Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Desember 2013

Inyong Wong Ngapak (Saya Orang "Ngapak")



Suatu waktu, di salah satu restoran cepat saji di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta.
A: eh  elu kan si B ya, anak SMA x Purwokerto kan
B: iya bener. lah kowe kan si A ya, bocah kranji mbok. kepriwe kabare. wis suwe banget ora ketemu ya.
A: iya, lu sekarang dimana, udah lama nih kita nggak ngobrol-ngobrol
B: ...

(peristiwa, nama tempat dan situasi hanya rekaan penulis saja).

Saya kerap kali menemui situasi seperti tergambar di atas. sekilas memang tidak ada yang aneh, namun bagi saya ada kejanggalan mendasar. Sebelumnya saya akan sedikit memaparkan latar belakang diri saya. Saya adalah orang rantau yang berkat keberuntungan dan ijin Tuhan dapat tinggal di kota yang bersinggungan dengan kota metropolitan Jakarta. Saat ini saya tinggal di kota Depok, untuk kepentingan akademis. Saya lahir dan menghabiskan masa kecil hingga remaja di kota Purwokerto, salah satu kota di Jawa Tengah. Purwokerto atau Banyumas memiliki karekteristik budaya yang unik jika dibandingkan dengan kultur Jawa pada umumnya, terutama dapat terlihat dari dialek bahasa yang digunakan. Dialek bahasa ini sering disebut dengan bahasa Ngapak, sebenarnya dialek ini tidak hanya dituturkan oleh orang Banyumas, tetapi juga beberapa wilayah yang berdekatan dengan Banyumas, seperti Purbalingga, Banjarnegara, Cilacap, Kebumen. Ciri yang mudah dikenalli dari dialek ini adalah, warna bahasa yang terdengar lebih kasar dan tegas dibandingkan bahasa Jawa pada umumnya. sebagai contoh, ketika orang mengatakan "jangan seperti itu", bahasa Jawa pada umumnya akan menjadi "Ojo koyo ngono" (dalam bahasa tulis seharusnya vokal O, tetap ditulis A) sedangkan dalam dialek Banyumas akan menjadi "Aja Kaya Kuwe" vokal A tetap jelas dilafalkan A. Mungkin dalam bahasa tulis tidak akan terlihat jelas perbedaannya. Justru ketika dituturkan akan terasa jelas perbedaannya. Dari penekanan intonasi dan keunikan dialek itu, sering kali bahasa Banyumas atau ngapak dianggap bahasa yang lucu, kasar dan rendah oleh masyarakat di luar kelompok penutur bahasa ngapak tersebut. 

Berangkat dari pandangan tersebut, yang menjadi dasar munculnya fenomena yang penulis gambarkan di atas, muncul kegelisahan dalam diri saya. Sedemikian rendahnyakah bahasa ngapak? dan saya kira fenomena ini tidak hanya berlaku bagi masyarakat Banyumas saja, tetapi juga orang-orang "daerah" atau masyarakat lokal pada umumnya. Banyak orang-orang lokal yang kemudian merasa malu menuturkan bahasa lokalnya ditengah masyarakat kota, karena mereka merasa bahasa lokal mereka adalah bahasa yang lebih rendah dari bahasa Indonesia, fenomena ini jelas terlihat di kota metropolitan seperti Jakarta. Ya memang kita tidak bisa menggunakan bahasa lokal di tengah forum yang majemuk, namun yang menjadi masalah adalah ketika komunikasi yang berlangsung hanyalah antara sesama penutur bahasa lokal, katakanlah sesama orang yang berasal dari Purwokerto, dan yang dibicarakan pun masalah personal kedua orang tersebut. Salah satu pelaku komunikasi itu merasa tidak nyaman apabila harus menggunakan bahasa ngapak di tengah masyarakat kota, mereka lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia (yang sering kali juga dipaksakan, karena masih terdengar dialek asli daerahnya) supaya tidak dianggap rendah, ndeso, tidak berpendidikan dan cap-cap negatif lainnya yang melekat pada bahasa lokal tersebut. Bahkan suatu ketika kawan penulis dengan terang mengatakan, jangan pakai bahasa ngapak lah kalau di Jakarta, terlihat ndeso katanya. Bahkan, jangankan di kota seperti Jakarta, di kota dimana bahasa ngapak berasal pun banyak anak-anak muda yang merasa malu atau tidak "gaul" apabila menggunakan bahasa ngapak. saya menyaksikan sendiri sekumpulan remaja di dalam angkutan umum di Purwokerto yang berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia, dengan sapaan "elu" "gue". 

Miris rasanya melihat fenomena tersebut, pertama karena Bahasa Indonesia yang seharusnya berfungsi menjadi bahasa persatuan, yang fungsinya lebih kepada bahasa perantara yang menghubungkan masyarakat yang majemuk, menjadi dalam konteks ini bahasa yang menegaskan kesenjangan, baik itu secara kultural maupun intelektual. Secara sadar ataupun tidak orang-orang lokal yang munggunakan bahasa Indonesia ditengah kelompoknya sendiri, seolah merasa dirinya lebih berintelektual. Kedua, bahasa daerah semakin terpinggirkan dengan segenap konsekuensi berantainya, secara tidak langsung dalam kasus orang yang malu menuturkan bahasa ngapak ditengah masyarakat kota, dirinya pun malu akan identitasnya dari mana dirinya berasal. Poin yang ingin saya sampaikan adalah, bahwa kedudukan setiap masyarkat, budaya dan bahasa yang ada di nusantara adalah setara. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan pun tidak menjadikannya bahasa yang mengatasi apapun. 

Dadi ya aja isin-isin dadi wong ngapak. Dewek kuwe pada karo wong-wong liyane. sing nduwe kesempatan nggo dadi apa bae. Aja ngasi kelalen asale dewek kuwe kang ndi.

"Bersatu kita Kompak, Bicara Kita Ngapak, Ora Ngapak, Dupak!!"

Kamis, 31 Januari 2013

Pertanyaan Mubah

Banyak orang iseng mempertanyakan sesuatu hal yang sebelumnya tidak pernah ditanyakan, karena dianggap hal tersebut memang sudah seperti itu sejak dulu. Contoh pertanyaannya, kenapa sih "padi" dinamakan padi ? atau kenapa sih kita disebut manusia ? menurut saya pertanyaan-pertanyaan macam ini tidak perlu ditanyakan, bukan karena tidak ada jawabannya tetapi lebih karena tidak perlu dipermasalahkan. atau ada juga orang yang biasanya bilang "untung kalo kita ngangkat telpon sapaannya 'halo' ya bukan 'ahoy',  nanti kalau 'ahoy' orang salah kira jadi 'asoy'" peryataan seperti ini juga kurang pas bagi saya, kenapa ? karena seperti apapun sebutannya, "manusia", "padi", "halo", "ahoy" kita akan selalu mempertanyakan itu. kalau dulu, bukan disebut "manusia" misal disebut "harok" pasti akan tetap ditanya kenapa sih disebut "harok". kemudian untuk masalah "halo" dan "ahoy" saya kira kalaupun sekarang tetap memakai "ahoy" tidak akan ada masalah, karena memang sudah diterima sejak dulu, kata asoy sendiri datangnya belakangan dari ahoy. Pertanyaan dan pernyataan seperti ini menunjukkan bahwa manusia seperti tidak pernah puas dengan apa yang sudah dimilikinya. Mungkin akan ada yang menyanggah, "lah kan itu bentuk keingintahuan manusia" kalau saya sendiri sih berpendapat itu bukan rasa ingin tahu, tapi ya lebih seperti rasa ketidak puasan. "kenapa sih namanya Jeruk bukan Bokak ?" kalau pun namanya Bokak, pasti akan ditanya "kenapa sih namanya bokak ?" 

Minggu, 13 Januari 2013

Pegoyang Dangdut

Musik dangdut tidak pernah terlepas dengan yang namanya goyangan. Irama kendangnya yang menyentak-nyentak memang selalu membuat para pendengarnya untuk bergoyang. Bahkan musik dangdut yang berisikan lagu sedih pun selalu dapat membuat para pendengarnya untuk bergoyang, ya minimal menggoyangkan jempolnya lah hahaha. Seolah dangdut tanpa goyangan, seperti sayur tanpa garam, seperti kata Inul Daratista dalam sebuah petikan lagunya. 

Musik dangdut adalah salah satu aliran musik yang tampaknya dapat diterima oleh hampir seluruh kalangan masyarakat Indonesia. Kalau kata P Project Dangdut is the music of my country, dangdut sudah menjadi identitas bangsa Indonesia. Perkembangan musik dangdut sekarang pun sudah mulai variatif. namun saya tidak akan membahas mengenai jenis-jenis musik dangdut yang tengah berkembang sekarang. saya akan membahas fenomena baru yang muncul terkait dengan musik dangdut ini. Saya melihat sekarang para penyanyi dangdut, terutama penyanyi dangdut wanita, lebih menjual ragam goyangan ketimbang kualitas vokal atau lagu dangdut itu sendiri. tidak seperti masa-masa sebelumnya ragam musik dangdut lebih beragam dari sisi isi lagunya dan para penyanyinya. Seperti H. Rhoma Irama yang sangat produktif menciptakan lagu-lagu dangdut yang sarat pasan-pesan agama, atau ada Iis Dahlia, Ike Nurjanah, Cici Faramida yang kemunculan mereka lebih mewarnai musik dangdut dengan kualitas vokal dan lagu tanpa menonjolkan lebel gerakan goyangan tertentu. sekarang ini justru marak bermunculan penyayi dangdut yang jualannya adalah goyangan. Goyangan sudah menjadi komoditas utama dari dangdut. fenomena ini saya kira mulai terjadi ketika kemunculan sosok Inul Daratista dengan lebel goyang ngebornya yang kontroversial. 

semenjak itu mulai bermunculan, ada Anisa Bahar dengan goyang patah-patah, Dewi Perssik dengan goyang gergaji, Uut Permatasari dengan goyang ngecor. generasi-generasi awal ini lambat laun memang mulai meninggalkan lebelnya itu, tapi tak pelak pelebelan goyangan ini sudah terlanjur menjadi tren di kalangan para pedangdut pendatang baru. Sekarang ini ada yang muncul namanya goyangan itik, yang sempat menjadi  sengketa antara dua pedangdut pendatang baru, ini hal paling absurd yang pernah saya lihat, biasanya musisi akan mempersengketakan lagu, atau judul lagu, atau musiknya, nah ini yang diributkan malah lebel goyangan yang gerakannya pun sederhana sekali, hanya memang menunjukkan sensualitas, bahkan sampai diajukan ke persidangan. Ada lagi goyang V, goyang jari lah, goyang geboy dll. membuat seolah produk dangdut kini ya goyangan, bukan lagu atau musiknya, yang sejatinya adalah esensi dari dangdut itu sendiri. sekarang yang terlihat justru musik dangdut hanya sebagai pengiring goyangan, bukan goyangan yang seharusnya jadi pelengkap dangdut, main coursenya sekarang adalah goyangan, bukan lagu atau musiknya.

