Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Desember 2013

Inyong Wong Ngapak (Saya Orang "Ngapak")



Suatu waktu, di salah satu restoran cepat saji di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta.
A: eh  elu kan si B ya, anak SMA x Purwokerto kan
B: iya bener. lah kowe kan si A ya, bocah kranji mbok. kepriwe kabare. wis suwe banget ora ketemu ya.
A: iya, lu sekarang dimana, udah lama nih kita nggak ngobrol-ngobrol
B: ...

(peristiwa, nama tempat dan situasi hanya rekaan penulis saja).

Saya kerap kali menemui situasi seperti tergambar di atas. sekilas memang tidak ada yang aneh, namun bagi saya ada kejanggalan mendasar. Sebelumnya saya akan sedikit memaparkan latar belakang diri saya. Saya adalah orang rantau yang berkat keberuntungan dan ijin Tuhan dapat tinggal di kota yang bersinggungan dengan kota metropolitan Jakarta. Saat ini saya tinggal di kota Depok, untuk kepentingan akademis. Saya lahir dan menghabiskan masa kecil hingga remaja di kota Purwokerto, salah satu kota di Jawa Tengah. Purwokerto atau Banyumas memiliki karekteristik budaya yang unik jika dibandingkan dengan kultur Jawa pada umumnya, terutama dapat terlihat dari dialek bahasa yang digunakan. Dialek bahasa ini sering disebut dengan bahasa Ngapak, sebenarnya dialek ini tidak hanya dituturkan oleh orang Banyumas, tetapi juga beberapa wilayah yang berdekatan dengan Banyumas, seperti Purbalingga, Banjarnegara, Cilacap, Kebumen. Ciri yang mudah dikenalli dari dialek ini adalah, warna bahasa yang terdengar lebih kasar dan tegas dibandingkan bahasa Jawa pada umumnya. sebagai contoh, ketika orang mengatakan "jangan seperti itu", bahasa Jawa pada umumnya akan menjadi "Ojo koyo ngono" (dalam bahasa tulis seharusnya vokal O, tetap ditulis A) sedangkan dalam dialek Banyumas akan menjadi "Aja Kaya Kuwe" vokal A tetap jelas dilafalkan A. Mungkin dalam bahasa tulis tidak akan terlihat jelas perbedaannya. Justru ketika dituturkan akan terasa jelas perbedaannya. Dari penekanan intonasi dan keunikan dialek itu, sering kali bahasa Banyumas atau ngapak dianggap bahasa yang lucu, kasar dan rendah oleh masyarakat di luar kelompok penutur bahasa ngapak tersebut. 

Berangkat dari pandangan tersebut, yang menjadi dasar munculnya fenomena yang penulis gambarkan di atas, muncul kegelisahan dalam diri saya. Sedemikian rendahnyakah bahasa ngapak? dan saya kira fenomena ini tidak hanya berlaku bagi masyarakat Banyumas saja, tetapi juga orang-orang "daerah" atau masyarakat lokal pada umumnya. Banyak orang-orang lokal yang kemudian merasa malu menuturkan bahasa lokalnya ditengah masyarakat kota, karena mereka merasa bahasa lokal mereka adalah bahasa yang lebih rendah dari bahasa Indonesia, fenomena ini jelas terlihat di kota metropolitan seperti Jakarta. Ya memang kita tidak bisa menggunakan bahasa lokal di tengah forum yang majemuk, namun yang menjadi masalah adalah ketika komunikasi yang berlangsung hanyalah antara sesama penutur bahasa lokal, katakanlah sesama orang yang berasal dari Purwokerto, dan yang dibicarakan pun masalah personal kedua orang tersebut. Salah satu pelaku komunikasi itu merasa tidak nyaman apabila harus menggunakan bahasa ngapak di tengah masyarakat kota, mereka lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia (yang sering kali juga dipaksakan, karena masih terdengar dialek asli daerahnya) supaya tidak dianggap rendah, ndeso, tidak berpendidikan dan cap-cap negatif lainnya yang melekat pada bahasa lokal tersebut. Bahkan suatu ketika kawan penulis dengan terang mengatakan, jangan pakai bahasa ngapak lah kalau di Jakarta, terlihat ndeso katanya. Bahkan, jangankan di kota seperti Jakarta, di kota dimana bahasa ngapak berasal pun banyak anak-anak muda yang merasa malu atau tidak "gaul" apabila menggunakan bahasa ngapak. saya menyaksikan sendiri sekumpulan remaja di dalam angkutan umum di Purwokerto yang berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia, dengan sapaan "elu" "gue". 

Miris rasanya melihat fenomena tersebut, pertama karena Bahasa Indonesia yang seharusnya berfungsi menjadi bahasa persatuan, yang fungsinya lebih kepada bahasa perantara yang menghubungkan masyarakat yang majemuk, menjadi dalam konteks ini bahasa yang menegaskan kesenjangan, baik itu secara kultural maupun intelektual. Secara sadar ataupun tidak orang-orang lokal yang munggunakan bahasa Indonesia ditengah kelompoknya sendiri, seolah merasa dirinya lebih berintelektual. Kedua, bahasa daerah semakin terpinggirkan dengan segenap konsekuensi berantainya, secara tidak langsung dalam kasus orang yang malu menuturkan bahasa ngapak ditengah masyarakat kota, dirinya pun malu akan identitasnya dari mana dirinya berasal. Poin yang ingin saya sampaikan adalah, bahwa kedudukan setiap masyarkat, budaya dan bahasa yang ada di nusantara adalah setara. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan pun tidak menjadikannya bahasa yang mengatasi apapun. 

Dadi ya aja isin-isin dadi wong ngapak. Dewek kuwe pada karo wong-wong liyane. sing nduwe kesempatan nggo dadi apa bae. Aja ngasi kelalen asale dewek kuwe kang ndi.

"Bersatu kita Kompak, Bicara Kita Ngapak, Ora Ngapak, Dupak!!"

Jumat, 28 Desember 2012

Allah Tahu dan Allah Sayang

Salah satu petikan dialog Imam Ghazali dengan para muridnya, 

Imam : " Hal apa yang menutut kalian, terasa paling ringan di dunia ini?"

Murid : " Segala hal yang mampu kami angkat dengan kedua tangan kami, atau bahkan mampu kami angkat dengan satu telunjuk kami saja"

Imam : " Kalian benar, tetapi bukan itu jawaban yang aku inginkan. Hal yang paling ringan di dunia ini adalah, meninggalkan shalat."

ya, beribadah kepada Allah selalu dianggap sepele oleh kebanyakan orang (muslim), seperti perkara shalat wajib, Berpuasa, dan berbagai bentuk ibadah lainnya. Saya dan kebanyakan orang lainnya, selalu lupa akan kewajiban-kewajiban yang seharusnya dikerjakan, kita dibuat lupa oleh perkara-perkara duniawi. Sedangkan Allah mengatakan dengan jelas, bahwa tujuan manusia dan jin diciptakan hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Spektrum kata beribadah memang luas, tetapi ada perkara yang sudah jelas dan diatur dalam syariat, mengenai ritual peribadatan, yang harus seorang muslim kerjakan. Hal yang sudah jelas diatur saja kita sering melupakan dan melalaikannya, apalagi hal-hal yang masuk dalam jangkauan spektrum ibadah yang lebih luas lagi. 

Allah tidak pernah tidur dan lelah mengurus semua makhluk-Nya. Allah tahu apa yang kita kerjakan, Allah tahu apa yang terjadi pada kita dan Allah juga tidak berdiam ketika kita menjauh dari-Nya. Allah selalu hadir ketika kita lupa, dengan berbagai cara-Nya. Cara yang kerap paling efektif adalah, membuat kita kesusahan, membuat kita sadar bahwa, tidak ada yang lebih kuat dan lebih luas kekuasaan-Nya, kecuali Allah. Kita akan dibuat datang kepada-Nya dengan kesadaran bahwa diri kita lemah dan hanya Allah-lah yang mampu menolong kita, hanya Allah, yang bisa menjadi sandaran kita. 

