dan memang tak mungkin bisa, namun dia selalu hadir dalam hari-hariku. Suara hujan yang semakin deras semakin melarutkanku dalam lamunan.

"WOOII!!!", Aku terkejut bukan kepalang  ketika ada yang menoyor kepalaku dari belakang, hingga seketika lamunanku pun terpecah.
"Apaan sih nih, bikin usus gue copot ajaa."  kataku, sambil mengelus-elus dada. 
"Hah?! kok usus sih, jantung kaleee." 
"Lah ya suka-suka gue, kan gue yang kaget." 
"Iya deh iyaa, terseraah elu daah." Ayu menghempaskan tubuhnya ke kursi yang berada di hadapanku, sambil meletakkan tas kresek dengan logo salah satu supermarket ternama, yang entah apa isinya, di atas meja. Kalau ku perhatikan sekilas, isinya tampak seperti sebuah kain, untuk apa dia membawa sebuah kain ke kampus, ah tapi apa perduliku. Tidak kali ini saja Dia membawa barang-barang aneh ke kampus, tempo hari Dia membawa burung hantu dengan sangkar-sangkarnya ke kantin. ketika kutanya untuk apa burung hantu itu dibawanya kemari, dengan entengnya dia hanya menjawab, 
"Mau ngasih makan burung hantu gue, di kantin ini kan banyak tikus kesukaan mon-mon."
mon-mon adalah nama burung hantu kesayangannya. dengan wajah tanpa dosa Ayu melepas burung hantunya begitu saja. Sontak si Mon-mon terbang kesana-kemari mengejar buruannya, dan membuat kacau seluruh kantin, aku hanya bisa menganga dan terbengong melihat kekacauan yang tengah terjadi, dan Ayu dengan masih memasang ekspresi datarnya, memakan  dengan santai indomie rebus milikku, tanpa memperdulikan keributan yang tengah terjadi. Itulah Ayu, perempuan yang selalu mengekspresikan sebuah kritik dengan cara yang 'tidak biasa' kalau tidak bisa dikatakan ekstrim. 
"Kenapa Lu, tampang Lu kusut amat. Ah Gue tau nih pasti Lu masih mikirin si vlio kan?", ya Cehara Vivlio Maya, atau kami lebih sering menyebutnya vlio, ini lah nama sosok yang selalu ada dalam banakku beberapa waktu terakhir ini. Sebenarnya ini bukan nama sesungguhnya, ini adalah nama yang diberikan oleh Ayu kepada sosok yang kumaksud. Ayu mengatakan kalau nama aslinya tidak indah, maka tanpa alasan yang jelas Dia lebih menyukai nama yang Dia ciptakan sendiri. 
"Yaa, begitulah. Akhir-akhir ini tingkahnya semakin membuatku jengkel saja. Sekarang vlio lebih rewel dari sebelumnya." 
"Aaaampuuuun deh Putraa, sampai kapan Lu mau mikirin dia terus. Lu tau kan, mau Lu mikirin dia sampe langit runtuh pun dia ga akan berubah. Lagian dengan Lu mikirin dia terus, Lu tuh udah memperlakukan dia secara berlebihan." Aku hanya bisa menghela nafas mendengar omelan Ayu. Pikiranku pun mulai melayang kepada sosok yang seolah terus bergerak di hadapanku.
"Putra, dengerin gue ya, hubungan Lu sama vlio tuh udah semakin aneh, absurd, tau ga Lu. dia itu sosok yang ga mungkin bisa Lu hadapi seperti orang-orang kaya kita ini. Bahkan Lu ga akan pernah bisa melihat sosoknya dengan jelas. Jadi mulai sekarang Lu harus memperlakukan dia selayaknya dia aja." terlihat Ayu begitu sungguh-sungguh untuk menyakinkan Aku, dapat terlihat dari sorot matanya yang tajam. Aku pun hanya menatap kosong ke arah kresek yang tadi dibawa oleh Ayu, sekilas aku melihat seperti ada yang bergerak dalam kantong itu, tapi aku menghiraukannya, karena pikiranku sekarang tengah tidak berfokus kepada hal-hal di sekitarku. Ayu pun masih melanjutkan ocehannya, mencoba terus menasehatiku.
"Udah saatnya sekarang Lu mencoba untuk lebih memperluas jaringan pertemanan Lu, dan berinteraksi sama banyak orang, jangan si vlio itu lu pikirin terus, bisa gila Lu lama-lama." 
"Hey!! Lu diajak ngomong malah bengong aja sih, Lu ndengerin Gue kan Put", Ayu menjentikkan jarinya di depan wajahku, aku pun tersadar dan hadir kembali dalam ruang realita. 
"Haah, Apa?" tampak oleh Ayu ekspresi kebingungan dalam wajahku. Ayu hanya menggelengkan kepalanya, dan jelas nampak keprihatinan dalam sorot matanya. Kulihat ternyata Ayu sudah beranjak dari kursinya dan menenteng kembali bungkusan kreseknya, dan lagi, sekilas aku melihat ada pergerakan di dalam kantong itu. 
"Udah lah, percuma Gue ngomong ampe berbusa sama Lu. masuk telinga kanan, keluar lagi bareng ama kentut Lu yang bau bangkai." 
"Aah, dasar kelelawar anda!" tukasku. 
 Ayu pun pergi meninggalkan Aku sendiri sambil membawa bungkusan tas kreseknya, yang di kemudian hari aku tahu bukan kain yang ada di dalamnya, tapi seekor ular hijau. Aku mendapat cerita dari kawanku. selepas pertemuanku dengan Ayu di perpustakaan. Ayu mengikuti kelas Pemikiran Politik Kontemporer, dibawalah bungkusan kresek itu kedalam kelas, tanpa sepengetahuan Ayu, ular itu lolos dari tempat persemayamannya dan membuat geger seluruh kelas. Ketika kutanya alasan Ayu membawa ular, dia hanya menjawab,
"Kasihan ulil ditinggal sendiri di rumah, bokap, nyokap lagi pergi ke Jogja soalnya."

