Tampilkan postingan dengan label Culture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Culture. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Agustus 2014

THE JOURNEY: The Beginning

After all this time, finally I Write my travelogues. These Travelogues will filled by my experience and people who give me impression emotionally and also lessons about virtues. I am truly grateful to all the people and experiences that have made me feel so small and insignificant, makes me appreciate life more. 

My journey began with a sincerity and strong intention to provide my skills and knowledge that I have for the good of all people. Hahaha what a naive intention, the actual reason is I just want to travell without spend any cost and get fun. So The Jorney began when I signed up for the "Ekspedisi NKRI 2014: Koridor Maluku dan Maluku Utara" held by KOPASSUS or Special Forces Comand, one of special forces of Indonesia military. I through series of test (Administration, psycological test, physical test), until finally I was able to follow this program. Then we got training for 2 weeks in Situ Lembang, Bandung. This Training prepares us to face any possible condition in field. The real challenge is not in the training material provided but in very cold weather at the location of training. For me that used to live in a hot area like Jakarta, the cold weather of Situ Lembang just can't bear. Although this activities held by military but the training are less military way. And in fact many of the soldiers complain when they have to attend the training. 

After 2 weeks struggle to bear the cold, finally the day is about to come. In February 25, 2014, Sub Korwil Ternate team are ready to brace the sophisticated adventure, to see unseen places and creatures and so on and so on... at 07:30 a.m. we took off and flew to the land of Spices... And here it is, my adventure is about to come.... 

To be continued... 

Minggu, 15 Desember 2013

Inyong Wong Ngapak (Saya Orang "Ngapak")



Suatu waktu, di salah satu restoran cepat saji di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta.
A: eh  elu kan si B ya, anak SMA x Purwokerto kan
B: iya bener. lah kowe kan si A ya, bocah kranji mbok. kepriwe kabare. wis suwe banget ora ketemu ya.
A: iya, lu sekarang dimana, udah lama nih kita nggak ngobrol-ngobrol
B: ...

(peristiwa, nama tempat dan situasi hanya rekaan penulis saja).

Saya kerap kali menemui situasi seperti tergambar di atas. sekilas memang tidak ada yang aneh, namun bagi saya ada kejanggalan mendasar. Sebelumnya saya akan sedikit memaparkan latar belakang diri saya. Saya adalah orang rantau yang berkat keberuntungan dan ijin Tuhan dapat tinggal di kota yang bersinggungan dengan kota metropolitan Jakarta. Saat ini saya tinggal di kota Depok, untuk kepentingan akademis. Saya lahir dan menghabiskan masa kecil hingga remaja di kota Purwokerto, salah satu kota di Jawa Tengah. Purwokerto atau Banyumas memiliki karekteristik budaya yang unik jika dibandingkan dengan kultur Jawa pada umumnya, terutama dapat terlihat dari dialek bahasa yang digunakan. Dialek bahasa ini sering disebut dengan bahasa Ngapak, sebenarnya dialek ini tidak hanya dituturkan oleh orang Banyumas, tetapi juga beberapa wilayah yang berdekatan dengan Banyumas, seperti Purbalingga, Banjarnegara, Cilacap, Kebumen. Ciri yang mudah dikenalli dari dialek ini adalah, warna bahasa yang terdengar lebih kasar dan tegas dibandingkan bahasa Jawa pada umumnya. sebagai contoh, ketika orang mengatakan "jangan seperti itu", bahasa Jawa pada umumnya akan menjadi "Ojo koyo ngono" (dalam bahasa tulis seharusnya vokal O, tetap ditulis A) sedangkan dalam dialek Banyumas akan menjadi "Aja Kaya Kuwe" vokal A tetap jelas dilafalkan A. Mungkin dalam bahasa tulis tidak akan terlihat jelas perbedaannya. Justru ketika dituturkan akan terasa jelas perbedaannya. Dari penekanan intonasi dan keunikan dialek itu, sering kali bahasa Banyumas atau ngapak dianggap bahasa yang lucu, kasar dan rendah oleh masyarakat di luar kelompok penutur bahasa ngapak tersebut. 

