Tampilkan postingan dengan label Places. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Places. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Oktober 2013

Jalanan dan Sudut Kota Purwokerto Part II

Sebelumnya saya sudah memposting foto-foto sudut-sudut kota Purwokerto yang saya dapatkan pada saat kunjungan mudik saya pada tahun 2012. Tahun 2013 ini saya berkesempatan untuk kembali lagi ke kota kelahiran saya untuk menghadiri acara reuni SMA (SMA N 2 Purwokerto). Kesempatan ini tidak saya sia-siakan begitu saja, maka sehari sebelum acara reuni saya melakukan perjalan keliling kota Purwokerto, untuk mendapatkan sejepret dua jepret gambar yang tidak saya simpan dalam alam kenangan saya tetapi juga berbagi untuk dunia (hehehe lebay amat). Sementara ini saya hanya berkesempatan untuk mengabadikan beberapa tempat di kawasan kota saja, di lain waktu saya akan menjelajah lebih jauh di kawasan Banyumas pada umumnya. Baiklah tak usah berlama-lama lagi inilah beberapa jepretan yang berhasil saya dapatkan. 


 (Siluet Gunung Slamet, St. Purwokerto)

(Stasiun Purwokerto) 

(Interior Stasiun Purwokerto)

Tiga gambar di atas diambil dari kawasan Stasiun Purwokerto. Keberadaan stasiun Purwokerto sendiri sudah ada sejak jaman Belanda, jalur kereta dibangun ketika itu untuk memudahkan distribusi produksi tebu yang banyak ditanam dikawasan Jawa, selain kemudian digunakan untuk mengakomodir kebutuhan transportasi masyarakat. Konon bahan-bahan konstruksi dalam interior stasiun Purwokerto tersebut, seperti rangka-rangka baja, masih asli dari jaman ketika stasiun itu dibangun.

(Lokomotif uap seri C1411)

Lokomotif uap seri C1411 merupakan salah satu peninggalan perkeretaapian masa lampau Purwokerto. Lokomotif ini pernah digunakan oleh Serajoedal Stoomtram Maatschappij atau Perusahaan Kereta Uap Lembah Serayu. Lokomotif ini yang menjadi salah satu "penggerak" perekonomian bangsa Belanda di Jawa. saat ini Lokomotif tersebut menjadi monumen yang tersimpan di bekas Stasiun timur Purwokerto, di JL. Jenderal Sudirman. 

(Tugu Pembangunan)

(Tugu Pembangunan)

Pada catatan perjalanan sebelumnya saya sudah menampilkan gambar Tugu Pembangunan ini yang berlokasi di simpang tiga JL. Gatot Subroto dan Jl. Merdeka. Kala matahari telah terbenam tugu ini disorot oleh lampu berbagai warna, yang memberikan kesan dramatis dan keindahan ketika malam. Menjadikan Kota Purwokerto lebih berwarna.

(Gedung Rumah dinas Bupati/ Residentwoning/ eks. Tempat tinggal Residen Banyumas di Purwokerto, Jl. Gatot Subroto)




Pada catatan sebelumnya saya pun sudah mengulas sedikit mengenai bangunan ini. Dapat terlihat foto terakhir merupakan foto lama saat gedung ini baru selaesai dibangun, hingga kini bangunan itu pun tak banyak mengalami perubahan. Dengan arsitektur yang demikian tidak berlebihan apabila gedung tersebut merupakan bangunan termegah pada masanya.

(SMP N 1 Purwokerto, Tempo Dulu)

(SMP Negeri 1 Purwokerto)

Mari kita beranjak ke kawasan JL. Jenderal Sudirman. Di kawasan ini ada salah satu sekolah menengah tingkat pertama yang keberadaan bangunan fisiknya sudah ada sejak masa pendudukan Belanda (kisaran waktu tahun 1940an). Sebelum bangunan tersebut dimanfaatkan menjadi sekolah, bangunan tersebut merupakan kantor kepolisian Belanda, yang seiring berjalannya waktu kerap beralih fungsi hingga pada tahun 1948 bangunan tersebut digunakan untuk sekolah hingga saat ini. Dapat terlihat meski waktu telah berlalu dan selalu mengalami pergantian fungsi, bangunan tersebut masih terlihat tidak banyak perubahan. 

 (Masjid Agung Baittussalam, Purwokerto, Tempo Dulu)

 (Masjid Agung Baittussalam, Purwokerto)

(Interior Masjid Agung Baittussalam, Purwokerto)

Masjid Agung Baittussalam yang berlokasi di kawasan Alun-alun Kota Purwokerto merupakan masjid besar yang menjadi pusat peribadatan masyarakat Purwokerto. Pada Foto tempo dulu dapat terlihat para tentara KNIL yang tengah beristirahat di depan masjid Agung Purwokerto. 