Kita pun mulai mendekat kepada Allah, kita memohon kepadanya, kita jalankan segala ritual peribadatan, yang awalnya memang bertujuan untuk memohon dikeluarkan dari permasalahan yang sedang dihadapi. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi, pertama kita akan mendapat apa yang menjadi hajat kita, bahkan mungkin kita akan mendapat lebih. Kemungkinan yang kedua, dan saya yakin kemungkinan ini yang kerap terjadi, Allah akan menunda mengabulkan hajat kita, sampai waktu yang menurut kita sangat lama, ini adalah bentuk ujian dari Allah sekaligus bentuk rasa sayang-Nya kepada kita. Penundaan Allah atas hajat kita, adalah bentuk ujian keimanan dan kesabaran kita, apabila iman dan kesabaran kita tidak kuat maka bisa saja kita malah berprasangka buruk kepada Allah, dan malah mendurhakai-Nya, oleh karena itu mari kita lihat dari sisi bahwa Allah sayang kepada kita. 

Allah tahu bahwa manusia memiliki kecenderungan lupa kepada-Nya ketika merasa senang, maka Allah melakukan penundaan, supaya kita selalu dekat dengan-Nya, selalu memohon kepadanya, karena Allah sangat menyenangi hamba-hambanya yang selalu datang dan memohon hanya kepada-Nya. yakinlah bahwa Allah, akan menjawab segala permohonan kita. Apabila terasa doa kita tidak kunjung terkabul, jangan pernah berhenti berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah, kuat lah, sabar lah. Seiring berjalannya waktu, dengan kesabaran kita dan keteguhan iman, kita akan tersadar bahwa permohonan kita bukanlah hal yang penting lagi, yang menjadi penting adalah kedekatan kita kepada Allah, dan ketika kita sudah benar-benar memasrahkan segala urusan kita, maka Allah akan menyambut kita dengan kelapangan. Permasalahan kita akan terangkat, bahkan segala urusan kita akan menjadi mudah. Ingatlah bahwa Allah tahu dan Allah Sayang. 

Rabu, 26 Desember 2012

Sorrow

Sebagai manusia yang hidup dalam kehidupan di dunia ini pasti pernah merasakan senang dan sedih. Senang dan sedih sudah menjadi bagian dalam kehidupan manusia, apabila tidak ada senang manusia tidak tahu rasanya sedih, begitu pula sebaliknya, apa benar seperti itu ? ya bisa benar, bisa juga tidak, tergantung manusia ingin melihatnya dengan cara apa. Pada umumnya pasti manusia ingin menggapai kesenangan dalam kehidupan ini, pada umumnya tidak ada manusia yang mau menjalani kehidupan dalam kesusahan. Usaha-usaha yang dilakukan manusia pasti berujung pada harapan akan kesenangan. Namun apabila kita lihat, dalam kehidupan ini ada manusia yang lahir sudah dalam gelimang kesenangan, dan ada juga manusia yang dari lahir sampai berakhir masa hidupnya selalu berada dalam kesusahan. Apa yang kita lihat dari permukaan itu memang masih bisa dipertanyakan, karena yang menjalani dan merasakan apa itu susah dan senang hanya orang yang bersangkutan. Intinya dalam kehidupan ini manusia tidak akan pernah lepas dari apa itu hal baik dan hal buruk. 

Saya memiliki pandangan tertentu mengenai hal ini. Pandangan saya ini dilatar belakangi oleh pengetahuan saya sebagai seorang penganut agama Islam (saya bukan seorang ahli agama), setidaknya pemikiran yang akan saya ungkapkan ini tidak akan terlepas dari apa yang sudah saya ketahui dan dapatkan selama saya menjadi seorang muslim. Preposisi saya adalah, manusia terlahir dalam kehidupan di dunia saat sekarang ini memang untuk menjadi susah. Turunnya Adam a.s. dan Siti Hawa ke dunia merupakan sebuah bentuk hukuman yang diterapkan Allah kepada mereka, atas suatu kesalahan. Kehidupan di dunia kemudian, dapat dianggap sebagai tempat penebusan dosa atau tempat penghukuman yang apabila manusia berhasil melewati masa hukuman itu maka manusia akan mendapatkan pembalasan yang baik, dan apabila manusia tidak berhasil melewati itu, maka dianggap sebagai manusia yang tidak memanfaatkan kesempatan yang diberikan, dan malah semakin menjadi-jadi dalam melakukan kedurhakaan, maka akan mendapat penghukuman yang lebih berat dan tidak ada kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahan mereka. Dalam hal ini kemudian dikenal lah apa itu surga dan neraka, serta konsepsi kehidupan setelah mati yang kekal.

Bentuk esensi kehidupan, dimana dunia adalah tempat penebusan dosa, bisa dikatakan adalah kesusahan atau penderitaan. Analogi sederhananya, apakah ada tempat penebusan dosa atau penghukuman itu merupakan tempat yang menyenangkan. Jadi dalam konsep pemikiran saya, untuk susah atau untuk menderita lah esensi dari keberadaan manusia di dunia ini. cobaan sesungguhnya dalam kehidupan ini adalah kesenangan. kenapa saya berpikir demikian, saya melihat dan merasakan bahwa dan pasti kebanyakan orang juga merasakannya, aturan-aturan Tuhan itu cenderung mensupresi kesenangan, banyak pertanyaan-pertanyaan awam muncul, "kenapa sih semua yang dilarang Tuhan itu hal-hal yang menyenangkan?" (setidaknya yang dianggap menyenangkan di dunia ini), dan jawaban yang muncul pasti "Tuhan memberikan perintah dan larangan pasti ada alasannya, dan pasti itu untuk kebaikan kita" dan banyak sekali kemudian muncul upaya rasionalisasi berbagai perintah dan larangan Tuhan, setidaknya untuk memberikan pemahaman kepada umat dengan pendekatan yang dapat dieterima oleh umat.

Saya sedang tidak berupaya untuk mempertanyakan, menyangkal atau mengeluhkan ketentuan Tuhan, saya hanya ingin mengungkapakan pemikiran saya saja. Baik saya lanjutkan lagi, dalam Islam juga ada konsep zuhud (akan ada banyak definisi dan pemahaman mengenai konsep ini ), apa yang saya pahami dalam konsep ini adalah bahwa manusia lebih baik hidup dalam kesederhanaan, tidak dalam kesenangan yang berlebihan, dalam konsep ini dapat dilihat bahwa lagi-lagi manusia lebih dianjurkan untuk menekan kesenangan, lebih baik manusia hidup dalam kesederhanaan, yang menurut penilaian sebagian masyarakat awam, kehidupan sederhana adalah kehidupan yang susah, saya tidak akan menyangkal ada orang yang akan menilai kesederhanaan bukanlah bentuk kesusahan, tapi pandangan terakhir itu saya kira hanya dianut oleh sebagian kecil orang. Tapi saya yakin ada kesadaran pada pelaku zuhud bahwa, kehidupan sederhana merupakan kehidupan yang tidak menyenangkan dan mereka harus menerimanya dengan ihklas demi memperoleh kesenangan yang lebih hakiki.

Dapat kita lihat muncul satu konsep lagi yang disebut ikhlas, ikhlas secara sederhana dapat diartikan sebagai bentuk kerelaan atau menerima kondisi yang dianggap oleh diri sebagai kondisi yang tidak menyenangkan. Dalam agama, ikhlas merupakan hal yang baik, jadi manusia di dunia ini memang hidup untuk susah dan diperintahkan untuk menerima penderitaan itu dengan kerelaan, supaya nanti di kehidupan setelah mati mendapatkan kesenangan yang sesungguhnya. Satu lagi hal yang bagi sebagian besar manusia enggan untuk melakukannya karena menganggap kegiatan ini tidak menyenagkan tetapi diperintahkan oleh Tuhan, yakni melakukan ritual peribadatan, salah satu ujian sabar terberat manusia adalah ketika menjalani ritual peribadatan. Shalat contohnya, padahal shalat kalau dipikir-pikir merupakan kegiatan yang sederhana dan tidak memerlukan waktu dan energi yang besar, tetapi kenapa masih banyak orang yang merasa berat melakukannya, Shalat bagi sebagian orang dianggap sebagai beban (entah bebannya itu ada dimana). 