Berangkat dari pandangan tersebut, yang menjadi dasar munculnya fenomena yang penulis gambarkan di atas, muncul kegelisahan dalam diri saya. Sedemikian rendahnyakah bahasa ngapak? dan saya kira fenomena ini tidak hanya berlaku bagi masyarakat Banyumas saja, tetapi juga orang-orang "daerah" atau masyarakat lokal pada umumnya. Banyak orang-orang lokal yang kemudian merasa malu menuturkan bahasa lokalnya ditengah masyarakat kota, karena mereka merasa bahasa lokal mereka adalah bahasa yang lebih rendah dari bahasa Indonesia, fenomena ini jelas terlihat di kota metropolitan seperti Jakarta. Ya memang kita tidak bisa menggunakan bahasa lokal di tengah forum yang majemuk, namun yang menjadi masalah adalah ketika komunikasi yang berlangsung hanyalah antara sesama penutur bahasa lokal, katakanlah sesama orang yang berasal dari Purwokerto, dan yang dibicarakan pun masalah personal kedua orang tersebut. Salah satu pelaku komunikasi itu merasa tidak nyaman apabila harus menggunakan bahasa ngapak di tengah masyarakat kota, mereka lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia (yang sering kali juga dipaksakan, karena masih terdengar dialek asli daerahnya) supaya tidak dianggap rendah, ndeso, tidak berpendidikan dan cap-cap negatif lainnya yang melekat pada bahasa lokal tersebut. Bahkan suatu ketika kawan penulis dengan terang mengatakan, jangan pakai bahasa ngapak lah kalau di Jakarta, terlihat ndeso katanya. Bahkan, jangankan di kota seperti Jakarta, di kota dimana bahasa ngapak berasal pun banyak anak-anak muda yang merasa malu atau tidak "gaul" apabila menggunakan bahasa ngapak. saya menyaksikan sendiri sekumpulan remaja di dalam angkutan umum di Purwokerto yang berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia, dengan sapaan "elu" "gue". 

Miris rasanya melihat fenomena tersebut, pertama karena Bahasa Indonesia yang seharusnya berfungsi menjadi bahasa persatuan, yang fungsinya lebih kepada bahasa perantara yang menghubungkan masyarakat yang majemuk, menjadi dalam konteks ini bahasa yang menegaskan kesenjangan, baik itu secara kultural maupun intelektual. Secara sadar ataupun tidak orang-orang lokal yang munggunakan bahasa Indonesia ditengah kelompoknya sendiri, seolah merasa dirinya lebih berintelektual. Kedua, bahasa daerah semakin terpinggirkan dengan segenap konsekuensi berantainya, secara tidak langsung dalam kasus orang yang malu menuturkan bahasa ngapak ditengah masyarakat kota, dirinya pun malu akan identitasnya dari mana dirinya berasal. Poin yang ingin saya sampaikan adalah, bahwa kedudukan setiap masyarkat, budaya dan bahasa yang ada di nusantara adalah setara. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan pun tidak menjadikannya bahasa yang mengatasi apapun. 

Dadi ya aja isin-isin dadi wong ngapak. Dewek kuwe pada karo wong-wong liyane. sing nduwe kesempatan nggo dadi apa bae. Aja ngasi kelalen asale dewek kuwe kang ndi.

"Bersatu kita Kompak, Bicara Kita Ngapak, Ora Ngapak, Dupak!!"

Minggu, 13 Januari 2013

Pegoyang Dangdut

Musik dangdut tidak pernah terlepas dengan yang namanya goyangan. Irama kendangnya yang menyentak-nyentak memang selalu membuat para pendengarnya untuk bergoyang. Bahkan musik dangdut yang berisikan lagu sedih pun selalu dapat membuat para pendengarnya untuk bergoyang, ya minimal menggoyangkan jempolnya lah hahaha. Seolah dangdut tanpa goyangan, seperti sayur tanpa garam, seperti kata Inul Daratista dalam sebuah petikan lagunya. 