(Hulp En Spaar Bank, Purwokerto)

(Hulp En Spaar Bank, Purwokerto)

(Museum BRI dan Patung R.A. Wirjaatmadja)

Bangunan dengan papan nama Hulp En Spaar Bank tersebut merupakan bangunan cikal bakal Bank Rakyat Indonesia atau BRI, yang kini menjadi salah satu Bank terbesar di Indonesia. Bank ini didirikan oleh R.A. Wirjaatmadja pada masa pendudukan kolonial Belanda pada tahun 1895, dengan nama De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden. Bank tersebut diperuntukan untuk perekonomian mikro masyarakat Purwokerto. Bangunan tersebut kini dimanfaatkan sebagai Museum Bank Rakyat Indonesia. 

 (Bakso Telkom)

(Warung bakso Telkom)


Oke sekarang saya akan sedikit membahas mengnai kuliner kesukaan saya yang ada di Kota Purwokerto. Sebenarnya ada banyak kuliner yang ada di kota Purwokerto. Salah satu yang menjadi favorit saya adalah Bakso Telkom yang berlokasi di sebelah kantor Telkom yang ada di Jalan Merdeka, yang saya suka dari Bakso ini adalah tambahan cincangan jeroan sapi. Meski dengan kondisi warung yang sederhana namun rasa dapat dijamin.

(Klenteng Hok Tek Bio, Pasar Wage, Purwokerto)

(Klenteng Hok Tek Bio, Pasar Wage, Purwokerto)

(Pedagang Pisang, Pasar Wage, Purwokerto)

(Toko Kelontong, Pasar Wage, Purwokerto)

(Bangunan Lama, Bernuansa Arsitektur Tion Hoa)


Pasar Wage merupakan pasar induk tradisional di Purwokerto, kata wage berasal dari nama hari dalam kalender jawa (Legi/manis, Pahing, Pon, Wage, Kliwon) pada masanya Pasar, seperti pasar di tempat-tempat lain beraktifitas berdasarkan hari, Pasar wage maka pada masanya adalah pasar yang buka atau beraktifitas hanya pada hari Wage dalam kalender Jawa, nama tersebut hingga kini masih tetap digunakan. sejak dulu kawasan pasar wage dihuni oleh orang-orang keturunan Tiong Hoa/Cina dan Arab, kawasan arab di pasar wage kini dikenal dengan nama Kauman, tak heran karena jika kawasan ini ditempati oleh para pendatang karena fungsinya sebagai penggerak roda perekonomian. Maka dapat terlihat dari peniggalan bangunan yang ada di sekitar kawasan Pasar Wage, ada sebuah klenteng yang dibangun oleh masyarakat Tiong Hoa, bangunan-bangunan lama yang ada di sekitar kawasan tersebut pun sangat berciri khas arsitektur Tiong Hoa. 

(Becak Tua, di sudut gang Kawasan Pasar Wage)

(Becak Tua, di Sudut Kawasan Pasar Wage)

(Sudut gang Kawasan Pasar Wage)

Foto-foto di atas merupakan salah satu sudut gang di kawasan Pasar Wage Purwokerto. dibawah ini ada beberapa site yang ada di sekitar Purwokerto.

(Salah satu gang di kawasan Pereng, Belakang Lapas Purwokerto)

(Kali Banjaran, Kawasan Sawangan, Purwokerto)

(Trotoar di Depan Kotatip, Jl. Jenderal Sudirman, Purwokerto)

Purwokerto merupakan salah satu kota di Jawa Tengah yang masih relatif tenang, hiruk pikuk lalu lintasnya pun masih tidak begitu ramai. masih nyaman untuk melakukan penjelajahan di sekitar kota Purwokerto dengan berjalan kaki. Demikianlah sekelumit hasil jeprat-jepret saya selama berada di Purwokerto bulan Februari lalu. Purwokerto kota yang akan menjadi tujuan pulang saya. 



  

Minggu, 20 Januari 2013

Banjir Jakarta 2013

Jakarta sebagai kota megapolitan kerap menemui berbagai permasalahan, salah satu yang seolah sudah menjadi permasalahan langganan adalah banjir. Jakarta memiliki siklus 5 tahunan diterjang banjir besar, meski juga di setiap tahunnya Jakarta juga tergenangi banjir di beberapa wilayah dengan intensitas keci hingga sedang. Siklus 5 tahunan ini setidaknya sudah terjadi sejak tahun 2002, 2007, dan sekarang tahun 2013. Kondisi banjir pada tahun 2013 ini dikatakan sebagai kondisi terparah dibandingkan pada banjir-banjir periode sebelumnya. Hampir semua kawasan Jakarta tergenangi oleh banjir, dari yang setinggi lutut orang dewasa sampai ada kawasan yang tergenang hingga kedalaman 470cm menurut keterangan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto saat diwawancarai di acara talk show salah satu stasiun televisi swasta nasional. Setidaknya ada 15.423 jiwa yang mengungsi berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) (data update tanggal 18 Januari 2013), yang tersebar di beberapa titik wilayah Jakarta. Sampai tulisan ini dipublikasikan, banjir di beberapa wilayah masih belum surut, bahkan menurut berita yang ditayangkan di beberapa televisi swasta, kawasan Pluit, Jakarta Utara mengalami kenaikan intensitas banjir. Berikut beberapa gambar yang saya peroleh ketika saya datang ke salah satu kawasan yang tergenang banjir di Kampung Melayu, Jakarta Timur.
  