Pukul 02.00 dini hari, udara terasa lebih dingin karena seharian hujan terus mengguyur. Aku berbaring di atas kasur, benakku masih berkecamuk memikirkan vlio. Pada awalnya aku mengenal vlio, dia adalah sosok yang kupikir bisa menjadi tempat Aku mencurahkan isi pikiran dan hatiku. dia juga sosok yang sedemikian rupa dapat menghubungkanku dengan orang-orang yang kukenal, ya walaupun secara tidak langsung memang. Sejatinya itu lah sosok vlio yang sebenarnya, dia mencoba mempererat jalinan hubungan orang yang jauh menjadi lebih dekat. Namun kian lama Aku mengenal sosoknya, aku hanya mengunjunginya untuk menumpahkan keluh kesahku. Tidak ada protes darinya, memang begitulah vlio, tetapi dengan caranya sedemikian rupa, dia menyuarakan kembali isi pikiran dan hatiku, kepada orang-orang di sekitarku yang juga terhubung dengannya.Tapi memang begitulah vlio, dia mencoba untuk membantu menyuarakan kembali kegundahan hatiku, tanpa Aku harus khawatir dengan hujatan atau kata-kata nyiyir dari orang-orang di sekitarku. Aku jadi semakin bergantung dan tak bisa lepas darinya. Dia seolah menjadi jerat bagiku, jerat yang justru memberikan kelegaan, jerat yang membuatku semakin menampakkan ego narsistikku, dan seolah tidak dapat terlepas darinya. Semakin lama Aku merasa justru Aku tenggelam dalam dirinya, hanya ada Aku dan dia. Semua yang kuungkapkan padanya hanya tentang Aku, Aku dan Aku. vlio membuatku menjadi egois dalam dirinya, dimana Aku menghiraukan ada ego-ego yang lain dalam diri vlio, yang seharusnya kami saling terhubung, tetapi tampaknya vlio membuat ego-ego itu semakin terpisah satu sama lain dan menjadi dirinya sendiri dalam tubuh vlio, seperti halnya Aku. Aku pun mencoba untuk lepas dari dirinya, dengan tidak berhubungan dengannya selama beberapa waktu. dia tidak protes, dia terus melangkah tanpa perduli apakah aku ada di dalam dirinya atau tidak. sampai suatu ketika aku mengunjunginya lagi, dan melihat kini dia lebih mencoba untuk menjembatani hubungan antar ego-ego dalam dirinya yang mulai terpisah satu sama lain, dengan terus menayakan pertanyaan kepada setiap ego secara personal, 
"Apa kabar, Putra?"
"Apa yang Anda Rasakan, Putra?"
"Apa yang terjadi, Putra?"
"Bagaimana keadaannya, Putra?"
"Ada Kejadian apa, Putra?", vlio terus menanyakan itu, dalam waktu yang sangat singkat, bahkan dia tidak menanggapi jawaban dari pertanyaanya sendiri, dan dia sudah menanyakan hal lainnya. Dia begitu rewel bagiku sekarang. Ini menjadikan dirinya sebagai sosok yang lebih personal, seolah dia ingin menarikku kembali, menginginkan Aku untuk berinteraksi dengannya, hanya dengannya. Hal ini tidak membuatku nyaman. Ditengah kecamuk pikiranku, suara Ayu mengiang dalam telinga, 
". . .Lu harus memperlakukan dia, seperti dirinya aja." petikan, perkataan Ayu melintas begitu saja, dan menyadarkanku. Ayu benar, aku sudah terlalu memperlakukan vlio secara berlebihan. Aku harus memperlakukannya sesuai dengan apa dirinya dia, sesosok penghubung. Aku bangkit dari kasurku, aku berjalan ke arah meja belajarku. Kunyalakan laptopku, kusambungkan koneksi internet dari modem. Dapat kulihat tampilan muka vlio di dalam layar laptopku. kumasukkan username dan passwordku, agar Aku bisa masuk ke dalam dirinya. 
"vlio, Aku datang."  