Musik dangdut adalah salah satu aliran musik yang tampaknya dapat diterima oleh hampir seluruh kalangan masyarakat Indonesia. Kalau kata P Project Dangdut is the music of my country, dangdut sudah menjadi identitas bangsa Indonesia. Perkembangan musik dangdut sekarang pun sudah mulai variatif. namun saya tidak akan membahas mengenai jenis-jenis musik dangdut yang tengah berkembang sekarang. saya akan membahas fenomena baru yang muncul terkait dengan musik dangdut ini. Saya melihat sekarang para penyanyi dangdut, terutama penyanyi dangdut wanita, lebih menjual ragam goyangan ketimbang kualitas vokal atau lagu dangdut itu sendiri. tidak seperti masa-masa sebelumnya ragam musik dangdut lebih beragam dari sisi isi lagunya dan para penyanyinya. Seperti H. Rhoma Irama yang sangat produktif menciptakan lagu-lagu dangdut yang sarat pasan-pesan agama, atau ada Iis Dahlia, Ike Nurjanah, Cici Faramida yang kemunculan mereka lebih mewarnai musik dangdut dengan kualitas vokal dan lagu tanpa menonjolkan lebel gerakan goyangan tertentu. sekarang ini justru marak bermunculan penyayi dangdut yang jualannya adalah goyangan. Goyangan sudah menjadi komoditas utama dari dangdut. fenomena ini saya kira mulai terjadi ketika kemunculan sosok Inul Daratista dengan lebel goyang ngebornya yang kontroversial. 

semenjak itu mulai bermunculan, ada Anisa Bahar dengan goyang patah-patah, Dewi Perssik dengan goyang gergaji, Uut Permatasari dengan goyang ngecor. generasi-generasi awal ini lambat laun memang mulai meninggalkan lebelnya itu, tapi tak pelak pelebelan goyangan ini sudah terlanjur menjadi tren di kalangan para pedangdut pendatang baru. Sekarang ini ada yang muncul namanya goyangan itik, yang sempat menjadi  sengketa antara dua pedangdut pendatang baru, ini hal paling absurd yang pernah saya lihat, biasanya musisi akan mempersengketakan lagu, atau judul lagu, atau musiknya, nah ini yang diributkan malah lebel goyangan yang gerakannya pun sederhana sekali, hanya memang menunjukkan sensualitas, bahkan sampai diajukan ke persidangan. Ada lagi goyang V, goyang jari lah, goyang geboy dll. membuat seolah produk dangdut kini ya goyangan, bukan lagu atau musiknya, yang sejatinya adalah esensi dari dangdut itu sendiri. sekarang yang terlihat justru musik dangdut hanya sebagai pengiring goyangan, bukan goyangan yang seharusnya jadi pelengkap dangdut, main coursenya sekarang adalah goyangan, bukan lagu atau musiknya.

Musik dangdut sekarang dibuat yang penting bisa mengiringi goyangan si penyanyi dangdut yang jualannya goyangan, lirik lagu terkesan dibuat asal-asalan. tidak seperti lagu dangdut pada generasi sebelumnya, yang sangat puitis dan sarat makna, bahkan apabila dihayati bisa membuat pendengarnya diliputi emosi mendalam. sekarang seolah musik dangdut hanya untuk memuaskan kebutuhan birahi saja, dengan menjual kemolekan tubuh penyanyi dan goyangannya serta lirik lagu yang cenderung 'nakal'. di berbagai tayangan talkshow hiburan, penyanyi dangdut yang memiliki label goyangan tertentu, lebih diminta untuk memperlihatkan gerakan goyangannya ketimbang mempertunjukkan kebolehannya dalam menyanyi. di beberapa acara musik pun, porsi goyangan lebih banyak dibandingkan dengan menyanyinya. Sekarang mungkin lebih tepat mereka dijuliki Pegoyang Dangdut ketimbang Penyanyi Dangdut. Bagi saya ini fenomena yang memprihatinkan bagi perkembangan musik dangdut itu sendiri. 