Musik dangdut sekarang dibuat yang penting bisa mengiringi goyangan si penyanyi dangdut yang jualannya goyangan, lirik lagu terkesan dibuat asal-asalan. tidak seperti lagu dangdut pada generasi sebelumnya, yang sangat puitis dan sarat makna, bahkan apabila dihayati bisa membuat pendengarnya diliputi emosi mendalam. sekarang seolah musik dangdut hanya untuk memuaskan kebutuhan birahi saja, dengan menjual kemolekan tubuh penyanyi dan goyangannya serta lirik lagu yang cenderung 'nakal'. di berbagai tayangan talkshow hiburan, penyanyi dangdut yang memiliki label goyangan tertentu, lebih diminta untuk memperlihatkan gerakan goyangannya ketimbang mempertunjukkan kebolehannya dalam menyanyi. di beberapa acara musik pun, porsi goyangan lebih banyak dibandingkan dengan menyanyinya. Sekarang mungkin lebih tepat mereka dijuliki Pegoyang Dangdut ketimbang Penyanyi Dangdut. Bagi saya ini fenomena yang memprihatinkan bagi perkembangan musik dangdut itu sendiri. 

Rabu, 26 Desember 2012

Sorrow

Sebagai manusia yang hidup dalam kehidupan di dunia ini pasti pernah merasakan senang dan sedih. Senang dan sedih sudah menjadi bagian dalam kehidupan manusia, apabila tidak ada senang manusia tidak tahu rasanya sedih, begitu pula sebaliknya, apa benar seperti itu ? ya bisa benar, bisa juga tidak, tergantung manusia ingin melihatnya dengan cara apa. Pada umumnya pasti manusia ingin menggapai kesenangan dalam kehidupan ini, pada umumnya tidak ada manusia yang mau menjalani kehidupan dalam kesusahan. Usaha-usaha yang dilakukan manusia pasti berujung pada harapan akan kesenangan. Namun apabila kita lihat, dalam kehidupan ini ada manusia yang lahir sudah dalam gelimang kesenangan, dan ada juga manusia yang dari lahir sampai berakhir masa hidupnya selalu berada dalam kesusahan. Apa yang kita lihat dari permukaan itu memang masih bisa dipertanyakan, karena yang menjalani dan merasakan apa itu susah dan senang hanya orang yang bersangkutan. Intinya dalam kehidupan ini manusia tidak akan pernah lepas dari apa itu hal baik dan hal buruk. 

Saya memiliki pandangan tertentu mengenai hal ini. Pandangan saya ini dilatar belakangi oleh pengetahuan saya sebagai seorang penganut agama Islam (saya bukan seorang ahli agama), setidaknya pemikiran yang akan saya ungkapkan ini tidak akan terlepas dari apa yang sudah saya ketahui dan dapatkan selama saya menjadi seorang muslim. Preposisi saya adalah, manusia terlahir dalam kehidupan di dunia saat sekarang ini memang untuk menjadi susah. Turunnya Adam a.s. dan Siti Hawa ke dunia merupakan sebuah bentuk hukuman yang diterapkan Allah kepada mereka, atas suatu kesalahan. Kehidupan di dunia kemudian, dapat dianggap sebagai tempat penebusan dosa atau tempat penghukuman yang apabila manusia berhasil melewati masa hukuman itu maka manusia akan mendapatkan pembalasan yang baik, dan apabila manusia tidak berhasil melewati itu, maka dianggap sebagai manusia yang tidak memanfaatkan kesempatan yang diberikan, dan malah semakin menjadi-jadi dalam melakukan kedurhakaan, maka akan mendapat penghukuman yang lebih berat dan tidak ada kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahan mereka. Dalam hal ini kemudian dikenal lah apa itu surga dan neraka, serta konsepsi kehidupan setelah mati yang kekal.

Bentuk esensi kehidupan, dimana dunia adalah tempat penebusan dosa, bisa dikatakan adalah kesusahan atau penderitaan. Analogi sederhananya, apakah ada tempat penebusan dosa atau penghukuman itu merupakan tempat yang menyenangkan. Jadi dalam konsep pemikiran saya, untuk susah atau untuk menderita lah esensi dari keberadaan manusia di dunia ini. cobaan sesungguhnya dalam kehidupan ini adalah kesenangan. kenapa saya berpikir demikian, saya melihat dan merasakan bahwa dan pasti kebanyakan orang juga merasakannya, aturan-aturan Tuhan itu cenderung mensupresi kesenangan, banyak pertanyaan-pertanyaan awam muncul, "kenapa sih semua yang dilarang Tuhan itu hal-hal yang menyenangkan?" (setidaknya yang dianggap menyenangkan di dunia ini), dan jawaban yang muncul pasti "Tuhan memberikan perintah dan larangan pasti ada alasannya, dan pasti itu untuk kebaikan kita" dan banyak sekali kemudian muncul upaya rasionalisasi berbagai perintah dan larangan Tuhan, setidaknya untuk memberikan pemahaman kepada umat dengan pendekatan yang dapat dieterima oleh umat.

Saya sedang tidak berupaya untuk mempertanyakan, menyangkal atau mengeluhkan ketentuan Tuhan, saya hanya ingin mengungkapakan pemikiran saya saja. Baik saya lanjutkan lagi, dalam Islam juga ada konsep zuhud (akan ada banyak definisi dan pemahaman mengenai konsep ini ), apa yang saya pahami dalam konsep ini adalah bahwa manusia lebih baik hidup dalam kesederhanaan, tidak dalam kesenangan yang berlebihan, dalam konsep ini dapat dilihat bahwa lagi-lagi manusia lebih dianjurkan untuk menekan kesenangan, lebih baik manusia hidup dalam kesederhanaan, yang menurut penilaian sebagian masyarakat awam, kehidupan sederhana adalah kehidupan yang susah, saya tidak akan menyangkal ada orang yang akan menilai kesederhanaan bukanlah bentuk kesusahan, tapi pandangan terakhir itu saya kira hanya dianut oleh sebagian kecil orang. Tapi saya yakin ada kesadaran pada pelaku zuhud bahwa, kehidupan sederhana merupakan kehidupan yang tidak menyenangkan dan mereka harus menerimanya dengan ihklas demi memperoleh kesenangan yang lebih hakiki.

Dapat kita lihat muncul satu konsep lagi yang disebut ikhlas, ikhlas secara sederhana dapat diartikan sebagai bentuk kerelaan atau menerima kondisi yang dianggap oleh diri sebagai kondisi yang tidak menyenangkan. Dalam agama, ikhlas merupakan hal yang baik, jadi manusia di dunia ini memang hidup untuk susah dan diperintahkan untuk menerima penderitaan itu dengan kerelaan, supaya nanti di kehidupan setelah mati mendapatkan kesenangan yang sesungguhnya. Satu lagi hal yang bagi sebagian besar manusia enggan untuk melakukannya karena menganggap kegiatan ini tidak menyenagkan tetapi diperintahkan oleh Tuhan, yakni melakukan ritual peribadatan, salah satu ujian sabar terberat manusia adalah ketika menjalani ritual peribadatan. Shalat contohnya, padahal shalat kalau dipikir-pikir merupakan kegiatan yang sederhana dan tidak memerlukan waktu dan energi yang besar, tetapi kenapa masih banyak orang yang merasa berat melakukannya, Shalat bagi sebagian orang dianggap sebagai beban (entah bebannya itu ada dimana). 

Jadi apakah manusia di dunia ini tidak boleh merasakan kesenangan ? tentu saja boleh, bahkan Allah menjamin itu, tetapi Allah juga selalu mengingatkan bahwa jangan bersenang-senang terlalu berlebihan hingga lupa kepadaNya. Saya lebih menganggap kesenangan dalam kehidupan merupakan sebuah keringanan dari Allah, kepada manusia yang tengah menjalani masa penebusan dosa, maka kita diperintahkan untuk bersyukur/berterima kasih atas kebaikan yang diberikan Allah dan selalu diingatkan apa sebetulnya esensi manusia hidup di dunia ini. Melakukan kebaikan, menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Apabila kita lihat perilaku baik dan menjadi orang yang bermanfaat yang diajarkan oleh agama merupakan sesuatu yang sebetulnya bagi individu merupakan hal yang tidak menyenangkan. Bersedekah misalnya, secara naluriah, ego manusia untuk menggapai kesenangan itu besar, kepemilikan pribadi selalu menjadi hal yang dikejar oleh manusia, yang membuat manusia merasakan kesenangannya, tetapi agama mengajarkan umatnya untuk bersedekah, memberikan sesuatu yang dicintainya untuk orang lain yang lebih membutuhkan, ini merupakan bentuk pengorbanan yang tidak menyenangkan, dan manusia diperintahkan untuk menerima ketidaknyamanan itu dengan ikhlas, dengan perasaan rela, internalisasi konsep ini begitu kuat sehingga sudah dieterima sebagai konsep kebaikan. kita bisa lihat kebaikan itu muncul dari kerelaan atas penderitaan. Saya melihat ini menjadi sebuah fakta, yang tidak untuk disangkal, tetapi lebih kepada sesuatu yang harus dijalani dengan keterbukaan pikiran dan hati. 

Rabu, 19 Desember 2012

The Hobbit : An Unexpected Journey, ulasan singkat

The Hobbit : An Unexpected Journey merupakan film seri pertama dalam rangkain film berseri The Hobbit yang baru saja dirilis pada bulan Desember 2012 ini. Dua seri film berikutnya berturut-turut akan tayang di bioskop pada tahun 2013 dan 2014 yaitu The Hobbit : The Desolation of Smaug dan The Hobbit : There and Back Again. Film ini diangkat dari novel karya J.R.R. Tolkien, penulis yang sama yang menulis novel The Lord of The Rings, dan memang kedua novel serial ini memiliki cerita yang saling berkait. Sama seperti pendahulunya The Lord of The Rings, kisah The Hobbit merupakan kisah petualangan fantasi yang mengambil setting tempat bernama Middle Earth, tempat dimana hidup makhluk-makhluk fantasi yang menakjubkan mulai dari manusia biasa, kurcaci (dwarf), peri (elf), Orc, Hobbit dan makhluk ajaib lainya. 

apabila The Lord of The Rings berkisah mengenai  misi epik penghancuran sebuah cincin, dalam film The Hobbit juga ada unsur ekspedisi sebuah misi epik, yaitu membantu para kurcaci untuk mendapatkan kembali tanah tempat tinggal mereka yang telah dirampas oleh Seekor naga Smaug. Kisah petualangan berawal 60 tahun sebelum masa The Lord of Rings, di Shire tempat tinggal para Hobbit, Bilbo Baggins seorang Hobbit kedatangan tamu yang tidak terduga, yaitu Gandalf sang penyihir abu-abu. Gandalf datang kepada Bilbo untuk ikut serta dalam sebuah petualangan, yang Bilbo sendiri belum tahu perjalanan petualangan seperti apa yang ditawarkan kepadanya. Bilbo sendiri merupakan seorang Hobbit yang selama hidupnya tidak pernah keluar dari Shire, yang selalu hidup dalam kenyamanan di tanah kelahirannya, maka dia menganggap tawaran Gandalf hanyalah bualan belaka, dia pun menyuruh Gandalf untuk pergi. Tidak berselang lama setelah Gandalf pergi dari rumah Bilbo, datanglah sekelompok dwarf yang mengatakan bahwa ada sebuah pertemuan dirumahnya. Bilbo yang tidak merasa mengundang para dwarf dan pada dasarnya memang tidak mengetahui apa-apa, pun menjadi kebingungan. Di saat-saat kebingungannya itulah Gandalf muncul kembali, dan menjelaskan bahwa dirinya (Bilbo Baggins) terpilih sebagai apa yang disebut dengan smuggler, yang akan membantu para dwarf yang dipimpin oleh raja bangsa dwarf, Thorin Oakenshield untuk mengambil tanah kelahiran mereka Erebor di Lonely Mountain. Tugas Bilbo Baggins sebagai Smuggler adalah untuk menemukan pintu masuk ke Erebor yang ada di celah pegunungan Lonely Mountain, seeorang Hobbit dipilih untuk membantu ekspedisi ini karena mereka bergerak sangat gesit dan pandai menyamar, terlebih naga smaug tidak mengenali aroma para Hobbit, sehingga diharapkan Hobbit akan mudah untuk menyelinap. Bilbo tidak begitu saja menerima tugas itu, pada awalnya dia menolak untuk turut serta, dia merasa kurang mampu untuk mengemban tugas yang berat dan penuh resiko itu, mengingat pula bahwa dirinya tidak memiliki pengalaman petualangan apapun. Namun dengan bujukan Gandalf, dan pertimbangan yang panjang, akhirnya Bilbo pun setuju untuk ikut dalam ekspedisi, dan petualangan pun dimulai. 