-TAMAT-



Minggu, 18 November 2012

Bunga Anggrek (Als de Orchideen Bloeien)

Dalam film Soegija ada salah satu lagu yang menarik perhatian saya, yakni lagu Als de Orchideen Bloeien atau dalam terjemahan bebasnya memiliki arti Ketika Bunga Anggrek Berkembang, namun dalam versi bahasa Indonesia lagu ini sering dikenal dengan judul Bunga Anggrek. Saya sangat familiar dengan lagu yang satu ini, karena sewaktu umur saya kurang lebih 3 atau 4 tahun, nenek saya sering menyanyikan atau sekedar menyenandungkan lagu ini, dalam versi bahasa Belanda tentunnya. Ketika itu saya tidak mengerti arti nyayian tersebut, sampai sekarang pun saya masih tidak mengerti arti lagu tersebut dalam bahasa Belanda. Namun karena hampir setiap hari saya mendengarnya, saya pun menjadi menyukainya, dan memiliki kenangan tersendiri yang berhubungan dengan nenek saya. Setelah nenek saya meninggal ketika saya duduk di bangku SMA, lagu itu seolah tidak pernah terdengar lagi oleh saya, sampai muncul dalam film Soegija. Ketika mendengar lagu tersebut seketika seolah saya terhanyut dalam memori masa kecil saya, dan lebih jauh entah kenapa saya pun larut dalam memori masa muda nenek saya, di era tahun 1930-1940an. Terlepas dari itu, lagu ini memang memiliki alunan musik yang indah, yang dapat membawa pendengarnya merasuk dalam sebuah imaji yang syahdu. Karena berbahasa Belanda, saya pikir lagu ini merupakan lagu produk Belanda, ternyata  lagu tersebut di ciptakan oleh seniman Indonesia Ismail Marzuki pada tahun 1939. 





Als de orchideen bloeien,
kom dan toch terug bij mij.
Nogmaals wil ik met je wezen,
zoveel leed is dan voorbij.
Als de orchideen bloein,
ween ik haast van liefdes smart.
Want ik kan niet bij je wezen,
g’lijk weleer, mijn lieve schat.
Reff :
Maar nu been je van een ander.
Voorbij is de romantiek.
Kom 
terug toch  bij mij weder.
Jou wergeten kan ik niet.
Als de orchideen bloeien,
dan denk ik terug aan jou.
Denk toen aan die zoete tijden,
toen je zei: Ik hou van jou.