Jumat, 11 Mei 2012

Desa Beji, Banyumas


Sebagai orang asli Banyumas, saya masih memiliki pengetahuan yang sangat dagkal mengenai sejarah kampung halaman saya. yaa sedikit tahu lah mengenai kisah-kisah tutur yang berkembang di masyarakat mengenai asal muasal Banyumas, atau Purwokerto. Namun kali ini saya ingin berbagi cerita mengenai sebuah desa yang ada di Banyumas, Desa Beji. Saya tertarik dengan sekelumit kisah mengenai desa ini karena saya pernah tinggal di sana, untuk beberapa waktu, dan meniggalkan kesan tersendiri untuk saya. Memori yang tertinggal di benak saya pada desa itu adalah, aliran sungai/kali banjaran yang tak pernah kering, walau pada masa kemarau, airnya begitu jernih, mengaliri sawah-sawah penduduk dan kolam-kolam penangkaran gurami. sekelumit tentang desa beji, monggo :
Nama Desa Beji
Berdasarkan Etimologi, “Beji”mempunyai arti “Sumur/belik” atau “Sumber Air”, di desa Beji terdapat sebuah Sumber Air yang sangat besar/belik sumber itu berada di lembah dekat tepian sungai banjaran yang sejak jaman dahulu tidak dapat diketahui secara pasti baik nama, tahun maupun awal mulanya disekitar itulah penduduk bertempat tinggal, beberapa bukti peninggalan yang ada bahwa dahulu tempat tersebut adalah padukuhan yaitu dengan adanya tempat yang bernama Ampes, Depok, Padepokan, Jurangmangu, Cina Lumpuh, (di Beji Lor) Selajanji, Nini Sanding, Padurasa dan Timbanganten (di Beji Kidul). Dimana tempat tersebut ada beberapa peninggalan kuburan kuno sebagai bukti adanya penduduk dan mata air besar yang tak pernah kering sepanjang masa di daerah itulah dinamakan Beji. Padukuhan-padukuhan itulah meluas menjadi sebuah desa yang bernama desa Beji.
 Terbentuknya Desa Beji
Pada awalnya merupakan dua dusun tersebut memiliki pemerintahan sendiri-sendiri yakni Pemerintahan Desa Beji Lor dan Beji Kidul. Desa Beji yang terdiri dari dua Dusun yaitu :
a. Dusun 1 (Beji Lor) terdapat Grumbul Ampes (konon merupakan sebuah padukuhan), grumbul Depok adalah makam/Kuburan Mbah Atas Angin, grumbul Padepokan tempat kuburan gamelan menurut cerita jaman dahulu tempat dikuburkannya para korban kejadian tragis yang menimpa keluarga pengantin, pengatin serta dalang dan penabuh gamelan/niaga pagi hari setelah mengadakan pesta hajatan menaggap wayang saling menikam sehingga banyak korban sehingga para korban berikut gamelanya dikuburkan, grumbul Jurangmangu merupakan Curug dan sumur kuno, dan grumbul Cina Lumpuh adalah sebuah blok tanah sawah yang dahulu terdapat sebuah batu yang dipercayai dihuni oleh makhluk halus.
Para tokoh yang pernah menduduki jabatan Lurah Beji Lor pada waktu itu adalah; Surakrama, Karyadrana, Wiradrana dan Sadirana (Sumber sejarah tidak menyebut angka tahun menjabat).
b. Dusun 2 (Beji Kidul) terdapat grumbul Ninisanding merupakan padepokan dan sekarang merupakan blok tanah sawah, grumbul Timbanganten Konon adalah tempat pertimbangan orang–orang jaman dahulu, grumbul Padurasa sekarang adalah perempatan batas desa Beji, Bobosan, Purwosari dan Purwonegoro, grumbul Selajanji adalah berupa makan kuno yang didekatnya terdapat sumber air/belik yang konon merupakan tempat Mbah Seca Mulya, dan lokasi disekitar dinamakan panembahan. Selajanji mempunyai arti Sela = Batu, Janji = Perjanjian / ketentuan hal ini dikarenakan tempat ini sering digunakan oleh orang-orang untuk melakukan permohonan tertentu pada malam jum’at kliwon dan selasa kliwon dengan berendam pada mata air/belik yang kemudian mengangkat dua buah batu bulat yang ada di dalam makam /pesarean dengan terlebih dahulu disembah tujuh kali, berhasil atau tidaknya akan tergantung pada nasib orang tersebut.
Para tokoh yang pernah menduduki jabatan Lurah Beji Kidul saat itu adalah; Tirtadirana (Sumber sejarah tidak menyebut angka tahun menjabat).
Pada tahun 1910 diadakan penggabungan antara Desa Beji Lor dan Desa Beji Kidul menjadi satu Desa, Kepala desa pada waktu itu adalah Tirtadirana melalui pemilihan langsung.