Perjalanan ekspedisi ini penuh dengan rintangan, mulai dari harus menjalani medan yang berat -- melintasi pegunungan dan hutan lebat -- juga aksi melawan para Orcs yang memburu mereka serta aksi mereka melawan para goblin, yang tak kalah seru dan menegangkan adalah ketika para robongan harus berada di tengah perkelahian para raksasa batu disaat badai. Dalam seri ini juga dikisahkan petemuan Bilbo Baggins dengan Gollum, dan bagaimana asal muasal Bilbo Baggins mendapatkan sebuah cincin bertuah, yang kisahnya di ceritakan kemudian dalam The Lords of The Rings. dalam seri An Unexpected Journey penonton akan disajikan aksi petualangan yang menegangkan dan penuh dengan aksi-aksi epik. Tak kalah menakjubkan juga adalah sajian pemandangan-pemandangan menakjubkan dari jajaran pegununungan yang tinggi menjulang dan tentu saja pemandangan lembah Rivendell tempat tinggal para Elf, penonton akan benar-benar dibawa ke suatu tempat yang penuh dengan fantasi dan hal-hal menakjubkan. aksi petualangan epik ini, didukung oleh olahan animasi yang apik, teknik tata rias dan kostum yang menakjubkan serta oleh musik yang mengagumkan, semua dalam satu paket. oke . . oke mungkin saya terlalu berlebihan dalam menilai film ini. Baik, memang ada sedikit kritik mengenai film ini, film berdurasi cukup panjang, kurang lebih 3 jam, waktu yang cukup panjang ini pada pertengahan film memunculkan efek membosankan, dimana ceritanya terasa datar. Bahkan banyak pula penonton yang rela meninggalkan tempatnya diwaktu-waktu tertentu untuk ke toilet, di waktu dimana dirasa scene itu tidak terlalu penting untuk diikuti, hal ini tidak akan terjadi pada film yang memang benar-benar menyajikan berbagai kejutan di setiap scene-nya. Terlepas dari itu semua, film ini masuk dalam rekomendasi film yang layak untuk ditonton. dalam range nilai 1-10 saya memberi nilai film ini 8. 

Kamis, 13 Desember 2012

5 Cm the Movie

"Setiap kamu punya mimpi atau keinginan atau cita-cita, kamu taruh disini, di depan kening kamu... jangan menempel. biarkan..." "... menggantung 5 centimeter ..." "... jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu"

".... kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja." " dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya" " serta mulut yang akan selalu berdoa"

Kalimat dan dialog-dialog tersebut saya kutip langsung dari novel "5 cm." yang ditulis oleh Donny Dirgantoro, yang telah diangkat menjadi film dengan judul yang sama, disutradarai oleh sutradara muda Indonesia berbakat, Rizal Mantovani. Film ini berkisah tentang 5 sahabat, Zafran (Herjunot Ali), Genta (Fedi Nuril), Arial (Denny Sumargo), Riani (Raline Shah), Ian (Igor Saykoji), serta ada satu tokoh diluar 5 sahabat ini yaitu Arinda atau Adinda (Pevita Pearce) adik dari Arial, yang telah menjalin persahabatan mereka selama belasan tahun, semenjak mereka masih mengenakan seragam putih abu-abu. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama, hingga suatu ketika mereka merasa jenuh dengan hubungan persahabatan mereka. mereka pun memutuskan untuk tidak saling berhubungan terlebih dahulu sampai waktu yang ditentukan. selama jangka waktu mereka menjalani kehidupan masing-masing, kelima sahabat ini menemukan hal-hal atau pelajaran yang membuat mereka menjadi lebih baik. Mereka pun bertemu kembali untuk melakukan sebuah petualangan yang tidak akan pernah mereka lupakan selama hidup mereka.

Novel sekaligus film ini merupakan sebuah kisah persahabatan, percintaan, petualangan dan pelajaran mengenai kehidupan. Kita akan belajar banyak akan makna dari persahabatan yang lebih dari sekedar hubungan pertemanan, bagaimana kita menerima sahabat kita seutuhnya, kebaikannya dan tentu keburukannya, dimana kita akan selalu mendukung apapun keadaan dan apapun yang terjadi pada sahabat kita. Kita juga akan belajar mengenai makna cinta yang tidak selalu memiliki, arti dari ketulusan cinta dan kelapangan hati, ini lah tema yang menjadi sentral dalam film "5 cm". Kemudian petualangan menjelajahi alam gunung Semeru, selain kita akan di suguhi oleh pengalaman sinematis menakjubkan, yakni penampakan alam hutan-hutan semeru, Ranu Kumbolo, dan keindahan dari puncak Mahameru sendiri yang begitu indah, dari segmen ini kita juga dapat belajar mengenai keteguhan tekad dan perjuangan kita dalam menggapai suatu tujuan, suatu mimpi yang ingin kita wujudkan. Sebenarnya dalam novel kita juga akan mendapat pesan-pesan kemanusian dan moral yang dapat kita pelajari, namun dalam film, tema ini tidak terlalu diangkat, mungkin ini memang salah satu strategi sutradara untuk memberikan distingsi antara tema novel dan film, meskipun filmnya juga masih dalam satu alur dalam novel. 

Akting para aktor dan aktris, penggarapan gambar serta latar belakang musik yang diisi oleh grup band Nidji, telah berhasil membawa para penonton larut dalam alur cerita dan gambar yang disajikan. Gelak tawa kerap terdengar dari penonton, tak sedikit pula penonton yang terbawa emosi hingga meneteskan air mata harunya. animo penonton terhadapap film ini pun sangat baik, pada penayangan perdana kemarin pada tanggal 12 Desember 2012 di salah satu bioskop di kota Depok, tiket di semua jam penayangan terjual habis. Film ini memang telah banyak dinantikan oleh para pembaca novel 5 cm sejak lama, novelnya sendiri pertama terbit pada tahun 2005, maka wajar saja apabila sudah banyak para pembaca yang ingin menyaksikan film ini. 

Selain komentar positif dari para penikmat film ini, kritik selalu saja ada sebagai konsekuensi dari film yang diangkat dari cerita novel. Selalu ada komentar bahwa apa yang disajikan dalam film kurang sesuai dengan yang ada dalam novel, perbandingan seperti ini memang tidak bisa terelakkan. tidak sedikit memang yang merasa kurang puas dengan adanya perbedaan antara novel dengan filmnya. Tetapi dalam melihat kondisi seperti ini, saya selalu berkomentar bahwa, karya sastra novel memang berbeda dengan karya sinema. karya novel memiliki standar penilaiannya sendiri sebagai karya sastra, begitu pula dengan karya sinematis juga memiliki standar penilaiannya sendiri, maka lebih bijak apabila kita melihat kedua karya tersebut dalam kacamata masing-masing bidang karya tersebut. Sehingga kita dapat menikmati novel tersebut sebagai karya sastra, dan menikmati film tersebut ya sebagai sebuah karya sinematis. perbandingan kurang tepat dilakukan karena kondisinya memang tidak "aple to aple", baiknya karya sastra yang dibandingkan dengan sesama karya sastra, karya sinematis ya bandingkanlah dengan sesama karya sinematis. namun terlepas dari permasalahan itu, saya sendiri menilai esensi dari novel 5 cm ini masih dapat dirasakan dalam filmnya. Saya sangat mengapresiasi film ini, film ini sangat layak ditonton dan saya rasa film ini merupakan salah satu film terbaik di penghujung tahun 2012. 






Selasa, 27 November 2012

Bahasa-bahasa Part II

Sedikit memutar ulang tentang pembahasan bahasa-bahasa yang sebelumnya pernah saya bahas di blog ini. Pada ulasan pertama saya mengenai bahasa-bahasa kerangka pemikirannya adalah mengenai ragam bahasa yang ada di dunia. Ragam bahasa ini memiliki karakter yang berbeda dari segi bentuk (bunyiannya) dan strukturnya. Pada dasarnya bahasa yang saya maksud dalam tulisan sebelumnya adalah hanya sebuah alat yang mungkin sifatnya terlokalisir, artinya perbedaan bentuk bahasa memang ada di setiap wilayah pelosok dunia, namun makna sifatnya universal, makna melampui bentuk bahasa. makna inilah yang kemudian sebenarnya objek pertukaran kita dalam berkomunikasi, karena sifatnya yang universal maka kita bisa menyampaikannya dalam bentuk bahasa apapun bahkan tanpa bahasa sekalipun. untuk mempermudah pemahamannya saya beri contoh begini, Cinta adalah perwujudan bentuk bahasa Indonesia dari sebuah perasaan atau emosi tertentu, perasaan atau emosi terntentu ini saya anggap sebagai makna yang terkandung dalam kata Cinta, Love adalah bentuk bahasa Inggris dari makna yang sama dengan Cinta. 

Dalam pembahasan kali ini saya akan lebih membahas mengenai ranah tempat kita melakukan pertukaran makna. Ranah yang dimaksud di sini adalah sebuah ruang dimana ruang itu membatasi makna untuk diartikan atau dipahami dalam suatu konteks tertentu saja. Seperti dalam penjelasan Piere Bourdieu bahwa ada berbagai ruang dalam kehidupan sosial yang setiap ruangnya memiliki simbol dan dinamika pertukaran atau "peperangannya" sendiri. Setiap ruang atau ranah ini juga dapat saling terkoneksi terkoneksi satu dengan yang lain, namun koneksi ini hanya dalam bentuk irisan saja. untuk mempermudah memahami konsep ini saya beri contoh sederhana seperti ini, sekumpulan para tukang ojeg sedang berbincang mengenai kelangkaan bahan bakar premium diberbagai SPBU di kawasan Jakarta, mereka saling mengeluhkan bahwa untuk tetap beroprasi mereka terpaksa harus mengisi tangki motor mereka dengan bahan bakar pertamax yang harganya lebih tinggi, sedangkan di saat yang bersamaan para penumpang enggan untuk membayar lebih, hal ini mengakibatkan pendapatan para tukang ojeg pun menurun, sedangkan mereka harus memenuhi kebutuhan sehari-hari yang untuk di hari-hari sebelumnya pun masih belum bisa dikatakan cukup. Di waktu yang sama di tempat lain para petinggi pertamina dan para pejabat-pejabat pemerintahan sedang membahas mengenai perlu adanya pembatasan pasokan premium karena dikhawatirkan akan melebihi kuota bahan bakar bersubsidi, apabila tidak ada pembatasa pasokan bbm bersubsidi maka anggaran pemerintah akan jebol, negara akan mengalami kerugian, dan dikhawatirkan akan mengganggu stabilitas ekonomi atau bahkan bisa merambat ke masalah stabilitas politik nasional. Dari contoh ini kita dapat melihat secara sederhana perbedaan ranah para tukang ojeg dengan ranah para pejabat pemerintahan. dalam ranah tukang ojeg terdapat simbol-simbol atau pengetahuan yang tidak ada dalam ranah para pejabat pemerintahan contohnya seperti masalah domestik rumah tangga, pun di ranah tukang ojeg pun tidak ada simbol-simbol atau pengetahuan yang ada dalam ranah pejabat pemerintahan, seperti masalah defisit anggaran. sesuatu yang jelas adalah bahwa kedua ranah ini beririsan dalam masalah ekonomi. Namun penjelasan mengenai ranah, simbol dan pengetahuan sebenarnya lebih kompleks dari contoh tersebut, dan pemaknaan saya mungkin terlalu dangkal. 