Jadi apakah manusia di dunia ini tidak boleh merasakan kesenangan ? tentu saja boleh, bahkan Allah menjamin itu, tetapi Allah juga selalu mengingatkan bahwa jangan bersenang-senang terlalu berlebihan hingga lupa kepadaNya. Saya lebih menganggap kesenangan dalam kehidupan merupakan sebuah keringanan dari Allah, kepada manusia yang tengah menjalani masa penebusan dosa, maka kita diperintahkan untuk bersyukur/berterima kasih atas kebaikan yang diberikan Allah dan selalu diingatkan apa sebetulnya esensi manusia hidup di dunia ini. Melakukan kebaikan, menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Apabila kita lihat perilaku baik dan menjadi orang yang bermanfaat yang diajarkan oleh agama merupakan sesuatu yang sebetulnya bagi individu merupakan hal yang tidak menyenangkan. Bersedekah misalnya, secara naluriah, ego manusia untuk menggapai kesenangan itu besar, kepemilikan pribadi selalu menjadi hal yang dikejar oleh manusia, yang membuat manusia merasakan kesenangannya, tetapi agama mengajarkan umatnya untuk bersedekah, memberikan sesuatu yang dicintainya untuk orang lain yang lebih membutuhkan, ini merupakan bentuk pengorbanan yang tidak menyenangkan, dan manusia diperintahkan untuk menerima ketidaknyamanan itu dengan ikhlas, dengan perasaan rela, internalisasi konsep ini begitu kuat sehingga sudah dieterima sebagai konsep kebaikan. kita bisa lihat kebaikan itu muncul dari kerelaan atas penderitaan. Saya melihat ini menjadi sebuah fakta, yang tidak untuk disangkal, tetapi lebih kepada sesuatu yang harus dijalani dengan keterbukaan pikiran dan hati. 

Jumat, 11 Mei 2012

Jalinan Kasih


Baik, sekarang saatnya saya untuk meracaukan sesuatu hal yang mungkin bisa dikatakan tidak terlalu penting tetapi kadangkala racauan ini patut untuk direnungkan untuk diri sendiri ;P
Sudah sekian lama saya memikirkan hal ini, sampai-sampai saya menulis beberapa tulisan ngalor-ngidul ga jelas yang membahas tentang ini. pertama yaitu, apa sebenarnya perasaan cinta itu. hingga saat ini saya belum dapat mengerti dan merasakan what is true love mean, oke mungkin dalam hubungan antara manusia yang saling mengenal I mean family relationship cinta mungkin suatu perwujudan rasa kasih dan sayang yang menghasilkan suatu energi positif bagi diri dan orang yang kita sayangi, it's such an explicit things I guest. tapi yang jadi pertanyaan saya adalah perasaan cinta yang dialami oleh dua insan manusia yang berlainan jenis dan memiliki latar belakang keluarga yang berbeda. sampai detik ini saya belum dapat memastikan apa yang sebenanya saya rasakan terkait dengan masalah ini. My first wishes are, to find what is true love mean ? and I belieave it'll come straightly and I'll know it when it comes. 
pertanyaan kedua adalah seberapa besarkah kemampuan manusia untuk mewujudkan keinginannya, hanya dengan mendaya gunakan semua kekuatan pikiran positifnya. dalam sanubari terdalam saya percaya bahwa selama kebaikan melingkupi diri maka segala pemikiran yang tak mungkin sekalipun dapat terwujud. Insha ALLAH. so keep think positive whathever it takes, just dream and ask then it'll be given. It's my second wishes any way ;)
pertanyaan ketiga adalah, seberapa besarkah lengan Tuhan jika Dia ingin memeluk hambanya ? disetiap perjalanan insan manusia pasti ada saat-saat dimana dia merasakan dingin dan kehampaan dalam dirinya. mungkin dia bisa saja mengisi kehampaan itu dengan berbagai cara yang dia temukan di dunia, tapi ketika dia sendiri kekosongan dan dingin itu selalu kembali dan merasuk dalam jiwa dan raga. dan sesungguhnya manusia tidak pernah sendiri karena Tuhan selalu ada dan rela menghabiskan waktu bersama dengan kita. saya percaya akan hal ini, kapanpun kita membutuhkannya, Tuhan selalu membuka lengannya untuk merengkuh diri kita, mengisi kekosongan dan memberi kehangatan dalam setiap langkah dalam hidup ini. permohonan saya yang ketiga adalah, bisa berada dalam pelukan Tuhan diamanapun berada dan kapanpun saya ada, because God never sleep . . . 
penuhi hidup ini dengan Berkah dan kasih Allah, tak satupun di dunia ini yang luput dari perhatiannya. bagikan semua kebahagian di dunia ini, dengan selalu memberikan kasih dan sayang pada setiap makhluk-Nya. 

Putih & Hitam


Ada banyak kebaikan dalam kehidupan manusia. Tawa, senyum, dan guratan kecerahan yang muncul dari setiap wajah manusia menggambarkan betapa kebahagian dan kebaikan begitu indah, muncul dari sanubari terdalam hati manusia. Sensasi perasaan yang muncul ketika manusia merasakan kebahagian, sungguh telah dapat membentuk sebuah energi positif yang dapat mendorong terciptanya berbagai hal yang terlihat tidak mungkin. Negara Indonesia, misalnya, dapat meraih kemerdekaan di tengah situasi yang krisis, hal ini dapat terjadi karena para pendiri bangsa sangat mendambakan sebuah kebebasan, yang mana kebebasan ini, dikejar karena setiap manusia Indonesia menginginkan sebuah kebahagiaan. Begitu meriah dan gegap gempita, ketika rakyat tahu bahwa bangsanya telah merdeka. Sekelumit kisah tersebut menggambarkan bagaimana sebuah kebahagian sungguh dapat menghasilkan energi yang besar. Namun di sisi yang lain, di dunia ini ada juga “makhluk” yang disebut dengan kesedihan. “makhluk” ini merupakan lawan dari kebahagiaan. Pertanyaannya adalah, mengapa Tuhan menciptakan kesedihan atau kemalangan apabila manusia diperintahkan mengerjakan kebajikan untuk mendapatkan kebahagiaan. Jawaban yang sering kali muncul adalah, apabila tidak ada kesedihan maka kita tidak akan pernah merasakan seperti apa yang namanya kebahagiaan. Baik, jawaban ini memang paling masuk akal, dan memang begitulah adanya. Tapi permasalahannha kini adalah, mengapa, manusia lebih memiliki kecenderungan untuk memfokuskan dirinya dengan kemalangan yang mungkin terjadi. Dalih yang sering terlontar untuk menjawab pertanyaan itu adalah, kita harus siap apabila hal paling buruk terjadi. Oke, ini pun jawaban yang masuk akal, karena kita harus selalu bersikap waspada dan hati-hati. Tetapi, yang terjadi adalah, manusia, terlalu berfokus pada kemalangan yang mungkin terjadi daripada kesenangan atau kebahagiaan yang dikejarnya. Manusia terlalu banyak pertimbangan ketikan akan melakukan sesuatu, dan pertimbangan yang selalu dilontarkan adalah hal-hal yang tidak menyenangkan, seperti, “aku ingin, jalan-jalan ke Paris, ah tapi mana mungkin, aku tidak punya cukup uang, atau kalaupun aku punya dana, bagaimana nanti dengan pekerjaan yang kutinggalkan.” itu hanyalah sekedar contoh, masih banyak hal-hal lain dalam keseharian kita yang serupa dengan itu. Sekarang mengapa kita tidak memfokuakan saja apa yang menjadi keinginan kita dan dapat membuat hati kita bahagia. Bukan berarti kita hanya memikirkan kebahagiaan maka kita melupaka kemalangan yang mungkin terjadi. Sebenarnya dengan kita berfokus pada apa yang kita inginkan, kita tidak perlu lagi memikirkan kemalangan yang mungkin terjadi, karena dengan kita memfokuskan pikiran kita kepada apa yang kita inginkan kita sudah siap dan berkomitmen menerima resiko apapun yang mungkin terjadi. Kesedihan atau kemalangan, tidak dipungkiri memang benar adanya, tetapi kita harus ingat, bahwa kesedihan dan kemalangan ada justru untuk membuat kita merasakan kesenangan dan kebahagiaan bukan sebaliknya. Jadi jangan pernah ragu melakukan, apa yang hati kita inginkan. Melangkahlah dengan keyakinan dan kemantapan untuk meraihnya. Lepaskan segala beban(kemalangan & kesedihan) dalam pikiran kita, maka kebahagiaan yang kita fokuskan pun pasti akan kita raih. 