 (Banyak terlihat anak-anak yang menjadikan genangan air ini sebagai tempat bermain)

Wilayah Kampung Melayu ini sempat menjadi salah satu kawasan yang terkena dampak paling parah dari banjir. Namun ketika gambar ini diambil ketinggian air sudah mulai surut. Ketinggian air kurang lebih antara  lutut orang dewasa hingga pinggang, tapi memang ada beberapa wilayah yang ketinggian airnya masih kurang lebih setinggi dada orang dewasa. 

(genangan air dan lumpur sisa banjir)

(petugas kebersihan yang tengah membersihkan sisa banjir)

 (jalanan yang telah surut dari banjir dipadati oleh pedagang makanan)

Tergenangnya badan jalan dari arah Tebet-Kampung Melayu, mengakibatkan akses jalan tersebut tidak dapat dilalui oleh kendaraan bermotor. Jalan layang Tebet-Kampung Melayu pun juga tidak dapat dilalui meski badan jalan layang tidak turut tergenang banjir. Tampak jalan layang lengang, bahkan banyak orang yang duduk-duduk dan melintasi jalan tersebut dengan berjalan kaki. Di kedua sisi badan jalan dari arah Tebet-Kampung Melayu dan sebaliknya tampak beberapa orang yang menawarkan jasa gerobak untuk mengangkut orang-orang atau Sepeda motor yang ingin menyeberangi badan jalan yang tergenang air. 





 (tampak jalan layang yang dilalui oleh pejalan kaki dan salah seorang anak tengah duduk di pemisah badan jalan layang)

(salah satu warga yang menawarkan jasa gerobak)

(tampak sepeda motor yang diangkut oleh gerobak)

(warga yang menggunakan jasa gerobak untuk melintasi genangan air)

(tampak warga berdempetan di atas gerobak, akan melintasi genangan)

(tampak sepeda motor yang mogok akibat nekat menerobos genangan)

Banjir di kawasan Kampung Melayu ini terjadi akibat dari meluapnya Sungai Ciliwung yang melintas di kawasan terebut. Terlihat pula sampah yang menumpuk di aliran Sungai Ciliwung tersebut, sampai-sampai orang dewasa dapat berdiri di atasnya tanpa takut amblas. Sampah memang salah satu penyebab dari terhambatnya aliran sungai, sehingga meluap ke kawasan permukiman penduduk. 

(sungai Ciliwung yang meluap hingga ke permukiman)

(aliran air sungai Ciliwung yang cukup tinggi)

(tampak sampah yang menumpuk dan menghambat aliran sungai)

(seorang pemulung yang tengah memilah di atas tumpukan sampah)

(tampak dari kejauhan seorang camera person dan reporter salah satu televisi swasta nasional yang tengah melakukan laporan langsung, serta pemulung berdiri di atas tumpukan sampah di aliran sungai Ciliwung)

Peristiwa bencana banjir ini mengundang simpati banyak pihak. Banyak posko-posko bantuan banjir yang didirikan di sekitar kawasan Kampung Melayu. Warga sekitar juga nampak sibuk menanggulangi banjir yang  melanda kawasannya. Tidak hanya warga biasa saja yang terpanggil untuk meninjau dan memberikan bantuan kepada korban banjir, salah satu selebriti nasional, Derry Sudarisman atau dulu yang lebih kita kenal dengan sebutan Derry Empat Sekawan juga nampak tengah meninjau kawasan banjir di Kampung Melayu tersebut. 


(beberapa posko bantuan banjir yang terlihat di sekitar kawasan Kampung Melayu)

(tampak warga setempat tengah membuka saluran air)


(tampak relawan animal rescue dari Dompet Dhuafa)

(Derry Sudarisman yang tampak di lokasi banjir)

Peristiwa ini menjadi tantangan bagi pemerintahan Gubernur DKI baru Jokowi dan seluruh jajarannya.  Pemerintah provinsi dan Pusat dituntut untuk dapat mengurai permasalahan banjir di Ibu Kota ini. Jangan sampai pusat pemerintahan dan perekonomian Indonesia ini kelak benar-benar lumpuh akibat penanganan yang kurang bijak dalam permasalahan ini. Tetapi selain peran pemerintah baik pusat maupun daerah, patut diingatkan pula bahwa perlu adanya kesadaran dari warga yang tinggal dari hilir sampai ke hulu yang dilewati  oleh sungai yang menyumbang aliran airnya ke Jakarta, untuk lebih perduli lagi terhadap pelestarian lingkungan. Momen ini juga menjadi bahan evaluasi dan instrospeksi diri bagi setiap orang, untuk lebih perduli dengan keadaan lingkungan sekitarnya. Lebih baik mencegah, dari pada mengobati.