Dalam kehidupan sehari-sehari ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, kita pasti akan cenderung memilih orang yang memiliki kesamaan dengan kita. contohnya, kita adalah penggemar sepak bola pasti akan lebih memilih mengobrol dengan orang yang menggemari sepak bola pula, karena kita memiliki pengetahuan yang sama, kita dalam ranah yang sama. obrolan akan bisa berlangsung sangat panjang, kalau banyak orang mengistilahkan juga, kita memilliki "bahasa" yang sama yaitu "bahasa bola". Kesamaan "bahasa" ini tidak berhenti hanya seputar kita membicarakan tentang bola, seperti pemain, strategi, isu-isu terkait persepakbolaan, tetapi juga juga lebih jauh dalam menggunakan "bahasa" bola itu untuk bentuk interaksi komunikasi yang lain seperti digunaakan dalam candaan, atau membahasakan suatu aktifitas tertentu dengan menggunakan istilah persepakbolaan seperti contoh, dalam percakapan ini, 

A: "wah gua udah lima hari ini absen kentor telat mulu nih"
B: "waah parah lu! ntar lu bisa kena kartu kuning loh dari bos"

istilah "kartu kuning" adalah istilah yang biasa digunakan dalam persepakbolaan, dalam konteks pembicaraan ini kartu kuning dimaknai sebagai surat peringatan atau teguran dari atasan. nah bagi orang-orang yang tidak gemar sepak bola, atau tidak tahu sama sekali tentang sepak bola (dan tampaknya jarang sekali orang yang tidak tahu sama sekali) pasti akan bingung ketika mendengar percakapan itu, dalam hal ini dapat dikatakan dia tidak mengerti "bahasa" yang digunakan kedua orang tersebut. Inilah salah satu alasan mengapa orang lebih cenderung mendekat dengan orang yang memiliki "bahasa" yang sama. fenomena ini bisa dianalogikan dengan kesulitan orang yang memiliki bentuk bahasa tertentu berhadapan dengan orang yang memiliki bentuk bahasa yang berbeda. Seperti orang Indonesia yang hanya bisa berbahasa Indonesia bertemu dengan orang Amerika yang hanya bisa berbahasa inggris. kedua belah pihak pasti akan enggan saling berkomunikasi, namun jika terpaksa yang mereka menggunakan bahasa isyarat yang itu pun sangat sulit dilakukan. Jika mereka ingin tetap berkomunikasi dengan baik, maka jalan keluarnya adalah mau tidak mau mereka harus saling mempelajari bahasa lawan bicara. disinilah tantangannya, kedua belah pihak harus mau keluar dari zona nyaman mereka untuk mempelajari dan menggunakan bahasa yang tidak biasa mereka gunakan. begitu pula dalam kehidupan sosial, apabila kita ingin menjalin hubungan yang baik dengan berbagai masyarakat ya, setidaknya kita tahu "bahasa" orang atau masyarakat bersangkutan, agar komunikasi dapat berlangsung dengan baik. 

Senin, 12 November 2012

Teknologi dan Remaja Masa Kini

Perkembangan teknologi saat ini tengah maju dengan sangat pesat, dalam kurun waktu 100 tahun terakhir telah banyak penemuan di berbagai bidang ilmu, dapat dikatakan dekade-dekade sekarang ini merupakan dekade keemasan dalam sejarah perkembangan umat manusia. Salah satu teknologi yang berkembang dengan pesat adalah teknologi informasi dan komunikasi. Banyak sekali sekarang alat-alat komunikasi dan berbagai perangkat lain yang menunjang proses pertukaran informasi dan komunikasi dapat dilakukan dengan sangat cepat. Belum lagi berbagai aplikasi perangkat lunak yang juga turut meramaikan dunia perteknologian elektoronik dan komunikasi. Bisa dikatakan saat sekarang ini tidak ada yang tidak mungkin dilakukan dengan teknologi. Berbagai perangkat teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini memungkinkan setiap orang untuk mengirimkan data dalam bentuk apapun, kemana pun dan kapan pun dalam waktu sekerlipan mata. Saat ini kita hidup dalam era "kilat", tidak ada suatu apapun yang dikerjakan dalam waktu lama. 
Perkembangan teknologi ini tidak kemudian tidak berpengaruh terhadap kehidupan kita, kali ini saya ingin menilik pengaruh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dengan pola kehidupan  remaja masa kini. Seperti yang telah kita ketahui bersama saat ini sudah banyak sekali perangkat komunikasi dan aplikasi jejaring sosial yang memungkinkan kita melakukan komunikasi dan saling tukar data dalam bentuk apapun di waktu yang bersamaan (real time). Perkembangan ini sedikit banyak telah mempengaruhi perkembangan dan pola kehidupan sosial remaja jaman sekarang. Mengapa saya menyoroti remaja, karena pengaruh perkembangan teknologi sangat terlihat dalam pola kehidupan sosial remaja masa kini. Usia remaja merupakan usia dimana seseorang itu telah meninggalkan masa kanak-kanaknya tetapi belum bisa kemudian dikatakan sebagai sosok yang dewasa, karakteristik remaja sering kali digambarkan sebagai sosok yang masih mencari jati diri, dimana dalam prosesnya aktualisasi eksistensi diri begitu penting, dalam proses inilah remaja sedang mencari atau memilih akan menjadi pribadi seperti apa dirinya. Dalam kurun waktu tertentu  remaja akan terus melakukan perilaku-perilaku tertentu dalam usaha untuk mengaktualisasikan eksistensi dirinya. Dalam setiap generasi, remaja akan selalu melakukan hal itu, sampai dirinya beranjak menuju fase dewasa dimana kepribadiannya sudah lebih mantap, hasil dari proses aktualisasi eksistensi diri dan pemelajaran selama masa remaja. Lantas dimana hubungan dengan teknologinya ? 
Teknologi komunikasi dan informasi sekarang ini telah mempengaruhi proses aktualisasi eksistensi diri remaja. Cepatnya arus informasi membuat proses aktualisasi eksistensi diri remaja berevolusi dari generasi sebelumnya. Cepatnya perubahan-perubahan yang terjadi menuntut remaja masa kini untuk lebih "kreatif" dalam mengaktualisasikan eksistensi dirinya, ingat eksistensi dan pengakuan diri sangat penting bagi para remaja, apabila mereka tidak bisa melakukan sesuatu yang "kreatif" dan menarik perhatian di era "kilat" ini mereka akan tenggelam begitu saja dihantam cepatnya arus informasi. Maka media jejaring sosial saat sekarang ini menjadi lahan utama aktulisasi eksistensi diri bagi para remaja. Upaya pengaktualisasian eksistensi dirinya pun mengikuti media yang tersedia bagi mereka. Salah satu yang paling nampak di Indonesia adalah fenomena tulisan "alay". Tulisan atau bahasa "alay" adalah tulisan yang berupa kombinasi penggunaan huruf dan angka dalam membentuk sebuah kata atau kalimat, contoh : "meN6hitUng nIl41" kata yang benar "menghitung nilai", kalaupun bukan kombinasi angka dan huruf maka, dapat berupa plesetan seperti "ciyus miapah" yang kalimat sebenarnya adalah "serius demi apa", ini hanya sekelumit contoh, anda bisa saja menemuka versi yang lebih rumit lagi. 
Bahasa atau tulisan "alay" ini adalah bentuk upaya aktualisasi diri para remaja menyesuaikan media aktualisasi yang digunakannya. Sekarang ini kita tahu bahwa setiap orang pasti memiliki perangkat telekomunikasi, baik berupa telepon selular pintar (smart phone) atau tablet, dengan didalamnya terdapat fitur-fitur jejaring sosial dalam bentuk apapun. Untuk memperoleh perhatian dan tetap eksis maka remaja masa kini kemudian menciptakan tulisan atau bahasa "alay" tersebut, karena proses aktualisasi eksistensi diri mereka terjadi di ranah media sosial, yang lebih banyak menggunakan teks, bukan komunikasi verbal tatap muka langsung. Bahasa dan tulisan "alay" ini telah banyak menuai kritikan dari masyarakat terutama karena dianggap telah merusak struktur dan tata bahasa yang baik dan benar. Banyak kalangan yang mencemaskan perkembangan yang kurang positif ini. Selain fenomena bahasa dan tulisan "alay", pengaruh teknologi terhadap perilaku sosial remaja yang lainnya adalah fenomena "copy-paste" atau segala sesuatu yang serba instan dan cepat. Dalam jejaring sosial aktualisasi eksistensi remaja butuh sesuatu yang dapat dilakukan dengan cepat tetapi sekaligus dapat menarik perhatian, salah satu upayanya adalah menjiplak suatu gaya tertentu yang mereka anggap itu menarik padahal mereka sendiri mungkin tidak mengerti apa maknanya, atau menjadikan suatu hal menjadi bergeser maknanya. Hal ini saya lihat terjadi di masyarakat Amerika dimana ada fenomena "Hipster style", hipster sendiri memang merupakan sebuah aliran subkultur yang muncul di era 20an - 30an yang mana di dalamnya ada konsep pemikiran bebas, independen yang pokoknya di luar arus utama., secara kultur hipster sendiri pada masanya sudah dianggap sebagai anomali namun tetap ada landasan ideologisnya. Namun para "Hipster Style" remaja Amerika sekarang hanya menonjolkan gaya berbusananya saja yang kemudian banyak muncul di media jejaring sosial (terutama di jejaring photo sharing instagram), jadi mereka menganggap gaya hipster itu keren, dengan bergaya seperti itu mereka berharap dianggap sebagai penganut "hipster", padahal mereka kemungkinan tidak mengerti esensi dari "hipster" itu sendiri. Ini yang saya maksud bahwa, gaya-gaya instan seperti ini dilakukan oleh remaja agar mereka bisa tetap eksis dalam era arus informasi yang begitu cepat. Fenomena ini telah menimbulkan banyak kegundahan, bagi generasi "tua" atau setidaknya generasi 2 dekade sebelum para remaja sekarang ini. Perkembangan arus informasi yang sangat cepat dan serba instan ini, seolah menyebabkan keringnya perkembangan para remaja. para remaja kering akan kreatifitas positif, kering akan imajinasi natural, kering akan pengetahuan bertahan dalam kehidupan, sekarang bahkan apabila mereka tidak memiliki perangkat teknologi tersebut seolah mereka akan mati. Dikhatirkan pula perkembangan remaja akan menjadi kurang matang atau sempurna, karena mereka tidak diberi kesempatan jeda untuk mengendapkan pengetahuan yang mereka miliki untuk mereka pelajari dan telaah di era serba cepat ini. Namun saya yakin manusia selalu dapat menemukan cara untuk dapat bertahan hidup. meski demikian tetap ada kesan bahwa teknologi yang berkembang pesat justru menyebabkan adanya degradasi kehidupan manusia. 