Pasrah



Terlahir menjadi seorang yang memiliki sifat dasar Pasrah atau dalam bahasa Jawa nrimo menimbulkan berbagai macam pro dan kontra. Sebagian banyak orang pasti akan beranggapan sikap pasrah atau nrimo hanya dimiliki oleh orang-orang yang lemah, karena mereka terlalu takut atau tidak memiliki daya upaya untuk mengadakan perlawanan, bahkan untuk memperjuangkan dan mempertahankan hidupnya sendiri. namun selain sikap skeptikal seperti itu, masih banyak juga orang yang beranggapan bahwa sikap pasrah atau nrimo ini merupakan perwujudan dari sikap berserah yang dalam titik tertentu justru membangkitkan kekuatan yang begitu besar untuk menggeser gunung sekalipun—oke agak berlebihan memang—tapi begitulah setidaknya gambaran dari sikap berpasrah bagi sebagian orang.
Saya termasuk orang yang menganut mahzab yang kedua. Mungkin apabila dilihat dengan nalar logika pemikiran bahwa sikap pasrah itu justru menghasilkan kekuatan besar adalah suatu kemustahilan. Namun saya percaya bahwa ada kemampuan lain dalam diri manusia yang jarang sekali disentuh oleh kebanyakan orang, yaitu kemampuan untuk merasa dan menyadar. Manusia sudah terlalu lama terjebak dalam ruang objiektivitas, dimana sesungguhnya ruang itu berada diluar diri. Hal ini menyebabkan manusia selalu memposisikan diri diluar objek yang dilihatnya bahkan ketika manusia melihat dirinya sendiri. dalam melihat dirinya sendiri seolah dia sedang melihat suatu benda aneh yang berada jauh dan tak pernah dilihatnya. Inilah yang menyebabkan manusia kehilangan kemampuan merasa dan menyadarnya.
Lantas apa hubungannya dengan pasrah. Pasrah adalah kondisi dimana seluruh diri ini sadar dan dapat merasakan bahwa ada kekuatan besar yang dapat menuntun setiap langkah kita dalam menggapai tujuan. Pasrah adalah kondisi dimana diri kita dengan sengaja membiarkan segala sesuatunya berjalan dengan sendirinya. Tidak ada perlawanan dalam diri itu, untuk menghambat mengalirnya energi dalam setiap relung tubuh dan alam semesta. Dalam memaknai pasrah itu sendiri, bukanlah berarti tak berbuat apapun, tapi lebih pada melepaskan beban dari harus mencapai tujuan. Ini hanya dapat dirasakan dengan rasa dan dalam keadaan sadar. Pasrah adalah sebuah bentuk penerimaan dan kesiapan diri untuk memperoleh apa yang memang pantas untuk diri.

Celotehan pemikiran (sambungan Symbols)


Dalam tulisan sebelumnya yang berjudul Symbols, saya mengemukakan masalah pengertian Cinta, dan simbol-simbol dalam masyarakat manapun yang seolah menjadi batasan-batasan manusia untuk bertindak. 
yang saya kemukakan mengenai Cinta adalah suatu perasaan yang universal dimana setiap makhluk Tuhan pasti dapat merasakannya, dan setiap makhluk Tuhan pun memiliki definisi yang berbeda.
Kali ini saya ingin membahas mengenai bentuk hubungan yang dijalani oleh manusia. kita semua tahu bahwa setiap manusia di dunia ini pasti menjalin hubungan dengan manusia lain bahkan makhluk Tuhan yang lain. sudah banyak teori yang menjelaskan alasan mengapa manusia pasti berhubungan dengan manusia lain. ada yang mengatakan untuk pemenuhan kebutuhan, ada pula yang mengatakan untuk kepentingan regenerasi manusia itu sendiri dsb. bahkan Tuhan pun sudah menuliskannya dalam Kitab Suci Al-Quran : 
Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa di sisi Allah. “[al-Hujurat:13].
dari petikan Surat tersebut menjelaskan bahwa manusia memang sudah ditakdirkan untuk saling berhubungan, dan masih banyak ayat-ayat Al-Quran yang menjelaskan hal serupa, tapi saya tidak akan membahas permasalahan ayat-ayat itu. yang ingin saya bahas disini adalah mengenai kebutuhan manusia akan sesuatu yang lain yang dapat membantunya mengaktualisasikan dirinya di dunia ini. 
dalam kehidupannya manusia selalu memiliki kemampuan untuk berpikir dan mendefinisikan dirinya sendiri bahkan apa yang ada diluar dirinya. hal itu dilakukan di dalam benak dan pikiran manusia itu sebagai seorang individu. sampai disini manusia memiliki kemerdekaan atas dirinya sendiri (terlepas dari apakah pemikirannya terpengaruh oleh apa yang ada di luarnya), di sini manusia bebas menghasilkan pikiran seperti apapun. 
terkait dengan masalah ini, kemudian manusia mengungkapkan pikirannya ke "dunia" melalui tidakan-tindakan dan sikapnya, mulai dari sini semua pemikirannya teraktualisasikan dan dibenturkan dengan berbagai bentuk simbol, dapat berupa nila, aturan, norma dsb. yang mulai membatasi diri manusia. baik sampai disini kesimpulan sementaranya adalah bahwa manusia bertindak dan bersikap dicoba untuk tidak melampaui batas. 
kembali pada permasalahan Cinta. Cinta adalah hasrat atau pemikiran yang universal, yang seharusnya tidak dibatasi oleh simbol-simbol produksi masyarakat. ketika seseorang ingin memnuhi hasrat mencintai atau dicintai oleh sesama manusia, lebih khusus yang berlawan jenis, seharusnya masing-masing orang tersebut memiliki kebebasan untuk saling mengaktualisasikan pemikiran dan hasratnya pada orang yang dicintainya sebagai pasangan hidupnya. 
pernikahan merupakan salah satu institusi hubungan manusia, yang pada kenyataannya merupakan perwujudan simbol dari hubungan manusia, yang memiliki serangkaian aturan-aturan dan nilai di dalamnya. berbagai aturan-aturan dan nilai ini juga yang menciptakan semacam syarat-syarat seseorang akan menjalani pernikahan, yang kemudian orang tersebut dikatakan pantas dan siap untuk menikah. jadi sekali lagi manusia seolah-olah dibatasi hanya untuk sekedar mengaktualisasikan hasrat atau pemikirannya untuk menjalin hubungan dengan lawan jenisnya. 
aturan dan batasan ini untuk kebaikan tentunya, yang katanya agar manusia tidak melampaui batas. tapi tidakkah kita boleh untuk mendapatkan ruang gerak yang lebih longgar dengan tidak selalu membenturkan tindakan dan sikap kita dengan berbagai smbol dan nilai . . . biarlah langkah ini berjalan tanpa harus ragu untuk melakukan apa, biarlah benak ini terus berputar dan menemukan kebenaran dengan jalan yang telah dipilihnya . . .
bukan bermaksud untuk tidak menerima aturan dan nilai yang ada tetapi berusaha untuk menelaah kembali apakah semua yang terkonstruksi sekarang ini memang sudah pantas . . .

Symbols

Kebanyakan orang memiliki pendapat yang sama mengenai kata dan perasaan Cinta, setidaknya setiap orang memiliki pemaknaan yang sama akan apa arti Cinta. Ini merupakan bentuk ekspresi emosi manusia yang paling universal, dan telah banyak memberikan energi positif. Pemaknaan dari Cinta itu sendiri selalu unidentified, itulah yang menyebabkan pemaknaan Cinta tidak terbatas oleh simbol-simbol tertentu. Cinta selalu dapat melampaui batasan-batasan simbolisasi kehidupan. Saya hidup dalam lingkungan sosial yg selalu membatasi ruang-ruang kehidupan dengan berbagai simbol. Aturan-aturan tradisi adalah salah satunya, dan yang paling berpengaruh. Keterlepasan simbol-simbol itu terasa begitu sulit. to be continued . . . .