Selasa, 13 November 2012

Jalanan dan Sudut Kota Purwokerto

Pada saat perayaan Idul Fitri tahun 2012 ini saya berkesempatan dapat mengunjungi kampung halaman saya yang berlokasi di Jawa Tengah, tepatnya di Kabupaten Banyumas. Pusat pemerintahan Kabupaten Banyumas ada di kota Purwokerto, hal ini kadang membingungkan banyak orang karena bagaimana bisa nama Kabupaten berbeda dengan nama tempat pusat pemerintahannya, kalau pusat pemerintahannya di Purwokerto kenapa tidak dinamakan Kabupaten Purwokerto saja, atau kenapa tidak pusat pemerintahannya ya di Banyumas. Tentu ada latar belakang sejarah mengapa bisa terjadi hal tersebut, tetapi karena kali ini saya tidak akan membahas hal tersebut, ya kita terima saja fakta bahwa Kabupaten Banyumas memiliki pusat pemerintahan di Kota Purwokerto. Kawasan Kota Administratif Purwokerto ada di sebelah timur kawasan kabupaten Banyumas, di sebelah utara kota Purwokerto terdapat gunung Slamet, gunung aktif tertinggi di Jawa Tengah dan kedua tertinggi di Pulau Jawa. keberadaan gunung Slamet ini membuat kawasan kota Purwokerto memiliki iklim yang relatif sejuk, meski sekarang banyak orang mengeluhkan kalau kota Purwokerto sudah semakin panas, tapi menurut saya udara dan kesejukan kota Purwokerto masih lebih baik dibandingkan Jakarta dan wilayah sekitarnya. suasana kota Purwokerto juga relatif lebih tenang, tetapi bukan kota yang mati sama sekali. banyak pula orang yang mengatakan kota Purwokerto ini kota para pensiunan, karena suasananya yang tenang memang cocok bagi para pensiunan yang ingin menghabiskan waktu tuanya dengan santai dan rileks. suasana tenang ini dapat terlihat dari aktivitas lalu lintas yang tidak begitu ramai di Purwokerto. 

(Kawasan Jl. Jendral Sudirman, Purwokerto)

(Jl. Jendral Sudirma, tepatnya di Perempatan Palma)

(Jl. Gatot Subroto, kawasan SMA dan SMP Susteran)

Kurang lebih sudah sekitar lima tahun saya tidak tinggal di Purwokerto. ketika kunjungan pulang kampung saya pada waktu lalu, saya menemukan beberapa kawasan jalan yang mengalami perubahan. Salah satunya adalah di kawasan Jalan Dokter Angka, jalan di kawasan ini sebelumnya terbagi menjadi dua, dimana ditengah-tengah sepanjang jalan tersebut terdapat pemisah jalan berupa pohon peneduh. namun sekarang pemisah jalan tersebut telah dibongkar, ya tentunya sekaligus dengan pohon-pohonnya. Kawasan jalan tersebut menjadi terlihat lebih luas dan terbuka. 

(Kawasan Jl. DR. Angka)

(Kawasan Jl. DR. Angka)

(Kawasan Jl. DR. Angka)

(Kawasan Jl. DR. Angka, RS Geriatri Purwokerto)

Meski ada beberapa perubahan, masih banyak kawasan kota Purwokerto yang tidak mengalami perubahan secara signifikan. seperti di kawasan perempatan tugu jam ini, lokasi ini terdapat di Jalan Jendral Sudirman, salah satu jalan Protokol di Purwokerto.

(Perempatan tugu jam, Jl. Jendral Sudirman)

(Tugu Jam, Kawasan jalan protokol Jl. Sudirman)

(Perempatan Tugu Jam, Dari arah Jl. Piere Tendean)

(Jl. Jenderal Sudirman, kawasan arah Pasar Wage)

(Jl. Jenderal Sudirman, tampak di kawasan perempatan Srimaya)

(Jl. Jendral Sudirman, kawasan perempatan Srimaya dari arah Pasar Wage)

(Jl. Jendral Sudirma, menuju arah Pasar Wage)

(Jl. Jendral Sudirma, di kawasan perempatan Pasar Wage)

Salah satu Titik Keramaian di kota Purwokerto dimana masyarakat biasa berkumpul dan menghabiskan waktu senggangnya adalah di kawasan alun-alun Purwokerto. Alun-alun kota Purwokerto memiliki komponen yang relatif sama dengan alun-alun di kota-kota lain terutama di kawasan Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur, dimana ada lapangan terbuka tempat berkumpul masyarakat yang berada di tengah-tengah kawasan alun-alun dan biasanya terdapat pohon beringin dengan jumlah tertentu, kemudian terdapat pusat pemerintahan yang ada di sebelah utara lapangan terbuka, dan di sebelah barat ada tempat peribadatan berupa masjid agung, serta tidak ketinggalan adalah komponen penegakan hukum, untuk di Purwokerto, di sebelah barat alun-alun terdapat Lembaga Pemasyarakatan. Karakteristik ini merupakan karakteristik umum kota-kota di Jawa.
(Kawasan Alun-alun Purwokerto, Jl. Jendral Sudirman)