Kamis, 27 September 2012

Berbuat Kebaikan



Banyak orang ingin menjadi baik, banyak orang yang memiliki mimpi untuk menjadi baik. Deskripsi setiap orang ketika ingin menjadi orang baik selalu identik, dengan ungkapan “sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.” Banyak orang yang memaknai ungkapan ini menjadi terlalu jauh dari dirinya, saya bukannya ingin mengatakan bahwa kita tidak boleh bermimpi besar, tetapi terkadang ketika kita bermimpi besar meskipun mimpi kita baik, kita malah jadi melupakan atau tidak melihat hal kecil yang baik yang jelas-jelas dapat, dan mungkin telah kita lakukan sekarang ini. banyak orang yang bermimpi bisa membangun sekolah bagi anak-anak miskin, membangun rumah sakit untuk orang-orang papa, menjadi pemimpin yang dapat menggunakan pengaruhnya untuk kebaikan. Tidak ada yang salah dengan mimpi-mimpi itu, yang kurang tepat adalah ketika, dalam proses kita menggapai mimpi-mimpi yang mulia ini kita justru sibuk untuk memantaskan diri dapat mewujudkan impian besar kita, kita merasa belum cukup baik sampai kita bisa mewujudkan impian besar kita itu. Kita kemudian menganggap remeh kebaikan-kebaikan kecil yang telah kita lakukan. Di satu sisi, perasaan seperti ini mungkin dapat memotivasi kita untuk terus berbuat lebih besar, lebih besar lagi, tapi di sisi lain sikap ini bisa menjerumuskan kita pada pemikiran bahwa hal remeh seperti itu tidaklah penting. Kita malah mengorbankan atau meremehkan kebaikan kecil dengan dalih itu belum cukup baik dibandingkan kebaikan dan kebermanfaatan yang lebih besar yang belum kita lakukan. Lebih mirisnya lagi kita sudah merasa gagal ketika kita merasa tidak bermanfaat untuk orang banyak, padahal kita sudah banyak melakukan kebaikan-kebaikan kecil, seperti sekedar misalnya meminjamkan pena kita kepada teman yang tidak membawa pena. Sebagai manusia yang baik kita memang harus bermanfaat bagi orang lain, dan itu bisa dilakukan setiap saat setiap detik dalam bentuk kebaikan sekecil apapun, dan tidak selamanya kebaikan kepada orang lain itu dimaknai sebagai membantu orang lain secara langsung, ketika kita menjaga kesehatan diri kita sendiri pun kita sudah berbuat baik kepada orang lain, tidak perlu merepotkan orang lain untuk mengurus kita apabila sakit. jangan pernah mengukur kebaikan, lakukan saja yang bisa kita lakukan saat itu juga, apabila saat itu kita hanya bisa memberikan senyuman, ya lakukanlah, apabila kita memang pantas melakukan kebaikan besar pasti Allah akan memberikan kekuatan dan sumber daya yang besar besar pula.  Karena kebaikan besar merupakan perwujudan dari kebiasaan kita melakukan kebaikan-kebaikan kecil. 

Senin, 10 September 2012

Mistifikasi Alam

Indonesia merupakan negara yang memiliki keindahan alam yang luar biasa. Setidaknya hampir semua landscape panorama alam Indonesia memilikinya, dari panorama laut, danau, pegunungan, hutan, savana dll, kucuali gurun yang Indonesia tidak memilikinya. Keindahan alam yang Indonesia miliki tidak terlepas juga dari mitos-mitos yang berkembang di masyarakat, yang mana ini merupakan bagian dari budaya dan tradisi yang mengakar di masyarakat. Banyak kisah-kisah misteri, mitos, dan legenda yang melingkupi sebuah kawasan alam tertentu, seperti gunung, laut, dsb. Kisah-kisah ini berkembang dan meluas di kalangan masyarakat tidak hanya secara kuantitatif, namun juga kualitatif. Artinya, pemaknaan kisah-kisah itu yang diterima oleh masyarakat juga berkembang. mitos dan legenda muncul adalah sebagai sebuah refleksi spiritualitas masyarakat. sebagai pengungkapan rasa "syahdu" akan lingkungan sekitarnya, akan pengalaman-pengalaman yang bersifat adi kodrati. Artinya ada semacam keterhubungan antara manusia dengan alamnya.
kisah-kisah yang berkembang yang berkaitan dengan makhluk halus dan alam sekarang ini sudah lebih dimaknai sebagai sesuatu yang menakutkan. sebagai seorang muslim saya percaya bahwa ada kehidupan lain yang berada bersama kita, hanya saja kita tidak dapat berinteraksi secara langsung, dan memang tidak seharusnya kita berinteraksi dengan mereka. setidaknya saya memahami bahwa Allah menciptakan manusia dan jin berada di dalam satu alam semesta ini, keduanya baik manusia maupun jin adalah bagian dari keseluruhan alam semesta ini. alam semesta ini bisa dikatakan sempurna dan lengkap apabila kita merasa bagian dari semua yang ada, termasuk jin. kisah-kisah yang berkembang, mengarahkan kita untuk melakukan penyangkalan akan adanya makhluk tersebut. cerita-cerita pengalaman orang yang diganganggu oleh keberadaan makhluk halus di suatu tempat dimankanai sebagai sebuah pertentangan antara manusia dan makhluk halus. kan bisa saja kita maknai peristiwa tersebut sebagai hasil reaksi dari suatu aksi. bisa saja yang terjadi justru manusialah yang kurang menghargai keberadaan makhluk halus tersebut, jangankan makhluk halus, manusia saja apabila tidak menghargai manusia pasti akan tersinggung bukan. memang dalam Al-Quran sendiri manusia dipertentangkan dengan syaitan. tapi ketahuilah bahwa syaitan berbeda dengan jin, syaitan adalah kata sifat yang menggambarkan pada perilaku yang buruk, yang menghasut kepada keburukan, jadi syaitan bisa dari golongan jin maupun manusia. intinya yang ingin saya sampaikan disini adalah, selama ini alam liar seperti hutan, gunung, laut selalu tidak terlepas dari kisah-kisah mistis yang melingkupinya, kisah-kisah seperti itu sudah sangat menyesatkan, kita jadi cenderung mengkeramatkan secara negatif dan menyikapinya dengan rasa takut. yang seharusnya kita rasakan ketika kita berada di tengah-tengahnya adalah "kekramatan" yang syahdu, bahwa kesemua yang ada dalam alam liar itu merupakan bagian dari kemurnian alam semesta kita. alam liar seperti hutan merupakan refleksi kemurnian alam, dimana kita dapat merasakan udaranya, tanahnya, daun-daunnya dan setiap penghuni yang ada di dalamnya, ada suatu bentuk keindahan spiritual menyatu dengan alam semesta, the mother of nature. bukan kemudian kita malah merasa takut dan cekam. selama kita dapat menerimanya, dan menghargai sesama makhluk Allah, niscaya tidak akan terjadi sesuatu yang buruk. selama kita berserah kepada Allah, salah satu keberserahan diri kita yang menyatu dengan alam. 

Minggu, 01 Juli 2012

Positif dan Negatif

Sebagai manusia kita memiliki berbagai macam emosi yang dapat kita rasakan. Setiap emosi yang kita rasakan dalam diri kita terpengaruh oleh berbagai peristiwa yang kita hadapi dalam keseharian kita. Perasaan senang, sedih, haru, kecewa, senang+sedih, kecewa+gembira dll. Aneh mungkin apabila melihat saya menuliskan sebuah ungkapan perasaan dalam bentuk dua emosi menjadi satu, bahkan keduanya saling bertolak belakang, namun pada kenyataannya kita sering merasakannya dalam keseharian. Banyak orang kemudian menyebut perasaan tersebut sebagai sebuah perasaan yang campur aduk. Mungkin orang ini baru saja memperoleh promosi jabatan, atau mendapat pasangan baru, atau bisa juga baru saja ditinggalkan oleh pasangannya (jangan berpikir kalau ini terjadi pada saya ha ha ha ha ), tapi itulah berbagai peristiwa yang selalu terjadi di sekeliling kita. Luapan emosi yang begitu besar, bisa menjadi suatu yang tak dapat dijabarkan dengan hanya sebuah kata atau kalimat. ya mungkin untuk orang-orang yang memiliki kemampuan imajinasi lebih dapat menuangkannya dalam bentuk syair, puisi, lagu, lukisan, drama, tarian, dan berbagai bentuk seni lainnya, namun itu hanyalah sebuah refleksi, bahkan mungkin hanya sebuah metafora, yang diciptakan untuk menggambarkan atau bahkan melebihkan luapan emosi yang sebenarnya. Bagaimanapun perasaan luapan emosi yang sebenarnya tidaklah dapat terdefinisikan, seperti kebanyakan orang akan berkata, "tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata."

Luapan emosi ini mungkin tidak dapat terdefinisikan, namun dapat termanifestasikan dalam bentuk tindakan kita. Berteriak, menangis, tertawa, tersenyum, mengerutkan dahi, mengusapkan tangan, menggerakkan kaki dengan cepat, melempar barang, menuliskan sesuatu di laman jejaring sosial atau bahkan hanya terdiam dan menerawang. Setiap bentuk manifestasi yang kita keluarkan akan memperlihatkan pancaran energi yang nampak di hadapan orang lain. Baik langsung atau tidak, pancaran tersebut akan berpengaruh pada orang lain pula. Saya percaya bahwa, setiap luapan emosi memang tidak sepantasnya untuk dipendam, namun bagaimana kita menata luapan emosi kita menjadi suatu hal yang dapat memancarkan energi yang baik. tidak selamanya ketika kita marah, kita harus berteriak-teriak atau menghancurkan barang-barang, daripada melakukan itu kita dapat melakukan hal lain, seperti duduk dan meminum segelas air alih-alih kita membanting gelas tersebut, atau bernyanyi lagu rock alih-alih kita beteriak mengumpat. Oke mungkin kata dan kalimat saya terbaca terlalu naif, tapi kenapa kita harus memandang sesuatunya buruk terlebih dahulu alih-alih suatu hal yang positif. Orang mau berbuat baik selalu prasangka buruk terlebih dahulu yang muncul, orang ingin melakukan sesuatu yang positif dikatakan naif, dan akan ditambah dengan kata-kata "ini dunia realita bukan infotainment". Ha ha ha ha ha ha ha . . . tapi dipikir-pikir saya berprasangka buruk juga dong kalo saya bilang "orang" akan berkata naif, lihat maksud saya kan, saya berprasangka pada si "orang". Ya memang saya akui memang kehidupan ini tidak selamanya indah, itu memang sebuah konsekuensi, keburukan sudah menyatu dengan keindahan itu sendiri, tapi kalau keindahan terasa lebih nyaman mengapa kita fokus pada keburukan, yang kita tahu kita tidak dapat menolaknya juga, jadi tidak usah memikirkan atau merisaukan suatu hal yang pasti kita rasakan. Nikmati sajalah.