Adapun Lurah-lurah selanjutnya adalah; Wiryadrana, Martadikrama (sumber sejarah tidak menyebut angka tahun) dan Wiryadimedja yang berhenti pada tahun 1952 dan digantikan oleh Sanoersim yang menjabat hingga tahun 1985
  1. Kebudayaan Masyarakat (Sosiokultura)
Masyarakat desa Beji mempunyai kepercayaan Tidak boleh Menanggap Hiburan Wayang kulit hal ini dipercayai sampai tahun 1960 hal ini disebabkan menurut cerita para sesepuh desa pada tahun (yang tidak dapat dipastikan). Menceritakan Terjadi perjodohan antara keluarga pengantin wanita dari Desa Beji dengan Pengantin Pria dari Desa Pandak yang pada saat itu keluarga pengantin wanita menghendaki perayaanya dengan hiburan wayang sedangkan dari piha pria tidak menghendakinya namum dari pihak pengantin wanita tetap memaksanya sehingga pada pagi hari setelah pertunjukan usai terjadilah keributan saling menikam antara keluarga yang punya hajat, pengantin pria dan wanita serta dalang dan penabuhnya/niaga sehingga menimbulkan banyak korban yang akhirnya para korban, wayang, dan gamelanya dikuburkan sekalian. Dari situlah tercetus perkataan dari korban yang selamat “mBesuk tembe anak putu aja pada nanggap wayang” yang artinya “besok kedepan anak-anak dan keturunanku janga sampai ada yang menanggap pertunjukan wayang kulit.” Maka sejak itu masyarakat tidak ada yang berani menanggap pertunjukan wayangkulit karena dianggap pantangan. Seiring dengan berpikirnya masyarakat, hal ini berlangsung sampai pada sekitar tahun 1960 seorang tokoh masyarakat (soerasno kepala sekolah) pada saat itu berani mementaskan pertunjukan wayang kulit di sebuah lumbung desa sampai selesai teryata tidak terjadi sesuatu yang membahayakan sehingga sampai sekarang wayang tidak lagi merupakan pertunjukan yang menjadi pantangan bahkan banyak warga serta seniman yang aktif pada perkumpulan seni karawitan dan wayang kulit.
Kepercayaan masyarakat di Desa Beji jaman dahulu masih berkiblat pada suku tengger karena menurut cerita asal muasal orang Beji adalah dari suku tenger sehingga ada banyak kepercayaan yang dilaksanakan serupa dengan kebudayaan di suku tenger seperti mengadakan ritual sedekah bumi dengan menyebelih sapi/kerbau kepalanya dikuburkan diperempatan/(tengah padukuhan) sebagai tumbal, menyediakan sesaji ketika akan memulai memanen hasil pertanian, menyediakan sesaji di tempat-tempat tertentu pada saat mengadakan khajatan. Namun seiring dengan perkembangan jaman dan bertambahnya pengetahuan maka sedikit demi sedikit kebiasaan seperti hilang masyarakat sudah mengenal kesenian baik yang dipengaruhi oleh budaya islam seperti Genjring dan rebana atau hal-hal yang mengandung unsur magis seperti ebeg (Kuda lumping) dan sebagainya.
Mayoritas penduduk beragama Islam, sebagian kecil beragama Kristen dan kepercayaan (kejawen).
Masyarakat Desa Beji mulai mengenal budidaya ikan gurameh terinpirasi dari air yang melimpah dan tak pernah kering sepanjang tahun dan ikan gurameh adalh jenis ikan yang paling cocok dengan kondisi alam desa beji, maka hingga sekarang sebagian besar masyarakat hidup dari lahan pertanian dan perikanan. Sebelum masyarakat mengenal Pupuk Kimia masyarakat desa beji banyak memanfaatkan pupuk kandang untuk menyuburkan tanah termasuk untuk kolam, hal itu dilakukan secara turun temurun, namun dengan kemajuan teknologi dan perkembangan jaman masyarakat mulai mengenal pupuk kimia terutama untuk pertanian
Banyaknya pembudidaya ikan di desa beji terutama jenis ikan gurameh menjadikan banyak petani yang berusaha untuk menjual hasil produknya ke luar willayah desa bahkan sampai keluar propinsi, menjadikan Beji terkenal sebagai sentra Gurameh. Pada tahun 1970 – 1990 bahkan banyak didatangi para petani dan pedagang dari luar desa beji untuk mendapatkan benih ikan terutama ikan gurameh, maka Desa Beji Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas Propinsi Jawa Tengah terkenal sebagai sentra ikan gurameh sampai saat ini dan untuk mendukung program program Minapolitan Desa Beji Mendapat julukan Kampung Mina/Kampung Ikan dengan Maskot Patung Gurameh yang berada di pertigaan 
Sumber :
http://beji.or.id/2012/03/19/sejarah-desa/