Budaya pe"RanendahDiri"


Dalam menjalin hubungan dengan orang lain dan masyarakat selalu akan ada pola interaksi yang terbentuk. pola ini merupakan hasil dari kebiasaan dan repetisi aksi yang dilakukan seseorang atau masyarakat. ada berbagai pola interaksi yang terbangun dalam setiap masyarakat. karakteristik setiap pola ini pun akan berbeda menyesuaikan konteks kehidupan masyarakatnya. berbicara mengenai pola interaksi yang terjadi dalam masyarakat, menarik untuk diperhatikan pola interaksi pergaulan yang ada di sekitar kita (terutama masyarakat di sekitar Saya). bahwa ada yang di(Saya)sebut sebagai budaya pe"rendahdiri"an. budaya ini sering terlihat saat seseorang berinteraksi dengan orang lain atau bahkan di dalam keluarganya sendiri. budaya pe"rendahdiri"an adalah saat dimana seseorang selalu diposisikan atau dianggap rendah dari realita atau harapan yang sebnenarnya. mungkin ada teori psikologis atau sosiologis yang lebih komprehensif membahas mengenai masalah ini, namun yang Saya ungkapkan disini hanyalah berdasarkan dari pengalaman yang Saya lihat dan rasakan, tanpa merujuk pada suatu teori tertentu, dan tidak memiliki tendensi untuk melakukan upaya plagiarisme, jika memang sudah ada yang pernah membahas ini secara akademis. 
baik, kembali ke masalah budaya pe"rendahdiri"an tadi. motif yang mendasari adanya budaya ini bisa berbagai macam, beberapa kemungkinan yang dapat Saya kemukakan adalah. pertama, ini hanyalah sebuah bentuk candaan dalam proses berinteraksi, yang mana tujuan dari candaan ini hanyalah sebatas ingin membangun suasana yang tidak kaku. kedua, budaya ini dilakukan karena bertujuan untuk meningkatkan motivasi seseorang untuk melakukan hal yang lebih baik. ketiga, budaya ini merupakan suatu bentuk rasa ketidak percayaan seseorang atau masyarakat terhadap kemampuan seseorang atau bisa juga orang yang melakukan tindakan pe"rendahdiri"an ini ingin menyampaikan realitas sesungguhnya atas keadaan yang dihadapi oleh orang lain.  beberapa kemungkinan ini sama-sama memiliki tingkat ke"serius"an yang rendah, dalam arti pada dasarnya budaya pe"rendahdiri"an ini diungkapkan hanya sambil lalu saja, tanpa ada tanggapan yang serius. beberapa contoh sikap masyarakat atau seseorang yang melakukan budaya pe"rendahdiri"an sebagai berikut
A: Lagi ngapain lu ?
B: Lagi Belajar buat ujian besok
A: Hahahahaha . . Apa, belajar, ngapaaain, mau belajar kaya apa juga tetep aja lu bakal ngulang
B: he hehe . . (terkekeh miris, antara ingin membenarkan perkataan si A atau tetap percaya pada pendiriannya) << contoh ini memang agak sedikit berlebihan, tapi tak jarang orang yang pernah mengalaminya, dan tak jarang pula orang yang menanggapi serius interaksi yang terjadi tadi. lingkungan yang seperti ini, walaupun mungkin maksud manusia jenis si A hanyalah bercanda, namun telah membawa suatu aura atau dampak yang negatif. contoh kejadian lain tapi serupa yang terjadi di lingkungan keluarga,
pada suatu malam di ruang makan berkumpullah semua anggota keluarga yang sedang makan malam, ada ayah, Ibu, kakak dan adik, suatu perbincangan pun terjadi :
Ibu : mami denger dari toni tadi di sekolah kamu terpilih jadi ketua osis ya dek ?
sebelum sempat menjawab, sang kakak pun langsung menyambar 
Kakak : HAAAAAAAAAAAAAh APAAAAAA HAHAHAHAHA . . anak tengil, item, ingusan, yang bisanya ngegrocokin urusan orang gede aja ini jadi ketua osis, ga mungkiiin . . mau jadi apa tuh osis kalo kamu jadi ketuanya HAHAHAHAHA (tertawa puas yang melecehkan)
Adik : . . . -___-
oke, sekali lagi contoh di atas terlau berlebihan. tapi sekali lagi banyak orang yang mengalami kejadian yang serupa. situasi-situasi yang terjadi seperti contoh tersebut, baik disadari atau tidak telah mengakar pada masyarakat kita dan bisa dikatakan telah membudaya. memang mungkin situasi ini hanya banyak terjadi di lingkungan pergaulan diluar keluarga terutama pertemanan. seperti yang sudah Saya kemukakan, budaya ini secara periodikal dapat berdampak negatif, karena budaya ini sangat sarat dengan sikap pesimistik.
disadari atau tidak apabila situasi seperti contoh di atas berlangsung cukup panjang dalam kehidupan seseorang, maka tidak menutup kemungkinan, bahkan besar kemungkinan orang tersebut, akan selalu memandang dirinya bahkan kehidupan itu selalu sulit dan membutuhkan suatu perjuangan yang sangat keras untuk memperoleh harapan tertentu dan celakanya pandangan akan sesuatu yang selalu di lihat sulit, membuat orang tersebut menjadi terbebani dalam menjalani segala sesuatunya. jarang sekali orang yang merasa selalu senag dan ringan dalam melakukan sesuatu. dan ketika dia gagal melakukannya, maka banyak pembenaran dalam pandangan dan pikirannya akan kegagalannya itu, yang merupakan akumulasi dari berbagai bentuk pe"rendahdiri"an yang diterimannya sejak lama. hal inilah salah satu yang menyebabkan manusia ketika berada pada situasi kegagalan, dirinya merasa amat sangat terpuruk. 
mungkin ada sebagian orang yang akan mengatakan, kalau tidak dibegitukan, nanti dia akan menjadi sombong dan tamak, lupa bahwa kemampuannya merupakan pemberian dari yang maha Kuasa. << sekali lagi ini sudah menjadi sebuah prasangka (yang artinya belum tentu benar) buruk, dan menunjukkan sikap pesimistik. 
maka labih baik kita membangun budaya yang positif untuk menghasilkan suatu hasil yang positif baik bagi diri kita, orang lain dan lingkungan. berfokuslah pada apa yang baik, bukan sebaliknya. dan apabila yang terjadi yang sebaliknya, maka hadapilah dengan sikap yang sebaliknya. So Be Positive ever after :D
-Vicianto Kurnia Putra-

Kamis, 10 Mei 2012

Journey


Pada setiap perjalanan pasti akan mengarah kepada sebuah tujuan. Seperti halnya vektor dalam fisika, sebuah gerak pasti akan bergerak kepada sebuah arah. Namun arah atau tujuan itu tidak selalu sudah ditentukan. Bisa saja sesuatu bergerak karena adanya perbedaan tekanan, seperti angin, yang merupakan udara yang bergerak akibat adanya perbedaan tekanan dari dua tempat yang berbeda. Angin selalu bergerak dari tempat yang bertekanan udara tinggi ke tempat yang bertekanan udara rendah. Namun bagaimanapun perjalanan itu, selalu akan sampai pada sebuah akhir, ketika tidak perlu ada perjalanan lagi. Perjalanan selalu berbatas, dan batas itu adalah waktu. Waktu selalu menjadi batas ukur, ketika setiap orang mengatakan kata "sampai" terkandung dalam konsep kata itu mengenai batas waktu. Apabila kita berada pada sebuah ruang yang tidak memiliki batas waktu maka sudah tidak ada lagi perjalanan, karena kita sudah tak lagi bergerak. 
Pada setiap perjalanan selalu akan ada banyak hal yang ditemui dan dihadapi, karena kita tidak berjalan dalam ruang yang kosong. Kehidupan ini bukan ruang hampa, kehidupan ini adalah isi. Andaikan kita sedang melakukan perjalanan mendaki gunung, kita akan melewati hutan, kita akan melewati sungai, kita akan melewati tebing. Saat berjalan itu mungkin sungai merupakan masalah bagi kita, tapi kita hanya melewatinya, dan kita pasti akan lewat, dan terus berjalan, masuk ke hutan, di dalam hutan kita bertemu pokok pohon yang tumbang, mungkin memperlambat jalan kita, tapi kita melewatinya, dan kita pasti lewat dan terus berjalan. Perumpamaan lain, andaikan kita berjalan dari rumah menuju warteg. Dalam perjalanan kita bertemu anjing galak, kita dikejarnya sehinnga harus melewati jalan yang memutar, kita melewatinya, dan kita pasti lewat dan terus berjalan. setelah kita hampir sampai di warteg, tiba-tiba kita sadar dompet kita ketinggalan di rumah, kita harus kembali lagi, kita melewatinya, dan pasti kita lewat dan terus berjalan. Seberat apapun sesuatu yang ada di hadapan kita saat ditengah perjalanan, tidak akan menghentikan langkah kita untuk terus berjalan. Karena semua itu hanya akan kita lewati, sebagian akan meniggalkan kesan pada diri kita, sebagian lain ya hanya lewat. Kenapa harus risau, kalau semua itu hanya akan kita lewati. Kehidupan bukan sesuatu yang ada dalam pertengahan perjalanan itu, Kehidupan adalah keseluruhan perjalanan dengan sesuatu-sesuatu yang ada di dalamnya. untuk apa terlalu berfokus dan terbebani dengan sesuatu itu, apabila kita memiliki semuanya. yang kita lakukan hanyalah melewatinya, dan kita pasti lewat dan terus berjalan. 