(Tampak masjid Agung Baitussalam, Jl. Masjid, Purwokerto)

(Kawasan Alun-alun Purwokerto)

(Pendopo Si Panji, Kantor PemKab Banyumas)

(Kawasan Alun-alun Purwokerto)

Ada beberapa gedung yang sudah cukup lama berdiri di kota Purwokerto, bahkan sudah ada semenjak masa kolonial. Purwokerto pada masa kolonial memang sudah menjadi kota yang cukup berkembang. Beberapa bangunan yang ada bahkan telah menjadi bangunan cagar budaya. Di kawasan Jalan Jendral Gatot Subroto terdapat beberapa bangunan tua seperti  rumah dinas bupati yang arsitektur bangunannya masih khas bangunan masa kolonial, gedung ini dahulu adalah gedung Residentwoning atau tempat tinggal Residen Banyumas di Purwokerto. Gedung ini dibangun setelah ada rencana pemindahan ibu kota Banjoemas ke Purwokerto. Gedung ini dirancang oleh sorang arsitek/insinyur dari Belanda bernama Breuning, Hubert Albert (sumber: www.banjoemas.com). gedung ini merupakan gedung termegah di Purwokerto pada masanya. terdapat pula bangunan yang sekarang difungsikan menjadi bangunan sekolah SMA N 1 Purwokerto dan SMA N 2 Purwokerto (dahulu adalah sekolah MULO). Ada pula tugu Pembangunan di tengah simpang tiga antara Jalan Gatot Subroto dan Jalan Merdeka. Di salah satu sudut simpang tiga tersebut juga terdapat bangunan Gereja Kristen Indonesia. Masih di kawasan sepanjang jalan yang sama terdapat pula bangunan tua yang difungsikan sebagai rumah sakit yakni Rumah Sakit Umum Santa Elisabet.


(Gedung Rumah dinas Bupati/ Residentwoning/ eks. Tempat tinggal Residen Banyumas di Purwokerto, Jl. Gatot Subroto)



(Tugu Pembangunan, di kawasan Jl. Gatot Subroto)

(SMA N 2 Purwokerto, Jl. Gatot Subroto)

(SMA N 1 Purwokerto, Jl. Gatot Subroto)

(Gereja Kristen Indonesia, Jl Merdeka dan Jl. Gatot Subroto)


(RS Santa Elisabet, Jl. Gatot Subroto)

Ada satu landmark kota Purwokerto yang tak kalah terkenal, yaitu makam Ragasemangsang, makam Ragasemangsang ini berupa situs makam di tengah jalan kota, lokasinya berada di sebelah timur alun-alun. menurut legenda masyarakat, makam tersebut merupakan makam seorang pencuri/begal yang memiliki ilmu kesaktian. menurut cerita sang pencuri/begal tersebut melakukan adu kesaktian melawan Kiai Pekih, seorang sesepuh kampung wilayah tersebut, dalam adu kesaktian itu sang pencuri/begal kalah, tubuhnya terlempar dan tersangkut di atas sebuah pohon hingga akhirnya tewas, dan sang pencuri/begal itu pun dikuburkan di bawah pohon dimana dia tersangkut, kuburan tersebut ada di dalam sebuah bangunan yang menyerupai sel penjara. Kata tersangkut dalam bahasa jawa Banyumas adalah kemangsang/semangsang dan kata tubuh dalam bahasa jawanya adalah raga, maka kawasan tersebut kemudian diberi nama Ragasemangsang, dan sekarang pun menjadi nama Jalan Ragasemangsang. 