Sabtu, 16 Juni 2012

Renungan 2012

Manusia hidup dalam suatu kehidupan yang terus bergerak. Konsepsi ruang dan waktu tidak dapat terlepas dalam kehidupan manusia. Suatu perjalanan selalu meninggalkan apa yang sudah terlewat di belakang, dan di saat yang sama telah menunggu sebuah jalan yang harus ditapaki. Jalan itu bukanlah jalan yang kosong, banyak hal yang menghiasi dan meramaikannya. Apa yang menunggu di sana ada yang berupa kesenangan tentu pula ada yang berupa kemalangan. Apapun yang ada di sana, saya harus tetap terus berjalan. 
Di titik dimana saya berada sekarang, saya bersyukur, telah diberikan kesempatan untuk hidup, menjalani kehidupan ini dengan penuh berkah dan nikmat. Sudah banyak sekali hal yang saya dapatkan dalam perjalanan saya selama 23 tahun. Pengetahuan adalah anugerah yang sangat berarti bagi saya. Allah telah memberikan saya akal dan hati untuk digunakan mempelajari apa yang saya temui dalam setiap langkah perjalanan kehidupan saya hingga saat ini. Pelajaran dan pengetahuan yang saya dapatkan, membuat saya semakin merasa terberkahi, membuat saya semakin sadar bahwa saya hanyalah makhluk kecil tak berdaya yang hidup di jagat maha luas. Saya sungguh merasa beruntung mendapatkan nikmat pengetahuan tersebut, yang saya sadar itu bahkan tidak lebih besar dari setitik neutron dalam atom. Jalan yang akan saya hadapi selanjutnya merupakan sebuah keniscayaan, namun apa yang menjadi pernik dan hiasannya masihlah rahasia dan misteri Tuhan, saya hanya harus menapakinya saja. Meski demikian saya percaya bahwa apa yang akan muncul menjadi pernik perjalanan saya itu juga bergantung pada apa yang saya pikirkan dan saya inginkan pada saat ini. Apa yang menjadi harapan saya adalah di setiap langkah perjalanan saya, saya akan terus mendapatkan pengetahuan baru yang mendekatkan saya pada Tuhan, keluarga, sahabat, teman dan masyarakat. Saya ingin perjalanan saya dimeriahkan dan diramaikan oleh tawa-tawa, senyuman, dan tangis bahagia orang-orang disekitar saya. Saya ingin menjadi sosok yang selalu membawa dampak positif. Saya ingin setiap dimana saya berdiri dan setiap langkah saya dalam jalan tersebut dapat meniggalkan atau bertumbuhan rumput-rumput hijau, bunga-bunga harum penuh warna, dan pepohonan yang meneduhkan bagi orang-orang yang perjalanannya bersama dengan saya atau untuk yang masih ada di belakang saya. Saya percaya bahwa setiap ada aksi pasti ada reaksi. Energi positif yang ingin saya tebarkan, kelak pasti kembali pada saya. Saya tidak tahu apakah jalan saya itu masih panjang atau tidak, yang saya tahu bahwa tidak ada sebuah akhir untuk perbuatan baik. Itulah yang menjadi doa dan harapan saya. 

Selasa, 29 Mei 2012

Men In Black 3 (Time Travel)




Men In Black merupakan film science fiction yang berceritakan mengenai  sebuah agen rahasia di Amerika yang menangani permasalahan hubungan antar galaksi dan alien yang ada di jagat raya. Institusi ini merupakan pengontrol dan pembuat regulasi mengenai hubungan antara galaksi, ya semacam badan imigrasi antar galaksi. Para agennya berpakaian setelahn hitam dan sangat menjaga identitasnya, bahkan keberadaan mereka dianggap tidak eksis, oleh karena itu disebut dengan men in black. Baru-baru ini dirilis sequel film men in black yang ketiga, film ketiga ini juga terdapat versi 3D nya, yang menyajikan sebuah pengalaman menonton film terasa lebih nyata. Sequel film ketiga ini masih dibintangi oleh aktor berbakat Will Smith yang berperan sebagai agen J, dan  aktor senior Tommy Lee Jones yang berperan sebagai agen K. Pada sequel film ketiga ini bercerita mengenai kaburnya seorang penjahat alien yang dijuluki Boris the animal (Boris si buas ) dari penjara yang terdapat di bulan. Boris the Animal merupakan alien yan berasal dari planet Blogodite, alien-alien yang berasal dari planet ini terkenal dengan sifatnya yang kejam dan sering menghancurkan planet-planet di berbagai galaksi. Boris  tertangkap 1969 oleh Agen K ketika berusaha ingin menguasai dan menghancurkan bumi, 40 tahun kemudian Boris berhasil kabur dari penjaranya, selain ingin melanjutkan misinya Boris juga ingin melakukan balas dendam kepada Agen K, karena telah menangkapnya dan menghilangkan satu lengan si Boris ketika mereka terlibat dalam perseteruan penangkapan.
Terdapat hal yang baru dalam kisah sequel Men in Black 3 ini dibandingkan sequel-sequel sebelumnya dalam Men in Black dan Men in Black 2 dari sisi tema cerita. Pada sequel-sequel sebelumnya kisahnya tidak jauh berbeda, yakni kisah mengenai seorang alien yang datang ke bumi mengejar sesuatu dan bertujuan untuk dapat menguasai baik suatu planet maupun jagat raya. Dalam sequel ketiga terdapat tema cerita yang sama pula, tentang seorang alien yang ingin mendapatkan sesuatu kemudian menggunakannya untuk menghancurkan planet Bumi. Hal yang baru adalah dalam film ketiganya ini dimasukkan tema cerita perjalanan waktu, yaitu ketika Boris the Animal menggunakan sebuah alat perjalanan waktu dan kembali ke tahun 1969 ketika dia berusaha menghancurkan Bumi dan berhadapan dengan agen K. Boris the Animal berencana untuk bekerja sama dengan Boris the Animal yang ada pada tahun itu untuk menjalankan misi utamanya dan untuk membunuh agen K. Rencanannya sempat berhasil karena sejarah pada masa kini berubah, dan ini dirasakan oleh rekan agen K pada masa sekarang, agen J. Pada masa sekarang agen K sudah meninggal 40 tahun lalu, padahal malam sebelumnya (sebelum sejarah berubah) agen J bercakap-cakap dengan agen K melalui telepon. Ketika keesokan harinya agen J ingin menemui agen K dirumahnya, ternyata rumah agen K ditinggali oleh keluarga asing yang tidak dikenalnya. Ketika agen J mencarinya di kantor MIB pun tidak ada yang kenal dengan agen K. Dari pimpinan baru MIB, agen O, akhirnya terungkap bahwa agen K sudah meninggal 40 tahun lalu, dan pada realitas yang sekarang tidak ada yang pernah bertemu dengan agen K selain kerabat-kerabat seangkatannya. Kematian agen K pada tahun 1969 membawa akibat yang cukup serius bagi Bumi 40 tahun kemudian. Boris the Animal pada tahun 1969 berhasil membunuh agen K dan berhasil mencegah agen K untuk memasang sebuah “perisai” pada atmosfir Bumi, bangsa Boglodite pun tidak punah serperti yang seharusnya. Hal ini membuat bangsa Boglodite akan menyerang Bumi, Bumi pun diambang kehancuran. Agen J satu-satunya orang yang dalam posisi mengerti “apa” yang sedang terjadi akhirnya ditugaskan untuk mencegah Boris the Animal untuk membunuh agen K pada tahun 1969 dan mencegah kehancuran Bumi. Agen J pun menggunakan alat perjalanan waktu yang sama yang digunakan Boris the Animal untuk kembali ke masa 40 tahun yang lalu. Film ini dipenuhi dengan aksi dan unjuk teknologi tingkat tinggi baik yang ada di masa sekarang atau masa di tahun 1969 dan tentunya dibumbui dengan tingkah-tingkah jenaka  Will Smith seperti film-film sebelumnya yang berhasil mengocok perut penonton.
Tema mengenai perjalanan waktu selalu menarik untuk diangkat ke dalam sebuah cerita film. Beberapa film sudah banyak yang mengangkat tema cerita seperti ini, sebut saja seperti, Time Machine, Sequel Back to the Future, Timeline bahkan sebuah anime Jepang era akhir tahun 70an (yang sampai sekarang masih disukai baik oleh penonton anak-anak maupun dewasa) yang cukup juga mengangkat tema cerita perjalanan waktu yaitu Doraemon. Meskipun cerita perjalanan waktu hanyalah sebuah kisah sains fiksi namun sampai sekarang masih banyak yang memperdebatkan mengenai konsep perjalanan waktu, baik orang awam, penikmat film, atau bahkan para ilmuwan fisika, karena tema perjalanan waktu ini muncul dari teori-teori fisika yang berkembang, seperti teori  relativitas dan loncatan kuantum (ya saya memang tidak terlalu paham dengan konsep-konsep tersebut). Ada salah satu konsep dalam perjalanan waktu yang manarik bagi saya yaitu konsep mengenai Time Paradox (Paradoks Waktu).
Time paradox merupakan fenomena yang terjadi akibat adanya perjalanan waktu. Ada banyak ide yang menjelaskan mengenai time paradox ini. Dalam film Back the Future Dr. Emmett Brown menjelaskan bahwa, apabila kita melakukan perjalanan ke masa lampau dan merubah seuatu maka dapat tercipta sejarah baru, namun eksistensi sejarah dan waktu kita pun masih ada, sehingga terciptalah sejarah pararel.
Besarnya perubahan yang terjadi tergantung dari besarnya pengaruh yang diberikan, contohnya apabila kita kembali ke masa lampau kemudian membunuh calon ayah kita maka eksistensi  kita dalam sejarah baru ini sesungguhnya tidak ada. Contoh lain ada dalam kisah terakhir (bukan cerita official) yang kabarnya dibuat oleh salah seorang penggemar anime Doraemon. Diceritakan  dalam kisah itu bahwa Doraemon mati karena kehabisan sumber energinya. Kematian Doraemon memicu Nobita untuk menjadi seorang ilmuwan, dan berusaha untuk mengetahui bagaimana caranya menghidupkan Doraemon kembali, karena seperti kita tahu Doraemon adalah robot yang berbentuk kucing yang berasal dari abad ke 22 yang dikirim oleh cucu Nobita, yang bertujuan untuk membantuk kakeknya agar tidak menjadi orang bodoh seperti realitas yang dihidupi oleh si cucu. Kemudian dalam beberapa dialog muncul konsep paradoks waktu yang dikemukakan oleh teman Nobita Dekisugi. Dia mempertanyakan mengenai kapan akan datangnya masa dimana Doraemon berasal, padahal di sisi lain Doraemon ada dalam realitas baru yang berbeda dari realitas darimana sebenarnya asal Doraemon.
Konsep paradoks waktu ini tampaknya tidak terlihat dalam film MIB 3, ada perubahan sejarah namun tidak menciptakan sejarah pararel. Hal ini disebabkan Agen J masih dapat mempertahankan realitas sebelumnya, dan bahkan pada sejarah realitas yang baru realitas lamanya masih dapat bertahan. Ini mungkin bukan sesuatu yang baru, tapi bagi saya ini adalah sesuatu yang baru, dan saya masih belum memperoleh penjelasan bagaimana hal itu bisa dilakukan, atau kemungkinan lain pemahaman saya yang sangat sedikit mengenai hal ini, dan saya yakin kemungkinan yang terakhirlah yang paling kuat. 