Selasa, 08 Mei 2012

Tata Tentrem (utopis)?

Dalam cerita dongeng atau dalam kisah-kisah dalam film situasi sebuah pedesaan selalu di gambarkan dengan keadaan yang asri, tentram keadaan sosial yang gotong royong, saling tolong menolong dll. Tetapi beberapa hari lalu saya menyaksikan acara talk show salah satu televisi swasta nasional, dimana salah satu pembicara mengatakan bahwa, kondisi pedesaan yang tergambar di atas tadi hanyalah mitos dan utopis. Seolah-olah jadi dunia ini penuh konflik, tidak ada yang namanya ketentraman, semua orang harus waspada dan selalu curiga pada orang lain, tidak ada yg gratis di dunia ini. Yaaa memang sih, kalau kita melihat kondisi yg damai itu memang sangat jauh dari sempurna, pasti lah ada konflik. Tapi pernyataan pembicara tadi memberi kesan yang sangat negatif. Saya sendiri sebagai yang berasal dari desa, mengakui memang pasti ada konflik, terutama dalam hal2 yg sensitif seperti kekuasaan. Tapi secara umum kondisi di desa cukup kondusif dan tersirat apa yg tergambar di atas tadi. Keramahan, gotong royong, menolong tanpa pamrih, dan saling berbagi. Bahkan pada orang2 yang tak dikenal pun. Berbeda keadaannya di kota metropolitan seperti Jakarta. Berjalan di tengah kota Jakarta, hati selalu was-was, waspada terhadap setiap orang. Bahkan mau menolong orang pun masih ada rasa curiga. Saya pernah, bertanya jalan kepada pedagang asongan di daerah blok m, dia tidak langsung memberikan jawaban, kedua kali saya bertanya baru dia menjawab, pun dengan wajah tidak suka, tiada keramahan sama sekali. Oke mungkin akan ada orang yang bilang, ga semuanya begitu kok, masih banyak orang yg ramah dan baik. Iya memang tp aku yakin, jumlahnya pun jarang. Hawa yang ada tuh kayaaknya tuh konflik terus, ada yang nyolot sana nyolot sini. Kenapa musti begitu, kenapa dikatakan Jakarta itu keras, coba dr dulu Stereotipe itu ga ada . . Kenapaaaaaaaaa . .

Indonesia ?