(Monumen Ragasemangsang, Jl. Ragasemangsang)

Kota Purwokerto memiliki Gereja Katedral Katolik yang diberi nama Katedral Kristus Raja, wilayah Keuskupan Purwokerto meliputi umat Katolik Jawa Tengah bagian barat dengan wilayah seluas 15.300 Km2, diantaranya adalah wilayah Banjarnegara, Banyumas, Batang, Kebumen, Pekalongan, Pemalang, Purbalingga, Purworejo, Tegal, Cilacap, dan Wonosobo. Lokasi gereja katedral ini ada di Jalan Gereja.
(Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto, Jl. Gereja)

(Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto, Jl. Gereja)

(Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto, Jl. Gereja)

Kawasan roda perekonomian biasanya ada di wilayah pasar induk, pasar induk Purwokerto adalah Pasar Wage. Kawasan Pasar Wage ini sudah ada cukup lama, terlihat dari bangunan-bangunan toko di kawasan tersebut yang terlihat sudah tua, dengan ciri khas tulisan nama toko yang timbul. Selain kawasan Pasar Wage terdapat pula kawasan pasar lain yang tidak kalah ramai, yaitu kawasan pasar Kebondalem. 

(Salah satu bangunan tua di kawasan Jl. Jendral Sudirman)

(salah satu pertokoan yang menggunakan teknik relief untuk nama toko, Jl. Jendral Sudirman)

(salah satu bangunan tua di kawasan Jl. Jendral Sudirman)

(salah satu pertokoan yang menggunakan teknik relief untuk nama toko, Jl. Jendral Sudirman)

(salah satu pertokoan yang menggunakan teknik relief untuk nama toko, Jl. Jendral Sudirman)

(Toko Roti Go, Salah satu toko roti yang legendaris di Purwokerto, Jl. Jendral Sudirman)

(kawasan Pasar Wage, Jl. Jendral Sudirman, tampak toko emas Djanoko dengan ikon patung tokoh pewayangan Janoko atau Arjuna)

(kawasan Pasar Wage, Jl. Jendral Sudirman, tampak toko emas Djanoko dengan ikon patung tokoh pewayangan Janoko atau Arjuna)

(kawasan Pasar Wage, Jl. Jendral Sudirman, tampak toko emas Djanoko dengan ikon patung tokoh pewayangan Janoko atau Arjuna)

(salah satu bungunan toko tua dengan teknik relief pada nama tokonya, Jl. Jendral Sudirman)

(Kawasan kolong Pasar Kebon Dalem)

(Kawasan kolong Pasar Kebon Dalem)

(Kawasan kolong Pasar Kebon Dalem)

(Toko Buku dan Alat Tulis Metro Jaya di Kawasan Pasar Kebon Dalem)

 Ada satu tempat hiburan yang tak kalah tua dari tempat-tempat lain di Purwokerto yaitu Bioskop Rajawali. Bioskop Rajawali ini adalah satu-satunya bioskop yang bertahan di Purwokerto. Sampai saat ini tempat tersebut masih beroperasi menayangkan film-film terbaru baik dari dalam negeri maupun film-film box office produksi Hollywood, meski tayangnya lebih lambat dibandingkan di kota-kota besar lainnya. 

(Bioskop Rajawali Theatre, Jl. S. Parman, Purwokerto)
Banyak sekali kenangan yang tertinggal di kota Purwokerto ini. meski saya telah jauh merantau hati saya tetap tertinggal di Purwokerto dan kelak saya pasti akan kembali dan menghabiskan sisa hidup saya di kota tercinta ini. 

Selasa, 12 Juni 2012

Perjalanan Kedua Menuju Puncak Gede

Pada tanggal 9-10 Juni 2012 lalu saya melakukan perjalanan kembali mendaki gunung Gede, tidak seperti perjalanan sebelumnya pada tanggal 11 November 2011 yang melewati jalur pendakian Cibodas, kali ini saya melewati jalur pendakian Gunung Putri. Jalur pendakian Gunung Putri ini memang berkontur lebih terjal dibandingkan dengan jalur Cibodas, Namun demikian jalur ini lebih pendek rutenya dibandingkan jalur Cibodas. setiap jalur memang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. untuk jalur Cibodas, meski jalurnya lebih panjang, namun konturnya lebih landai, dan lebih banyak panorama dan pemandangan yang dapat kita saksikan, terdapat pula situs air terjun yang dapat kita hampiri, untuk sekedar menikmati pemandangan dan melepas lelah. Jalur Cibodas ini, bisa dikatakan jalur yang bersahabat bagi para pendaki pemula. Di sisi lain jalur Gunung Putri memang berkontur lebih terjal, dan bagi para pendaki pemula jalur ini cukup menguras energi dan nafas, kelebihannya dari Gunung Putri ini kita dapat berkemah di kawasan alun-alun Surya Kencana, yang merupakan sebuah lembah yang luas yang ditumbuhi oleh pohon bunga-bunga edelweis. panaromanya cukup indah dan lapang, untuk menuju ke puncak Gunung Gede pun tidak memakan waktu lama, kurang lebih 45 menit dengan kecepatan standar kita sudah dapat mencapai puncak. Berikut saya sajikan beberapa gambar dari hasil perjalanan saya. 