Jumat, 11 Mei 2012

Jalinan Kasih


Baik, sekarang saatnya saya untuk meracaukan sesuatu hal yang mungkin bisa dikatakan tidak terlalu penting tetapi kadangkala racauan ini patut untuk direnungkan untuk diri sendiri ;P
Sudah sekian lama saya memikirkan hal ini, sampai-sampai saya menulis beberapa tulisan ngalor-ngidul ga jelas yang membahas tentang ini. pertama yaitu, apa sebenarnya perasaan cinta itu. hingga saat ini saya belum dapat mengerti dan merasakan what is true love mean, oke mungkin dalam hubungan antara manusia yang saling mengenal I mean family relationship cinta mungkin suatu perwujudan rasa kasih dan sayang yang menghasilkan suatu energi positif bagi diri dan orang yang kita sayangi, it's such an explicit things I guest. tapi yang jadi pertanyaan saya adalah perasaan cinta yang dialami oleh dua insan manusia yang berlainan jenis dan memiliki latar belakang keluarga yang berbeda. sampai detik ini saya belum dapat memastikan apa yang sebenanya saya rasakan terkait dengan masalah ini. My first wishes are, to find what is true love mean ? and I belieave it'll come straightly and I'll know it when it comes. 
pertanyaan kedua adalah seberapa besarkah kemampuan manusia untuk mewujudkan keinginannya, hanya dengan mendaya gunakan semua kekuatan pikiran positifnya. dalam sanubari terdalam saya percaya bahwa selama kebaikan melingkupi diri maka segala pemikiran yang tak mungkin sekalipun dapat terwujud. Insha ALLAH. so keep think positive whathever it takes, just dream and ask then it'll be given. It's my second wishes any way ;)
pertanyaan ketiga adalah, seberapa besarkah lengan Tuhan jika Dia ingin memeluk hambanya ? disetiap perjalanan insan manusia pasti ada saat-saat dimana dia merasakan dingin dan kehampaan dalam dirinya. mungkin dia bisa saja mengisi kehampaan itu dengan berbagai cara yang dia temukan di dunia, tapi ketika dia sendiri kekosongan dan dingin itu selalu kembali dan merasuk dalam jiwa dan raga. dan sesungguhnya manusia tidak pernah sendiri karena Tuhan selalu ada dan rela menghabiskan waktu bersama dengan kita. saya percaya akan hal ini, kapanpun kita membutuhkannya, Tuhan selalu membuka lengannya untuk merengkuh diri kita, mengisi kekosongan dan memberi kehangatan dalam setiap langkah dalam hidup ini. permohonan saya yang ketiga adalah, bisa berada dalam pelukan Tuhan diamanapun berada dan kapanpun saya ada, because God never sleep . . . 
penuhi hidup ini dengan Berkah dan kasih Allah, tak satupun di dunia ini yang luput dari perhatiannya. bagikan semua kebahagian di dunia ini, dengan selalu memberikan kasih dan sayang pada setiap makhluk-Nya. 

Putih & Hitam


Ada banyak kebaikan dalam kehidupan manusia. Tawa, senyum, dan guratan kecerahan yang muncul dari setiap wajah manusia menggambarkan betapa kebahagian dan kebaikan begitu indah, muncul dari sanubari terdalam hati manusia. Sensasi perasaan yang muncul ketika manusia merasakan kebahagian, sungguh telah dapat membentuk sebuah energi positif yang dapat mendorong terciptanya berbagai hal yang terlihat tidak mungkin. Negara Indonesia, misalnya, dapat meraih kemerdekaan di tengah situasi yang krisis, hal ini dapat terjadi karena para pendiri bangsa sangat mendambakan sebuah kebebasan, yang mana kebebasan ini, dikejar karena setiap manusia Indonesia menginginkan sebuah kebahagiaan. Begitu meriah dan gegap gempita, ketika rakyat tahu bahwa bangsanya telah merdeka. Sekelumit kisah tersebut menggambarkan bagaimana sebuah kebahagian sungguh dapat menghasilkan energi yang besar. Namun di sisi yang lain, di dunia ini ada juga “makhluk” yang disebut dengan kesedihan. “makhluk” ini merupakan lawan dari kebahagiaan. Pertanyaannya adalah, mengapa Tuhan menciptakan kesedihan atau kemalangan apabila manusia diperintahkan mengerjakan kebajikan untuk mendapatkan kebahagiaan. Jawaban yang sering kali muncul adalah, apabila tidak ada kesedihan maka kita tidak akan pernah merasakan seperti apa yang namanya kebahagiaan. Baik, jawaban ini memang paling masuk akal, dan memang begitulah adanya. Tapi permasalahannha kini adalah, mengapa, manusia lebih memiliki kecenderungan untuk memfokuskan dirinya dengan kemalangan yang mungkin terjadi. Dalih yang sering terlontar untuk menjawab pertanyaan itu adalah, kita harus siap apabila hal paling buruk terjadi. Oke, ini pun jawaban yang masuk akal, karena kita harus selalu bersikap waspada dan hati-hati. Tetapi, yang terjadi adalah, manusia, terlalu berfokus pada kemalangan yang mungkin terjadi daripada kesenangan atau kebahagiaan yang dikejarnya. Manusia terlalu banyak pertimbangan ketikan akan melakukan sesuatu, dan pertimbangan yang selalu dilontarkan adalah hal-hal yang tidak menyenangkan, seperti, “aku ingin, jalan-jalan ke Paris, ah tapi mana mungkin, aku tidak punya cukup uang, atau kalaupun aku punya dana, bagaimana nanti dengan pekerjaan yang kutinggalkan.” itu hanyalah sekedar contoh, masih banyak hal-hal lain dalam keseharian kita yang serupa dengan itu. Sekarang mengapa kita tidak memfokuakan saja apa yang menjadi keinginan kita dan dapat membuat hati kita bahagia. Bukan berarti kita hanya memikirkan kebahagiaan maka kita melupaka kemalangan yang mungkin terjadi. Sebenarnya dengan kita berfokus pada apa yang kita inginkan, kita tidak perlu lagi memikirkan kemalangan yang mungkin terjadi, karena dengan kita memfokuskan pikiran kita kepada apa yang kita inginkan kita sudah siap dan berkomitmen menerima resiko apapun yang mungkin terjadi. Kesedihan atau kemalangan, tidak dipungkiri memang benar adanya, tetapi kita harus ingat, bahwa kesedihan dan kemalangan ada justru untuk membuat kita merasakan kesenangan dan kebahagiaan bukan sebaliknya. Jadi jangan pernah ragu melakukan, apa yang hati kita inginkan. Melangkahlah dengan keyakinan dan kemantapan untuk meraihnya. Lepaskan segala beban(kemalangan & kesedihan) dalam pikiran kita, maka kebahagiaan yang kita fokuskan pun pasti akan kita raih. 

Pasrah



Terlahir menjadi seorang yang memiliki sifat dasar Pasrah atau dalam bahasa Jawa nrimo menimbulkan berbagai macam pro dan kontra. Sebagian banyak orang pasti akan beranggapan sikap pasrah atau nrimo hanya dimiliki oleh orang-orang yang lemah, karena mereka terlalu takut atau tidak memiliki daya upaya untuk mengadakan perlawanan, bahkan untuk memperjuangkan dan mempertahankan hidupnya sendiri. namun selain sikap skeptikal seperti itu, masih banyak juga orang yang beranggapan bahwa sikap pasrah atau nrimo ini merupakan perwujudan dari sikap berserah yang dalam titik tertentu justru membangkitkan kekuatan yang begitu besar untuk menggeser gunung sekalipun—oke agak berlebihan memang—tapi begitulah setidaknya gambaran dari sikap berpasrah bagi sebagian orang.
Saya termasuk orang yang menganut mahzab yang kedua. Mungkin apabila dilihat dengan nalar logika pemikiran bahwa sikap pasrah itu justru menghasilkan kekuatan besar adalah suatu kemustahilan. Namun saya percaya bahwa ada kemampuan lain dalam diri manusia yang jarang sekali disentuh oleh kebanyakan orang, yaitu kemampuan untuk merasa dan menyadar. Manusia sudah terlalu lama terjebak dalam ruang objiektivitas, dimana sesungguhnya ruang itu berada diluar diri. Hal ini menyebabkan manusia selalu memposisikan diri diluar objek yang dilihatnya bahkan ketika manusia melihat dirinya sendiri. dalam melihat dirinya sendiri seolah dia sedang melihat suatu benda aneh yang berada jauh dan tak pernah dilihatnya. Inilah yang menyebabkan manusia kehilangan kemampuan merasa dan menyadarnya.
Lantas apa hubungannya dengan pasrah. Pasrah adalah kondisi dimana seluruh diri ini sadar dan dapat merasakan bahwa ada kekuatan besar yang dapat menuntun setiap langkah kita dalam menggapai tujuan. Pasrah adalah kondisi dimana diri kita dengan sengaja membiarkan segala sesuatunya berjalan dengan sendirinya. Tidak ada perlawanan dalam diri itu, untuk menghambat mengalirnya energi dalam setiap relung tubuh dan alam semesta. Dalam memaknai pasrah itu sendiri, bukanlah berarti tak berbuat apapun, tapi lebih pada melepaskan beban dari harus mencapai tujuan. Ini hanya dapat dirasakan dengan rasa dan dalam keadaan sadar. Pasrah adalah sebuah bentuk penerimaan dan kesiapan diri untuk memperoleh apa yang memang pantas untuk diri.

Celotehan pemikiran (sambungan Symbols)


Dalam tulisan sebelumnya yang berjudul Symbols, saya mengemukakan masalah pengertian Cinta, dan simbol-simbol dalam masyarakat manapun yang seolah menjadi batasan-batasan manusia untuk bertindak. 
yang saya kemukakan mengenai Cinta adalah suatu perasaan yang universal dimana setiap makhluk Tuhan pasti dapat merasakannya, dan setiap makhluk Tuhan pun memiliki definisi yang berbeda.
Kali ini saya ingin membahas mengenai bentuk hubungan yang dijalani oleh manusia. kita semua tahu bahwa setiap manusia di dunia ini pasti menjalin hubungan dengan manusia lain bahkan makhluk Tuhan yang lain. sudah banyak teori yang menjelaskan alasan mengapa manusia pasti berhubungan dengan manusia lain. ada yang mengatakan untuk pemenuhan kebutuhan, ada pula yang mengatakan untuk kepentingan regenerasi manusia itu sendiri dsb. bahkan Tuhan pun sudah menuliskannya dalam Kitab Suci Al-Quran : 
Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa di sisi Allah. “[al-Hujurat:13].
dari petikan Surat tersebut menjelaskan bahwa manusia memang sudah ditakdirkan untuk saling berhubungan, dan masih banyak ayat-ayat Al-Quran yang menjelaskan hal serupa, tapi saya tidak akan membahas permasalahan ayat-ayat itu. yang ingin saya bahas disini adalah mengenai kebutuhan manusia akan sesuatu yang lain yang dapat membantunya mengaktualisasikan dirinya di dunia ini. 
dalam kehidupannya manusia selalu memiliki kemampuan untuk berpikir dan mendefinisikan dirinya sendiri bahkan apa yang ada diluar dirinya. hal itu dilakukan di dalam benak dan pikiran manusia itu sebagai seorang individu. sampai disini manusia memiliki kemerdekaan atas dirinya sendiri (terlepas dari apakah pemikirannya terpengaruh oleh apa yang ada di luarnya), di sini manusia bebas menghasilkan pikiran seperti apapun. 
terkait dengan masalah ini, kemudian manusia mengungkapkan pikirannya ke "dunia" melalui tidakan-tindakan dan sikapnya, mulai dari sini semua pemikirannya teraktualisasikan dan dibenturkan dengan berbagai bentuk simbol, dapat berupa nila, aturan, norma dsb. yang mulai membatasi diri manusia. baik sampai disini kesimpulan sementaranya adalah bahwa manusia bertindak dan bersikap dicoba untuk tidak melampaui batas. 
kembali pada permasalahan Cinta. Cinta adalah hasrat atau pemikiran yang universal, yang seharusnya tidak dibatasi oleh simbol-simbol produksi masyarakat. ketika seseorang ingin memnuhi hasrat mencintai atau dicintai oleh sesama manusia, lebih khusus yang berlawan jenis, seharusnya masing-masing orang tersebut memiliki kebebasan untuk saling mengaktualisasikan pemikiran dan hasratnya pada orang yang dicintainya sebagai pasangan hidupnya. 
pernikahan merupakan salah satu institusi hubungan manusia, yang pada kenyataannya merupakan perwujudan simbol dari hubungan manusia, yang memiliki serangkaian aturan-aturan dan nilai di dalamnya. berbagai aturan-aturan dan nilai ini juga yang menciptakan semacam syarat-syarat seseorang akan menjalani pernikahan, yang kemudian orang tersebut dikatakan pantas dan siap untuk menikah. jadi sekali lagi manusia seolah-olah dibatasi hanya untuk sekedar mengaktualisasikan hasrat atau pemikirannya untuk menjalin hubungan dengan lawan jenisnya. 
aturan dan batasan ini untuk kebaikan tentunya, yang katanya agar manusia tidak melampaui batas. tapi tidakkah kita boleh untuk mendapatkan ruang gerak yang lebih longgar dengan tidak selalu membenturkan tindakan dan sikap kita dengan berbagai smbol dan nilai . . . biarlah langkah ini berjalan tanpa harus ragu untuk melakukan apa, biarlah benak ini terus berputar dan menemukan kebenaran dengan jalan yang telah dipilihnya . . .
bukan bermaksud untuk tidak menerima aturan dan nilai yang ada tetapi berusaha untuk menelaah kembali apakah semua yang terkonstruksi sekarang ini memang sudah pantas . . .