Selasa, 08 Mei 2012

Believe in Allah


Salah satu ilmu yang mendasar dalam ajaran agama Islam adalah ilmu Tauhid, ilmu mengenai sifat keesaan Tuhan, bahwa tiada Tuhan selain Allah. ini lah yang menjadi dasar baik Islam ataupun kehidupan makhlukNya. saya bukanlah ahli agama, saya bukan alim ulama yang memiliki pemahaman yang dalam mengenai hukum-hukum Allah, saya hanya manusia biasa yang ingin menapaki sebuah jalan, yang menginginkan sebuah pemahaman. terkait dengan ketauhidan, apa yang saya pahami tentang ketauhidan adalah bahwa Allah adalah Tuhan saya yang satu, saya tidak boleh menyekutukannya, dan saya hanya boleh mempercayakan, menyandarkan, dan mengembalikan segala urusan kepada Allah semata. kemudian saya mendapatkan sebuah ilmu yang saya serap dari ucapan salah seorang yang berilmu bahwa, kandungan keesaan Allah adalah bahwa, segala kekuasaan ada di tangan Allah, bahwa semua yang ada di bumi dan langit, dunia dan akhirat merupakan milikNya semata. 
begitu besar kekuasaan Allah, hingga kita diperintahkan memohon hanya kepada Allah, karena hanya Allah yang dapat mewujudkannya. tapi seberapa besar tingkat kepercayaan kita terhadap Allah. saya coba membuat ilustrasi, suatu ketika badrul pergi ke pasar untuk membeli ikan gurami, ikan gurami yang ada di pasar kisaran harganya dari 30-45 ribu per ekor, badrul akan membeli dua ekor dan badrul memiliki uang dikantongnya sebesar 150 ribu. dengan uang sejumlah itu badrul memiliki keyakinan bahwa dia mampu untuk membeli dua ekor ikan gurami. bagaimana apabila badrul hanya memiliki uang 35 ribu, yakinkah badrul untuk dapat membeli 2 ekor ikan gurami. jawabannya bisa iya bisa tidak, tapi kebanyakan orang selalu mengukur kemampuannya, apabila dia tidak memiliki kemampuan lebih atau setidaknya sama dengan apa yang ingin diperolehnya, maka orang itu pasti urung melakukannya. namun ingatlah bahwa tidak ada kekuasaan yang melebihi kekuasaan Allah, mintalah kepada Allah maka akan diberikan, bahwasanya Allah sesuai dengan prasangka hambaNya. ada sebuah kisah yang saya dapatkan dari ustadz Yusuf mansyur, mengenai orang yang sungguh percaya kepada kekuasaan Allah. alkisah ada seorang yang mengirimkan kisah ini melalui surel kepada ustad yusuf, orang ini bercerita dalam surelnya bahwa, setelah dia mendengarkan ceramah ustadz mengenai Tauhid, orang ini langsung mempraktekkannya dengan keyakinan yang maksimal. dia menceritakan bahwa suatu ketika, dia hendak berbelanja ke sebuah supermarket besar, namun dia tidak akan membawa uang atau alat tukar seperti atm atau kartu kredit atau yang lainnya. dia tinggalkan semua itu dirumah, dia hanya membawa sebuah keyakinan bahwa semua yang ada di dunia ini milik Allah dan jika Allah berkenan, dan dia yakin Allah berkenan, karena dia percaya secara utuh kepada Allah dia akan mendapatkan apa yang diinginkannya. maka berangkatlah dia dengan berbekal keyakinan itu, sesampai di super market, diambillah troli blanjaan, dan berbelanjalah dia, sesuai dengan apa yang dibutuhkannya, setelah semua tercukupi, mengantrilah dia di kasir, dan dia masih yakin bahwa tanpa uang, karena ini milik Allah, dan dia percaya pada Allah akan memberikan apa yang dia butuhkan maka dia tenang dan tetap pada antrian. tanpa di duga dan tanpa di rencanakan, ternyata orang yang berada persis di belakangnya pada saat mengantri adalah muridnya (kebetulan dia adalah seorang guru) yang sudah katakanlah sukses, mereka saling tegur sapa, dan tanpa diminta, dengan sendirinya si murid ini membayar semua belanjaan orang tersebut. Subhanallah, itulah kebesaran kekuasaan Allah, apabila Dia berkehendak tidak ada yang dapat menghalanginya. 
kisah itu hanya lah sebuah ilustrasi, dan bahan instrospeksi diri bagi kita, bahwasanya ketika kita berikrar kita beriman, percaya kepada Allah maka secara otomatis kita harus menjalankan paket “percaya” kepadaNya. kita percaya akan perintah-perintahNya, aturan-aturan yang dibuatNya, dan tentunya percaya bahwa   apapun bisa terjadi atas kehendak Allah. dengan kita percaya dan menjalankan segenap perintah dan aturannya, maka kita pun mendapatkan hak untuk percaya bahwa Allah selalu ada untuk kita, kita hanya memohon, dan selalu berprasangka positif maka apa yang menjadi hajat kita dapat mewujud, meski dalam pandangan manusia kondisinya tidak memungkinkan, tetapi tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. 
sekali lagi saya hanya manusia biasa yang tidak memiliki ilmu apapun kecuali hanya sangat sedikit, saya hanya ingin memperoleh pemahaman dan ilmu. dan yang pasti saya tidak pernah luput dari kesalahan … .

Kesempatan


Banyak orang yang dikecewakan oleh orang lain entah itu dalam hal hubungan kerja sama, hubungan pertemanan atau hubungan cinta sekalipun. contoh sederhana terjadi dalam kehidupan sehari-hari bahkan mungkin kita sering merasakannya juga, seperti misalnya ketika kita berada si sebuah restoran atau tempat makan yang kita harus melakukan pemesanan, dan pada saat kita ingin memesan tidak ada seorangpun pramuniaga yang mendekat, atau saat kita sudah memesanpun, pesananpun tak kunjung datang. kebanyakan dari kita, dan saya yakin Anda juga, pasti akan kecewa, Anda merasa tidak dihargai dan dilayani dengan baik padahal Anda adalah sumber uang bagi mereka, tapi Anda merasa tidak mendapatkan hal yang setimpal, anda kecewa dan anda akan mengatakan “aku tidak akan kesini lagi”. tapi dalam kasus pertemanan biasanya hal-hal seperti itu masih bisa dikompromikan, ada istilah saling pengertian, meskipun hal itu pun selalu ada batasnya. untuk urusan cinta, yang terjadi lebih kompleks, tapi kecenderungannya memiliki dampak yang sama dengan kasus di restoran tadi. 
dalam menghadapi situasi seperti ini saya cenderung memiliki atau memberikan komformitas yang lebih. pada prinsipnya setiap orang selalu punya kesempatan untuk menjadi lebih baik. mungkin ini merupakan pemikiran yang naif. saya memang tidak bisa mengubah sifat orang, tapi saya bisa memberikan kesempatan. saya selalu dapat menerima semua alasan, atau bahkan saya mencari-cari alasan sendiri kenapa orang itu bisa melakukan hal seperti itu lalu menerima kondisi itu dengan maklum. pemakluman ini adalah bentuk pemberian kesempatan kepada oran itu untuk menjadi lebih baik. saya tidak melakukan apapun memang untuk membuat orang lain menyadari kesalahannya, saya bahkan tidak memandang sebuah “kesalahan” sebagai kesalahan, karena saya sudah memakluminya dengan alasan yang dia buat atau yang saya buat dengan versi saya sendiri, yang intinya saya tidak pernah mempermasalahkan hal itu lagi. bagi sebagian orang atau bahkan banyak orang apa yang saya lakukan merupakan bentuk peyiksaan pada diri sendiri, atau dalam beberapa kasus membiarkan ketidak adilan terjadi, karena saya membiarkan orang lain merampas hak saya untuk mendapatkan yang terbaik. tapi bukankah saya juga memiliki hak untuk bisa melepaskannya begitu saja, karena ini merupakan kepentingan yang berada dalam teritori saya dan orang itu. kemudian akan muncul pertanyaan, bagaimana kalau dengan saya membiarkannya orang itu akan berbuat hal yang sama kepada orang lain, dan tentunya orang lain yang tersakiti itu bukan saya ? saya hanya bisa menjawab, orang lain memiliki caranya sendiri untuk menghadapi perlakuan yang ditujukan kepadanya. oke, mungkin tidak sesederhana itu ya, mungkin saya akan melakukan perlawanan sekali waktu, tapi jelas perlawanan yang saya lakukan itu bukan untuk diri saya, tetapi untuk orang lain, yang tidak bisa menerima keadaan yang tidak seimbang. tapi saya kira itu akan jarang terjadi.
Tuhan tidak memiliki batas dalam memberikan pengampunan. manusia memang bukan Tuhan. jadi manusia juga tidak bisa berlaku seperti Tuhan, manusia memang memiliki keterbatasan, dan hanya Tuhan yang tahu seberapa jauh keterbatasan yang dimiliki manusia. jangan pernah mengatakan kesabaran telah habis atau tidak ada lagi maaf, bukan anda atau saya yang menentukan, tapi Tuhan. jadi janganlah berlaku seperti Tuhan bahwa anda atau saya bisa menentukan tidak memberikan maaf, padahal maaf Tuhan tidak terbatas, dan itulah ketentuannya. berdirilah sampai kaki saya atau anda benar-benar telah tidak bisa menopangnya, dan sesungguhnya tiada daya dan kekuatan kecuali datangnya dari Tuhan. 