Indonesia adalah negara yang multietnis, multibangsa, multisuku dan multi-multi lainnya. Budaya yang ada di Indonesia sangat beragam dan banyak. Berbagai simbolisme-simbolisme budaya terejawantahkan. Pertanyaan klasik yang sering muncul adalah bagaimana bentuk nasionalisme Indonesia di tengah keberagaman bangsa ? Di pelajaran PPKn dulu sering dibilang budaya budaya Suku yg ada di Indonesia membentuk puncak kebudayaan Indonesia. Sampai sekarang saya masih belum kebayang puncak kebudayaan Indonesia itu seperti apa. Pernyataan itu bisa dibilang penyatuan yang memaksakan dan tak berbntuk. Jadi Indonesia itu seperti apa (dlm kerangka pemikiran integralistik). Ada satu fenomena dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat yang cukup membuat saya tergelitik, terkait dengan masalah ini. Yaitu tentang pernikahan beda budaya. Misalkan orang Dayak menikah dengan orang Madura, bagaimanakah upacara pernikahan mereka ? Ada beberapa alternatif jawaban, pertama, bisa dengan cara masing budaya, gantian gitu„ kedua menggunakan cara agama mereka kalau kebetulan agama mereka sama, ketiga ada orang yg mengatakan ya sudah kita pakai cara nasional aja biar ga ribet (asumsi orang2 cara yang nasional itu cara yang tdk akan mendeferensiasi budaya artinya pakai cara yang dianggap tdk memihak salah satu budaya etnis kedua mempelai)„ disini mulai timbul masalah, yang nasional itu kaya apa ? Banyak orang yang menerjemahkan kemudian dengan menggunakan pakaian pengantin utk laki laki menggunakan setelan jas dan mempelai perempuan mengenakan gaun„ dengan resepsi pernikahan ya begitu saja, tamu datang makan, ada hiburan dll. Tanpa ada upacara simbolisme budaya tertentu. Nah apa itu yg disebut nasional ? Mungkin akan ada yang komentar, yg perempuan kan bisa aja pake kebaya, itu pakaian nasional, yakin itu pakaian nasional„ kebaya punya akar budaya sendiri di Indonesia, okelah itu bagian dari budaya Indonesia, tp dlm konteks yg saya bicarakan ini, tetap saja itu bukan yang “nasional”. Pakaian jas, itu lbh ke simbol budaya Barat. Jadi Nasional Indonesia itu seperti apa ?

Bahasa-bahasa


setiap bahasa di dunia ini memiliki struktur yang berbeda, tidak hanya pada masalah tata bahasanya tetapi juga pemaknaan yang dihasilkannya. itu jelas memang, sudah banyak literatur dan para ahli yang membahas mengenai hal tersebut. tapi saya sungguh tergelitik untuk mempertanyakan perihal penggunaan bahasa ini. dalam pengetahuan saya bahasa merupakan manifestasi dari kebudayaan manusia. bahasa merupakan salah satu produk budaya yang berfungsi untuk memproduksi dan mereproduksi pengetahuan. bahasa merupakan bentuk simbol dari makna-makna pengetahuan yang ada di seluruh dunia. pengetahuan sendiri terbangun dari kehidupan suatu masyarakat. pengetahuan adalah sebuah alat yang digunakan manusia untuk memahami dirinya dan lingkungan di luar dirinya. setiap kelompok manusia memiliki kehidupan yang bervariasi, sehingga pengetahuan yang terbangun pun berbeda-beda, begitu pula sistem bahasa yang tercipta kemudian. 
bahasa sangat berkaitan dengan makna. makna merupakan suatu hal yang dipahami oleh manusia sebagai pendeskripsian akan sesuatu, yang mana akan mempengaruhi bagaimana manusia akan bertindak dan bersikap kepada suatu hal. ini lah yang kemudian membentuk karakter dan ciri setiap manusia bahkan masyarakat. 
struktur bahasa dapat menggambarkan seperti apa karakter suatu masyarakat, bahkan sub masyarakat. Piere Bourdieu, memiliki istilah habitus untuk menjelaskan bagaimana setiap kelompok masyarakat memiliki ciri tersendiri antara satu dengan yang lainnya, bagaimana setiap masyarakat mendefinisikan bagian dari kelompok manakah dirinya. habitus sendiri saya artikan sebagai proses pendefinisian diri dalam eksistensinya di dunia. dalam proses tersebut tersebar simbol-simbol yang memiliki makna dan memberikan ciri. bahasa adalah salah satu dari simbol tersebut. tidak ada satupun bahasa yang akan memiliki pemaknaan yang sama persis dengan bahasa lainnya. ketika ada pengalihan bahasa, pasti akan terjadi penyesuaian bahasa, sesuai dengan karakter masyarakat. tidak pernah akan ada ditemukan padanan simbol yang benar-benar tepat atas sebuah bahasa. pasti akan ada sedikit bias. hal ini dikarenakan perbedaan habitus yang ada dalam masyarakat, bahkan di dalam suatu masyarakat tertentu yang memiliki bahasa yang sama.