ini merupakan salah satu gambar jalur pendakian melalui Gunung Putri, jalur ini terjal dan banyak dijumpai tangga-tangga dari akar pohon seperti ini. 






Pada saat pendakian ini, memang sedang dalam masa bermekaran berbagai jenis bunga yang ada di sekitar jalur pendakian. salah satunya yang saya temui adalah bunga anggrek hutan, yang berwarna ungu. saya tidak begitu paham dengan jenis dan spesies bunga anggrek, namun dapat dilihat di gambar tersebut, anggrek hutan yang terdapat disini tampak lebih kecil dibandingkan misalnya dengan anggrek bulan. daunnya pun juga nampak lebih kecil, meski demikian bunga ini tak kalah cantik dengan anggrek-anggrek hasil budidaya manusia. saya merasa bunga ini lebih orisinal dibandingkan dengan bunga budidaya manusia, yang mendapat perawatan, mulai dari obat anti hama sampai pupuk-pupuk anorganik. media tanam bunga ini pun lebih orisinal, dimana anggrek-anggrek ini tumbuh menempel di batang-batang pohon yang diselimuti lumut. 








Beberapa gambar di atas merupakan panorama bunga-bunga edelweis yang berada di kawasan alun-alun Surya Kencana. saya cukup beruntung karena pada saat itu, bunga-bunga edelweis sedang bermekaran, sehingga saya dapat menyaksikan keindahannya dan menghirup harum wangi bunganya, di antara kesejukan udara gunung Gede Pangrango. Kawasan alun-alun Surya Kencana ini, memang menjadi favorit para pendaki, karena tanahnya yang lapang dan terbuka menyajikan sebuah panorama yang cukup indah, kita dapat melihat hamparan langit yang luas, dan jika beruntung pada saat cuaca cerah, di malam hari kita dapat menyaksikan hamparan gugusan bintang-bintang yang jarang kita temui di langit-langit perkotaan. Alun-alun Surya Kencana merupakan sebuah lembah, dimana di sebelah utara terlihat menjulang puncak gunung Gede, sedangkan di sebelah selatan menjulang bukit Geger Bentang (kalau saya tidak salah), yang konon di bukit tersebut banyak masyarakat yang melakukan ziarah dan ritual-ritual spiritual tertentu, ini terkait dengan kisah Pangeran Surya Kencana, diyakini oleh sebagian masyarakat bukit tersebut merupakan salah satu situs petilasan pangeran Surya Kencana yang konon putra dari Pengeran Aria Wiratanudatar (pendiri kota Cianjur). Terlepas dari kisah-kisah misteri yang menyelimuti alun-alun Surya Kencana, kawasan ini memang menyajikan panorama yang menyegarkan mata. 

Namun sayang keindahan panorama kawasan alun-alun Surya Kencana ini harus dicemari oleh ulah para pendaki-pendaki yang kurang bertanggung jawab, meninggalkan sampah-sampah berserakan. sebagai pendaki dan pecinta alam sejati, seharusnya kita memiliki kesadaran untuk selalu menjaga kemurnian kawasan lingkungan kita. tidak hanya di kawasan pegungungan seperti ini, namun lebih jauh sebagai manusia yang berbudaya dan beretika kita harus dapat menjaga lingkungan sekitar kita baik di kawasan rumah kita atau di mana pun. ini merupakan tanggung jawab bersama, dan akan berimbas pada kehidupan kita sendiri. kita hidup di satu Bumi, dan apabila kerusakan ekosistem Bumi rusak, maka kita dan penerus kita juga lah yang akan terkena imbasnya. maka jagalah Bumi kita ini, agar dapat terus kita hidupi dan kita nikmati keindahannya.