Logika


Film berjudul Beautifull Mind adalah salah satu fillm fiksi ilmiah yang cukup booming ketika masanya, bahkan masih hingga sekarang. film itu menceritakan seorang ahli matematika jenius yang mendapatkan hadiah nobel atas karyanya, tetapi orang itu dianggap gila, karena diceritakan dalam film itu dia memiliki teman khayalan yang selalu menemaninya sepanjang hidup, dan dia menganggap kalau temannya itu adalah nyata. ini hanyalah sekelumit dari penggambaran begitu dahsatnya kemampuan otak dalam berpikir, terutama dalam penggunaannya dalam logika. logika secara kasar diartiakan sebagai sesuatu yang dapat diterima oleh indra fisik manusia. artinya sesuatu yang dianggap nyata secara fisik. matematika, fisika, biologi, kimia, dan semua ilmu alam lainnya berlandas pada asas ini. meskipun kemudian dalam perkembangan bahasa logika tidak hanya berkenaan dengan hal fisik. segala maca hal yang di luar fisik pun sekarang memiliki “logikanya” sendiri. tapi sejauh apa yang saya alami, logika selalu ingin menjauhkan diri dari segala macam hal yang di luar fisik. ini adalah doktrin para positivis di era modern. kemudian seolah-olah logika tidak bisa berdamai dengan yang di luar logika, dan ini berlaku hingga sekarang. saya sendiri adalah orang yang selalu menggunakan logika saya untuk mencari kebenaran dalam setiap hal, termasuk dalam mencari pengetahuan mengenai hal yang di luar fisik. banyak orang yang mengatakan “tidak semua hal dapat dipikirkan/dibuktikan dengan logika.” 
timbul kesangsian tersendiri dalam diri saya, sebenarnya seberapa jauh manusia diperbolehkan berpikir, seberapa jauh manusia boleh mempertanyakan. dalam agama yang saya anut dan saya percayai mengajarkan bahwa manusia selalu diingatkan oleh Tuhan untuk selalu berpikir. Tuhan memberikan akal sebagai anugerah yang tidak diberikan kepada makhluk lain selain manusia. ketika manusia bertanya untuk mencari kebenaran tentang Tuhan, apa itu salah, sedangkan Tuhan sendiri mengingatkan manusia untuk memikirkan kebenaran Tuhan itu. bukan untuk meragukan kebenaran Tuhan, tetapi justru untuk mengukuhkan bahwa Tuhan adalah kebenaran. jadi kenapa manusia tidak boleh menggunakan logika dalam mengukuhkan kebenaran Tuhan, sedangkan Tuhan sendiri memberikan akal bagi manusia untuk berlogika. 

Percayalah Pada yang Satu


Saya heran sendiri dengan apa yang terjadi di Negeri saya ini. pertikaian, perseteruan, ketidak adilan, selalu menjadi topik utama dalam pemberitaan media massa. ya sesungguhnya tema-tema seperti itu sudah tidak asing lagi, banyak negeri dan bangsa sejak dahulu memang mengalaminya. Kalau begini seolah situasi damai, adil, dan sejahtera hanya sebuah isapan jempol, utopia kalau kata orang-orang pintar. tapi ya sudahlah, saya tidak akan membahas mengenai “konflik” itu sendiri, karena itu sudah merupakan keniscayaan bagi anak manusia. yang membuat saya tidak habis pikir adalah persoalan perbedaan aliran agama, yang selalu menjadi masalah di negeri saya, terutama bagi para kaum muslim. kalau agama lain, memang secara substansi ajarannya berbeda. tapi yang masalah adalah ketika ada perbedaan aliran yang muncul dari satu agama. baru-baru ini masyarakat Madura, yang menganut Islam Syiah dianggap sebagai orang-orang sesat. okelah mungkin sudah banyak yang membahasnya dan mungkin apa yang ingin saya utarakan pun sama sebetulnya, tapi tetap saja saya merasa gatal. persoalan ini tidak baru terjadi di negeri saya ini, kasus-kasus serupa sudah sering muncul seperti kasus ahmadiyah, nabi palsu dll. saya mengerti mungkin orang-orang yang menyatakan apa yang berbeda diluar ajaran Islam yang selama ini diterimanya adalah sesat, adalah bertujuan untuk menjaga ketauhidan dan kemurnian dari ajaran “Islam” di Indonesia. yang saya sayangkan adalah, kenapa mereka begitu keras untuk menutup mata. ajaran Syiah sendiri memang bukan berasal dari akar budaya Indonesia, mungkin kalau ditelisik, akajaran ini lebih tua usianya dibandingkan kepercayaan Islam yang berkembang di Indonesia. masalah perdebatan apakah Syiah itu ajaran Islam yang murni atau tidak, tidak akan saya bahas, karena memang saya tidak punya kompetensi, dan lebih permasalahan itu kurang patut untuk selalu diperdebatkan. persoalan yang menjadi kegundahan hati saya adalah, mengapa masyarakat negeri saya bisa begitu yakin kalau apa yang selama ini diterimanya merupakan benar-benar ajaran yang benar. banyak sebetulnya sebagian masyarakat yang mempraktekkan ritual-ritual yang dipercaya sabagai ajaran Islam. ya, secara esensi memang tujuannya adalah satu yakni mengesakan Tuhan yang satu. tetapi ada beberapa praktek ritual agama yang muncul dari akulturasi dan asimilasi kebudayaan asli nusantara. dari sini Indonesia memiliki karakteristik Islamnya sendiri. artinya apa, ada beberapa hal yang sebetulnya tidak ada dalam ajaran Zaman Nabi, yang kemudian ada di Indonesia, dan itu diterima, dan bagi masyarakat Indonesia sendiri itu tidak menjadi soal. dengan kenyataan seperti itu, kenapa masyarakat Indonesia, sebegitu menutup matanya, dan menganggap ajarannya adalah paling benar, okelah semua penganut ajaran apapun pasti akan mempercayai bahwa ajarannya itu yang paling benar, tetapi menurut saya tuduhan bahwa ajaran lain yang sebetulnya secara esensi dan substansial itu sama dikatakan sesat, ini merupakan sebuah tuduhan yang amat keras, manifestasi dari keangkuhan yang tinggi. dalam ayat suci sendiri sudah dikatakan sebenarnya bahwa “….agamamu agamamu, agamaku agamaku …” 
saya percaya ketauhidan memang harus dipertahankan, tetapi kalau terus berfokus pada perbedaan, urusan masyarakat atau ummat pasti selalu menjadi korban. Astaghfirullah …
fokuslah pada yang Satu, Percayalah hanya pada yang Satu yaitu ALLAH

Tata Tentrem (utopis)?