Symbols

Kebanyakan orang memiliki pendapat yang sama mengenai kata dan perasaan Cinta, setidaknya setiap orang memiliki pemaknaan yang sama akan apa arti Cinta. Ini merupakan bentuk ekspresi emosi manusia yang paling universal, dan telah banyak memberikan energi positif. Pemaknaan dari Cinta itu sendiri selalu unidentified, itulah yang menyebabkan pemaknaan Cinta tidak terbatas oleh simbol-simbol tertentu. Cinta selalu dapat melampaui batasan-batasan simbolisasi kehidupan. Saya hidup dalam lingkungan sosial yg selalu membatasi ruang-ruang kehidupan dengan berbagai simbol. Aturan-aturan tradisi adalah salah satunya, dan yang paling berpengaruh. Keterlepasan simbol-simbol itu terasa begitu sulit. to be continued . . . .

Budaya pe"RanendahDiri"


Dalam menjalin hubungan dengan orang lain dan masyarakat selalu akan ada pola interaksi yang terbentuk. pola ini merupakan hasil dari kebiasaan dan repetisi aksi yang dilakukan seseorang atau masyarakat. ada berbagai pola interaksi yang terbangun dalam setiap masyarakat. karakteristik setiap pola ini pun akan berbeda menyesuaikan konteks kehidupan masyarakatnya. berbicara mengenai pola interaksi yang terjadi dalam masyarakat, menarik untuk diperhatikan pola interaksi pergaulan yang ada di sekitar kita (terutama masyarakat di sekitar Saya). bahwa ada yang di(Saya)sebut sebagai budaya pe"rendahdiri"an. budaya ini sering terlihat saat seseorang berinteraksi dengan orang lain atau bahkan di dalam keluarganya sendiri. budaya pe"rendahdiri"an adalah saat dimana seseorang selalu diposisikan atau dianggap rendah dari realita atau harapan yang sebnenarnya. mungkin ada teori psikologis atau sosiologis yang lebih komprehensif membahas mengenai masalah ini, namun yang Saya ungkapkan disini hanyalah berdasarkan dari pengalaman yang Saya lihat dan rasakan, tanpa merujuk pada suatu teori tertentu, dan tidak memiliki tendensi untuk melakukan upaya plagiarisme, jika memang sudah ada yang pernah membahas ini secara akademis. 
baik, kembali ke masalah budaya pe"rendahdiri"an tadi. motif yang mendasari adanya budaya ini bisa berbagai macam, beberapa kemungkinan yang dapat Saya kemukakan adalah. pertama, ini hanyalah sebuah bentuk candaan dalam proses berinteraksi, yang mana tujuan dari candaan ini hanyalah sebatas ingin membangun suasana yang tidak kaku. kedua, budaya ini dilakukan karena bertujuan untuk meningkatkan motivasi seseorang untuk melakukan hal yang lebih baik. ketiga, budaya ini merupakan suatu bentuk rasa ketidak percayaan seseorang atau masyarakat terhadap kemampuan seseorang atau bisa juga orang yang melakukan tindakan pe"rendahdiri"an ini ingin menyampaikan realitas sesungguhnya atas keadaan yang dihadapi oleh orang lain.  beberapa kemungkinan ini sama-sama memiliki tingkat ke"serius"an yang rendah, dalam arti pada dasarnya budaya pe"rendahdiri"an ini diungkapkan hanya sambil lalu saja, tanpa ada tanggapan yang serius. beberapa contoh sikap masyarakat atau seseorang yang melakukan budaya pe"rendahdiri"an sebagai berikut
A: Lagi ngapain lu ?
B: Lagi Belajar buat ujian besok
A: Hahahahaha . . Apa, belajar, ngapaaain, mau belajar kaya apa juga tetep aja lu bakal ngulang
B: he hehe . . (terkekeh miris, antara ingin membenarkan perkataan si A atau tetap percaya pada pendiriannya) << contoh ini memang agak sedikit berlebihan, tapi tak jarang orang yang pernah mengalaminya, dan tak jarang pula orang yang menanggapi serius interaksi yang terjadi tadi. lingkungan yang seperti ini, walaupun mungkin maksud manusia jenis si A hanyalah bercanda, namun telah membawa suatu aura atau dampak yang negatif. contoh kejadian lain tapi serupa yang terjadi di lingkungan keluarga,
pada suatu malam di ruang makan berkumpullah semua anggota keluarga yang sedang makan malam, ada ayah, Ibu, kakak dan adik, suatu perbincangan pun terjadi :
Ibu : mami denger dari toni tadi di sekolah kamu terpilih jadi ketua osis ya dek ?
sebelum sempat menjawab, sang kakak pun langsung menyambar 
Kakak : HAAAAAAAAAAAAAh APAAAAAA HAHAHAHAHA . . anak tengil, item, ingusan, yang bisanya ngegrocokin urusan orang gede aja ini jadi ketua osis, ga mungkiiin . . mau jadi apa tuh osis kalo kamu jadi ketuanya HAHAHAHAHA (tertawa puas yang melecehkan)
Adik : . . . -___-
oke, sekali lagi contoh di atas terlau berlebihan. tapi sekali lagi banyak orang yang mengalami kejadian yang serupa. situasi-situasi yang terjadi seperti contoh tersebut, baik disadari atau tidak telah mengakar pada masyarakat kita dan bisa dikatakan telah membudaya. memang mungkin situasi ini hanya banyak terjadi di lingkungan pergaulan diluar keluarga terutama pertemanan. seperti yang sudah Saya kemukakan, budaya ini secara periodikal dapat berdampak negatif, karena budaya ini sangat sarat dengan sikap pesimistik.
disadari atau tidak apabila situasi seperti contoh di atas berlangsung cukup panjang dalam kehidupan seseorang, maka tidak menutup kemungkinan, bahkan besar kemungkinan orang tersebut, akan selalu memandang dirinya bahkan kehidupan itu selalu sulit dan membutuhkan suatu perjuangan yang sangat keras untuk memperoleh harapan tertentu dan celakanya pandangan akan sesuatu yang selalu di lihat sulit, membuat orang tersebut menjadi terbebani dalam menjalani segala sesuatunya. jarang sekali orang yang merasa selalu senag dan ringan dalam melakukan sesuatu. dan ketika dia gagal melakukannya, maka banyak pembenaran dalam pandangan dan pikirannya akan kegagalannya itu, yang merupakan akumulasi dari berbagai bentuk pe"rendahdiri"an yang diterimannya sejak lama. hal inilah salah satu yang menyebabkan manusia ketika berada pada situasi kegagalan, dirinya merasa amat sangat terpuruk. 
mungkin ada sebagian orang yang akan mengatakan, kalau tidak dibegitukan, nanti dia akan menjadi sombong dan tamak, lupa bahwa kemampuannya merupakan pemberian dari yang maha Kuasa. << sekali lagi ini sudah menjadi sebuah prasangka (yang artinya belum tentu benar) buruk, dan menunjukkan sikap pesimistik. 
maka labih baik kita membangun budaya yang positif untuk menghasilkan suatu hasil yang positif baik bagi diri kita, orang lain dan lingkungan. berfokuslah pada apa yang baik, bukan sebaliknya. dan apabila yang terjadi yang sebaliknya, maka hadapilah dengan sikap yang sebaliknya. So Be Positive ever after :D
-Vicianto Kurnia Putra-

Kamis, 10 Mei 2012

Journey


Pada setiap perjalanan pasti akan mengarah kepada sebuah tujuan. Seperti halnya vektor dalam fisika, sebuah gerak pasti akan bergerak kepada sebuah arah. Namun arah atau tujuan itu tidak selalu sudah ditentukan. Bisa saja sesuatu bergerak karena adanya perbedaan tekanan, seperti angin, yang merupakan udara yang bergerak akibat adanya perbedaan tekanan dari dua tempat yang berbeda. Angin selalu bergerak dari tempat yang bertekanan udara tinggi ke tempat yang bertekanan udara rendah. Namun bagaimanapun perjalanan itu, selalu akan sampai pada sebuah akhir, ketika tidak perlu ada perjalanan lagi. Perjalanan selalu berbatas, dan batas itu adalah waktu. Waktu selalu menjadi batas ukur, ketika setiap orang mengatakan kata "sampai" terkandung dalam konsep kata itu mengenai batas waktu. Apabila kita berada pada sebuah ruang yang tidak memiliki batas waktu maka sudah tidak ada lagi perjalanan, karena kita sudah tak lagi bergerak. 
Pada setiap perjalanan selalu akan ada banyak hal yang ditemui dan dihadapi, karena kita tidak berjalan dalam ruang yang kosong. Kehidupan ini bukan ruang hampa, kehidupan ini adalah isi. Andaikan kita sedang melakukan perjalanan mendaki gunung, kita akan melewati hutan, kita akan melewati sungai, kita akan melewati tebing. Saat berjalan itu mungkin sungai merupakan masalah bagi kita, tapi kita hanya melewatinya, dan kita pasti akan lewat, dan terus berjalan, masuk ke hutan, di dalam hutan kita bertemu pokok pohon yang tumbang, mungkin memperlambat jalan kita, tapi kita melewatinya, dan kita pasti lewat dan terus berjalan. Perumpamaan lain, andaikan kita berjalan dari rumah menuju warteg. Dalam perjalanan kita bertemu anjing galak, kita dikejarnya sehinnga harus melewati jalan yang memutar, kita melewatinya, dan kita pasti lewat dan terus berjalan. setelah kita hampir sampai di warteg, tiba-tiba kita sadar dompet kita ketinggalan di rumah, kita harus kembali lagi, kita melewatinya, dan pasti kita lewat dan terus berjalan. Seberat apapun sesuatu yang ada di hadapan kita saat ditengah perjalanan, tidak akan menghentikan langkah kita untuk terus berjalan. Karena semua itu hanya akan kita lewati, sebagian akan meniggalkan kesan pada diri kita, sebagian lain ya hanya lewat. Kenapa harus risau, kalau semua itu hanya akan kita lewati. Kehidupan bukan sesuatu yang ada dalam pertengahan perjalanan itu, Kehidupan adalah keseluruhan perjalanan dengan sesuatu-sesuatu yang ada di dalamnya. untuk apa terlalu berfokus dan terbebani dengan sesuatu itu, apabila kita memiliki semuanya. yang kita lakukan hanyalah melewatinya, dan kita pasti lewat dan terus berjalan.