Dalam cerita dongeng atau dalam kisah-kisah dalam film situasi sebuah pedesaan selalu di gambarkan dengan keadaan yang asri, tentram keadaan sosial yang gotong royong, saling tolong menolong dll. Tetapi beberapa hari lalu saya menyaksikan acara talk show salah satu televisi swasta nasional, dimana salah satu pembicara mengatakan bahwa, kondisi pedesaan yang tergambar di atas tadi hanyalah mitos dan utopis. Seolah-olah jadi dunia ini penuh konflik, tidak ada yang namanya ketentraman, semua orang harus waspada dan selalu curiga pada orang lain, tidak ada yg gratis di dunia ini. Yaaa memang sih, kalau kita melihat kondisi yg damai itu memang sangat jauh dari sempurna, pasti lah ada konflik. Tapi pernyataan pembicara tadi memberi kesan yang sangat negatif. Saya sendiri sebagai yang berasal dari desa, mengakui memang pasti ada konflik, terutama dalam hal2 yg sensitif seperti kekuasaan. Tapi secara umum kondisi di desa cukup kondusif dan tersirat apa yg tergambar di atas tadi. Keramahan, gotong royong, menolong tanpa pamrih, dan saling berbagi. Bahkan pada orang2 yang tak dikenal pun. Berbeda keadaannya di kota metropolitan seperti Jakarta. Berjalan di tengah kota Jakarta, hati selalu was-was, waspada terhadap setiap orang. Bahkan mau menolong orang pun masih ada rasa curiga. Saya pernah, bertanya jalan kepada pedagang asongan di daerah blok m, dia tidak langsung memberikan jawaban, kedua kali saya bertanya baru dia menjawab, pun dengan wajah tidak suka, tiada keramahan sama sekali. Oke mungkin akan ada orang yang bilang, ga semuanya begitu kok, masih banyak orang yg ramah dan baik. Iya memang tp aku yakin, jumlahnya pun jarang. Hawa yang ada tuh kayaaknya tuh konflik terus, ada yang nyolot sana nyolot sini. Kenapa musti begitu, kenapa dikatakan Jakarta itu keras, coba dr dulu Stereotipe itu ga ada . . Kenapaaaaaaaaa . .

Gosip


Tidak disangkal lagi kekuatan kata-kata memang lebih dahsyat daripada berbongkah-bongakah bom nuklir. Setiap kata yang membentuk untaian kalimat, penuh dengan makna-makna yang tersemat didalamnya. Setiap makna yang tersemat memiliki eksistensinya sendiri, dimana setiap orang akan memiliki intepretasi yang berbeda-beda atas makna tersebut. celakanya, pemikiran manusia tidak dapat dibendung dan dikontrol begitu saja. 
Gosip adalah salah satu fenomena yang sudah ada mungkin dari sejak manusia pertama ada di dunia. gosip merupakan salah satu manifestasi kemampuan manusia untuk memproduksi dan mereproduksi makna, dari untaian kata dan kalimat. gosip tumbuh dari sebuah absurditas objek yang berkembang menjadi sebuah simulakra (waaah makanan apa pula itu —”, bagi yang tidak mengerti coba carilah penjelasannya sendiri heheh). tampaknya setiap manusia memiliki bakat untuk menciptakan gosip, karena pertama, sifat dasar manusia yang sangat ingin tahu (bahkan untuk hal yang bukan urusannya). dan kedua adalah bahwa manusia ditakdirkan untuk membentuk masyarakat (mungkin ga ada hubungannya), tapi yang jelas kalau manusia tidak hidup berkelompok tidak mungkin pula ada gosip, saya pikir ini adalah sesuatu yang niscaya. 
gosip dapat berkembang bahkan melebihi dari substansi objek yang digosipkan. tersebar begitu saja, seperti virus yang menyebar ditubuh yang tak berimun. dampaknya begitu besar dan cenderung destruktif. jadi waspadalah dengan pikiran dan mulut Anda. 

Are we belonging to human kind ?


Setiap orang pasti memiliki seseorang yang dianggap berarti. Bisa orang tua, saudara, sahabat, kekasih, dll. Semua kerabat itu dianggapnya berarti karena mereka telah memberikan sesuatu yang sangat dibutuhkan. Perhatian, kasih sayang, bahkan makian dan hujatan. Kita akan sangat merasa kehilangan apabila salah satu di antara mereka tiada. akan sangat berarti rasa kehilangan itu ketika kita sudah memiliki perasaan yang begitu dekat dan terjalin hubungan saling mengerti di antara kita. Saya bicara dalam konteks hubungan antar manusia, termasuk keluarga di dalamnya (saya heran, kalau membicarakan soal hubungan manusia selalu saja diasosiasikan hubungan dua pasang lawan jenis yang sebelumnya tak punya hubungan apa-apa, sungguh dangkal sekali*menggerutu sendiri) oke back to topic. 
Apabila kita ditinggalkan oleh kerabat yang kita sayangi dan mungkin begitu berarti bagi kita, kita akan merasakan sebuah perasaan yang dalam. Teringat kembali berbagai memori yang pernah kita alami dan yang terkait dengan orang yang meninggalkan kita. Bahkan sesungguhnya kepada orang yang tidak kita kenal secara langsung pun kita bisa merasakan perasaan kehilangan yang serupa. contohnya ketika ada seorang pesohor yang kita sukai meninggal. Akan ada perasaan mendalam yang seolah tidak ingin menerima bahwa dirinya telah pergi. 
Setiap orang yang berarti bagi orang lain, pasti akan meninggalkan jejak yang mendalam, baik dalam pikiran maupun sanubari jiwa. mengingat semua orang itu pasti memiliki arti dalam kehidupan ini, seharusnya kita akan merasa kehilangan apabila mendengar kabar ada seseorang meninggal. Tapi kenyataannya kita akan merasa datar saja ketika mendengar ada seorang tak kita kenal meninggal. kenapa demikian ? akan ada yang menjawab “memang dia siapa saya ?” atau “aneh-aneh aja, kenal aja enggak, kenapa saya perduli?” atau ada yang lebih punya hati “Innalillahi wa innailaihi rojiun, semoga amal dan ibadahnya diterima di sisiNya dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan ?” kalimat terakhir ini ada yang mengucapkannya dengan sungguh-sungguh, tapi ada pula yang hanya sekedar menunaikan kewajiban kulturalnya. Terlepas dari itu semua, yang pasti adalah bahwa setiap manusia di dunia ini diciptakan memiliki arti bagi manusia lainnya, tidak perduli apakah dia kita kenal, sedikit kenal atau bahkan yang tidak kita kenal sama sekali. Jadi setiap ada manusia yang tiada kita telah kehilangan makhluk Tuhan yang memiliki potensi besar berpengaruh kepada kita. Kenapa kita tidak bisa merasa kehilangan kepada orang yang tidak kita kenal, yang padahal belum tentu mereka tidak memiliki arti untuk kita ?

Meaning of Life

Apa yang saya mengerti sejauh ini adalah hasil dari penglihatan dan olah pikir saya. Ini yang perlu digaris bawahi, olah pikir. Apa yang saya lihat hanyalah sebuah fakta objektif yang tak bermakna. Semua yang ada di dunia ini sebenarnya tak bermakna apapun. Kitalah manusia makhluk pemberi makna. Dan pertanyaannya, apakah manusia adalah makhluk yang bermakna? Pertanyaan macam apa pula itu hmmm. Banyak orang berkata kalau manusia bermakna itu adalah manusia yang berpengaruh dan berguna bagi orang lain. Apa yang Anda pikirkan sekarang ? Ya tidak salah lagi, manusia diberi makna pun oleh manusia, karena apa yg telah diperbuatnya. Intinya adalah manusia tidak akan bermakna apabila dirinya hanya seorang. Dia baru bermakna apabila ada orang yang beranggapan begitu. Itulah mengapa manusia memiliki akal untuk mengolah fakta objektif agar menjadi fakta subjektif yang bermakna. Dan fakta subjektif itu baru memiliki artinya apabila banyak orang yang mengakuinya. Butuh peran semua orang untuk membuat kehidupan ini penuh dengan makna.